Perbandingan Ekstrak Biji Pinang Terdelipidasi dan Non-Terdelipidasi: Karakterisasi, Fitokimia, dan Aktivitas Antibakteri terhadap Cutibacterium acnes

Biji Pinang Areca catechu Ekstrak Terdelipidasi Cutibacterium acnes

Authors

  • Femmy Andrifianie Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung, Bandar Lampung, Indonesia
  • Meysha Nur Daffa Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung, Bandar Lampung, Indonesia
  • Ranesya Eka Anggraeni Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung, Bandar Lampung, Indonesia
  • Oktiva Risma Wardhani Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung, Bandar Lampung, Indonesia
  • Risti Graharti Program Studi Ilmu Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung, Bandar Lampung, Indonesia
  • Nur Fitriana Muhammad Ali Program Studi Farmasi, Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Intitus Teknologi dan Kesehatan, AVICENNA
  • Andi Nafisah Tendri Adjeng
    andi.nafisah@fk.unila.ac.id
    Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung, Bandar Lampung, Indonesia
December 25, 2025

Downloads

Jerawat merupakan masalah kulit umum, terutama pada remaja, dan salah satu bakteri penyebabnya adalah Cutibacterium acnes. Biji pinang (Areca catechu L.) memiliki aktivitas antibakteri karena memiliki kandungan metabolit sekunder meliputi  alkaloid, tanin, flavonoid, dan fenolik. Namun, penelitian aktivitas antibakteri ekstrak etanol biji pinang setelah didelipidasi masih belum dilakukan. Penelitian ini bertujuan membandingkan karakterisasi, kandungan fitokimia, dan aktivitas antibakteri ekstrak etanol biji pinang sebelum dan sesudah delipidasi terhadap bakteri Cutibacterium acnes. Serbuk simplisia biji pinang diperoleh melalui proses pengeringan dan penghalusan biji pinang. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%, sedangkan proses delipidasi dilakukan melalui ekstraksi cair-cair menggunakan n-heksan. Standarisasi ekstrak mengikuti prosedur Farmakope Herbal Indonesia. Skrining fitokimia meliputi pengujian alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid, dan terpenoid. Uji aktivitas antibakteri terhadap Cutibacterium acnes dilakukan dengan metode difusi sumuran pada berbagai konsentrasi ekstrak (5–40%). Rendemen ekstrak etanol kental sebesar 26,8%, sedangkan ekstrak terdelipidasi memiliki rendemen 78,73% dari ekstrak awal. Kedua ekstrak memenuhi parameter spesifik dan nonspesifik farmakope. Skrining fitokimia menunjukkan peningkatan intensitas alkaloid, flavonoid, tannin, dan saponin setelah delipidasi. Aktivitas antibakteri meningkat seiring konsentrasi, dengan zona hambat rata-rata ekstrak terdelipidasi lebih besar daripada ekstrak etanol, khususnya pada 20% (12,19?mm) dan 40% (12,84?mm) dibandingkan EE 20% (9,18?mm) dan EE 40% (8,52?mm). Delipidasi meningkatkan kandungan senyawa aktif polar/semi-polar sehingga aktivitas antibakteri ekstrak biji pinang terhadap Cutibacterium acnes lebih tinggi. Ekstrak terdelipidasi berpotensi dikembangkan sebagai bahan alami perawatan kulit berjerawat.