Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi
Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluyaen-USJurnal Mandala Pharmacon Indonesia2442-6032Pengaruh Metode Purifikasi Terhadap Kapasitas Antioksidan Ekstrak Daun Moringa Oleifera
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/882
<p>Purifikasi memiliki tujuan untuk meningkatkan kandungan senyawa aktif, sehingga ekstrak yang akan diformulasikan menjadi suatu sediaan akan memberikan khasiat yang lebih tinggi serta warna yang lebih menarik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh metode purifikasi menggunakan etil asetat terhadap kapasitas antioksidan ekstrak daun <em>Moringa oleifera</em> (kelor). Ekstrak daun kelor dihasilkan melalui proses maserasi menggunakan pelarut etanol 70%, kemudian dilakukan skrining fitokimia untuk mengidentifikasi senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, alkaloid, dan tanin, steroid dan triterpenoid. Ekstrak kemudian dipurifikasi menggunakan etil asetat. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH, menunjukkan bahwa ekstrak yang terpurifikasi memiliki nilai IC<sub>50</sub> sebesar 32,093 ppm (sangat kuat) dibandingkan ekstrak etanol dengan IC<sub>50</sub> sebesar 363,75 ppm yang menandakan adanya peningkatan kapasitas antioksidan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa purifikasi menggunakan etil asetat dapat meningkatkan potensi antioksidan ekstrak daun kelor, menjadikannya kandidat potensial sebagai sumber antioksidan alami.</p>Salsabila AdlinaSonya Nurizki VikandariAnisa Dhea OktaviaDesara Eka Putri
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-301211610.35311/jmpi.v12i1.882Analisis Kinerja Menggunakan Pendekatan Balanced Scorecard Pada Klinik X dan Y Di Kabupaten Sragen
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/955
<p>Pelayanan kefarmasian di instalasi farmasi klinik menghadapi tantangan seperti waktu tunggu panjang, ketersediaan obat rendah, dan kepuasan pasien minim akibat kurangnya edukasi farmasi. Pengukuran kinerja berfokus keuangan dianggap tidak komprehensif, sehingga diperlukan <em>Balanced Scorecard</em> (BSC) yang mengevaluasi empat perspektif: keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan. Penelitian ini membandingkan kinerja instalasi farmasi Klinik X (terakreditasi) dan Klinik Y (belum terakreditasi) di Kabupaten Sragen, dilengkapi analisis SWOT untuk strategi perbaikan. Penelitian deskriptif kuantitatif menggunakan BSC dan <em>SERVQUAL</em> untuk mengukur kepuasan pasien melalui dimensi <em>tangible, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy</em>. Populasi adalah karyawan farmasi, pasien rawat jalan, dan keluarga di 83 klinik pratama Sragen; sampel purposive dari dua klinik (satu terakreditasi, satu belum). Data primer dari kuesioner (valid dan reliabel, r<sub>hitung</sub> > r<sub>tabel</sub>, <em>Cronbach’s Alpha</em> >0,6), data sekunder dari laporan klinik. Analisis meliputi gap skor dan SWOT. Klinik X unggul dengan skor SERVQUAL lebih tinggi (<em>tangible</em> 2,44<em>; reliability</em> 2,59; <em>responsiveness</em> 2,48; <em>assurance</em> 2,51; <em>empathy</em> 2,52) dan <em>gap</em> lebih kecil (rata-rata -0,346) dibanding Klinik Y (skor rata-rata 2,49; gap -0,102). Ketepatan peracikan obat Klinik X 87,9% vs 71,2% Klinik Y. Kedua klinik di kuadran 1 matriks SWOT (kekuatan-peluang dominan). Akreditasi Klinik X meningkatkan <em>reliability, assurance, dan empathy</em>, tapi <em>gap</em> negatif pada <em>tangible</em> (-0,466) dan <em>responsiveness</em> akibat penumpukan resep serta infrastruktur lemah. Klinik Y lemah di <em>assurance</em> (kebocoran gudang). SWOT mengidentifikasi kekuatan <em>compliance</em> SOP, kelemahan<em> understaffing</em>, peluang digitalisasi, ancaman persaingan. BSC membuktikan akreditasi mendorong kinerja superior. Rekomendasi: digitalisasi antrian, pelatihan empati, optimalisasi fasilitas, dan monitoring KPI untuk kepuasan >85% dan efisiensi 90%.</p>Dyaricha Amanda Cahya KIka PurwidyaningrumWiwin Herdwiani
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012171610.35311/jmpi.v12i1.955Efek Analgetik Topikal dari Kombinasi Daging Lidah Buaya (Aloe vera) dan Ekstrak Rimpang Kunyit (Curcuma longa) Terhadap Parameter Fenotipe Mencit (Mus musculus)
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/969
<p>Nyeri merupakan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan pada kulit maupun organ dalam. Mekanisme nyeri melibatkan proses nosisepsi, sensitisasi perifer, perubahan fenotipe neuron, penurunan inhibisi, serta reorganisasi jalur nyeri. Tanaman obat seperti <em>Curcuma longa</em> dan <em>Aloe vera</em> diketahui memiliki aktivitas antiinflamasi dan analgetik. Kurkumin pada kunyit berperan dalam menghambat mediator inflamasi dan memodulasi jalur transduksi nyeri, sedangkan lidah buaya mengandung polisakarida, flavonoid, dan salisilat yang berpotensi menekan respons inflamasi. Kombinasi keduanya diduga memberikan efek sinergis dalam menurunkan nyeri. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efek analgetik kombinasi ekstrak rimpang kunyit dan daging lidah buaya pada mencit jantan (<em>Mus musculus</em>) yang diinduksi dengan formalin 1%. Ekstrak rimpang kunyit (ERK) diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 70%, sedangkan lidah buaya (LB) digunakan dalam bentuk segar. Sebanyak 12 ekor mencit dibagi menjadi lima kelompok, yaitu kontrol negatif (Na-CMC), kelompok perlakuan kombinasi ekstrak rimpang kunyit dan lidah buaya (ERK+LB), serta kontrol positif (krim metil salisilat 30%). Parameter yang diamati meliputi frekuensi hentakan dan jilatan kaki selama 60 menit pascainduksi. Data dianalisis menggunakan uji <em>One-Way ANOVA</em> yang dilanjutkan dengan uji <em>post hoc</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi ERK+LB secara signifikan menurunkan frekuensi hentakan kaki (proteksi 88,79%) dan jilatan kaki (proteksi 72,24%) dibandingkan dengan kontrol negatif (p < 0,0001). Efek analgetik kombinasi sebanding dengan kontrol positif. Kesimpulan, bahwa kombinasi ERK+LB memiliki efek analgetik yang signifikan dan berpotensi dikembangkan sebagai alternatif terapi nyeri berbasis bahan alam.</p>Djulfikri MewarRiska RumakatMuh. Fadhil As’adMuh. Danial FajriSitti HadijahMuhammad Azril Hardiman Mahulauw
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-30121172210.35311/jmpi.v12i1.969Isolasi dan Karakterisasi Fisikokimia Microcrystalline Cellulose Tandan Pisang Mulu Bebe
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/997
<p><em>Microcrystalline Cellulose</em> (MCC) merupakan salah satu eksipien yang banyak dimanfaatkan di industri farmasi, khususnya pada produksi tablet dengan kempa langsung. MCC sering digunakan sebagai pengisi, pengikat, dan penghancur. Dengan demikian, ketersediaan MCC sangat diperlukan. Pisang menjadi salah satu sumber MCC yang menjanjikan dikarenakan mengandung 63-64% selulosa. Tandan buahnya sering kali tidak dimanfaatkan sehingga terbuang menjadi limbah. Pada penelitian ini digunakan tandan pisang mulu bebe. Pisang mulu bebe merupakan salah satu buah budidaya yang ada di Maluku Utara. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah tandan pisang mulu bebe menjadi sumber MCC. MCC dihasilkan dengan beberapa tahapan, yakni pengeringan, delignifikasi dengan larutan alkali, dan hidrolisis dengan asam mineral. Karakterisasi MCC meliputi organoleptik, kadar air, susut pengeringan, dan kelarutan. Kemurnian dari MCC diidentifikasi menggunakan SEM dan FTIR.</p>Abulkhair AbdullahMutmainnah Mutmainnah
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-30121232910.35311/jmpi.v12i1.997Uji Aktivitas Tabir Surya Nanospray Kombinasi Ekstrak Daun Tebu Merah (Saccharum officinarum L.) dan Kulit Kopi Robusta (Coffea canephora P.) Secara In Vivo
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/999
<p>Kandungan flavonoid di daun tebu merah dan kulit kopi robusta mampu melindungi efek buruk sinar UV sehingga berpotensi dikembangkan menjadi sediaan tabir surya. Ekstraksi kedua tanaman menggunakan UAE dan <em>solvent</em> etanol 96%. Formulasi sediaan nanospray menggunakan basis kitosan. Potensi tabir surya sediaan nanospray pada mencit putih jantan sebanyak 6 kelompok perlakuan, yaitu , kontrol positif, kontrol negatif, formula konsentrasi 0,4%, 0,8%, 0,12%, dan 0,16%. Paparan sinar UV menggunakan lampu exotera diberikan pada mencit dengan durasi waktu 24 kemudian setelah 12 jam dilakukan pengamatan terhadap eritema pada punggung mencit. Diameter eritema pada K+, K- , dan <em>nanospray</em> konsentrasi 0,4%, 0,8%, 0,12%, dan 0,16% yaitu 1,626 mm, 8,774 mm, 3,638 mm, 3,476 mm, 2,476 mm, dan 1,988 mm. Data eritema dianalisa statistik menggunakan uji <em>Kruskal-Wallis</em> dengan signifikansi p<0.05 dilanjutkan uji p<em>ost-</em><em>h</em><em>oc</em> dimana sediaan nanopray konsentrasi 0,12% dan 0,16% tidak berbeda signifikan dengan kontrol positif.</p>Karina KalimFatika Farah DamiyanawatiRemitha Catherina Dwi PramestiQurani Putri Imaniar HarijadiDhina Ayu Susanti
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-30121303710.35311/jmpi.v12i1.999Uji Aktivitas Antioksidan Kombinasi Ekstrak Etanol Daun Pegagan (Centella asiatica) dan Buah Tin (Ficus carica)
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1000
<p>Paparan sinar UV dapat memicu pembentukan radikal bebas dalam tubuh secara massif yang dapat menyebabkan sistem antioksidan endogen tidak dapat menetralkannya. Oleh karena itu, diperlukan upaya preventif dengan pemberian senyawa antioksidan eksogen untuk dapat membantu menurunkan ROS. Antioksidan yang cenderung aman adalah yang berasal dari bahan alam. Salah satu contoh tanaman yang mengandung antioksidan adalah buah tin dan daun pegagan yang berpotensi untuk dikombinasikan sehingga dapat memberikan efek sinergis sebagai antioksidan. Ekstrak Daun Pegagan (EDP) dan Buah Tin (EBT) diekstraksi secara terpisah dengan etanol 70%. Identifikasi ekstrak dilakukan terhadap kandungan fitokimia, kandungan Fenolik Total dan kandungan Flavonoid Total. Uji kandungan fenolik total dihitung sebagai asam galat dan kandungan flavonoid total dihitung sebagai kuersetin. Kedua ekstrak kemudian dikombinasikan dengan 3 jenis kombinasi berbeda dan diuji daya penangkapan radikal DPPH sebagai parameter antioksidan. Kadar Fenolik Total pada EBT dan EDP masing-masing sebesar 0,228 ± 0,13 % b/b dan 0,186 ± 0,005 % b/b. Kadar Flavonoid Total dari ekstrak EBT dan EDP berturut-turut adalah 0,030 ± 0,001 % b/b dan 0,202 ± 0,002% b/b. Dari ketiga kombinasi diperoleh kombinasi 75:25 (EBT:EDP) memberikan hasil paling optimal dengan IC50 43,25 ± 4,84 µg/mL dan masuk dalam kategori antioksidan sangat kuat.</p>Kurnia Rahayu Purnomo SariMarchaban MarchabanRahma Alfi SaadatiTiara Agustinata HaryantoIrrena Ervany
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-30121384410.35311/jmpi.v12i1.1000Formulasi Sunscreen Ektrsak Biji Alpukat (Persea americana) dan Lidah Buaya (Aloe vera) : Studi Nilai Aktivitas Antioksidan
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1001
<p>Kanker kulit menjadi masalah kesehatan global yang meningkat akibat paparan sinar ultraviolet (UV). Indonesia sebagai negara tropis dengan intensitas sinar matahari tinggi memiliki risiko lebih besar, sehingga diperlukan perlindungan kulit yang efektif. <em>Sunscreen</em> merupakan salah satu cara pencegahan, namun penggunaan bahan kimia sintetis sering menimbulkan iritasi dan alergi. Pemanfaatan bahan alami dengan kandungan antioksidan tinggi menjadi alternatif yang lebih aman. Penelitian ini bertujuan mengembangkan formulasi <em>Sunscreen</em> berbasis ekstrak biji alpukat (<em>Persea americana</em>) dan gel lidah buaya (<em>Aloe vera</em>), serta mengevaluasi karakteristik fisik dan aktivitas antioksidannya. Ekstrak biji alpukat diperoleh melalui metode maserasi dengan etanol 96%, sedangkan lidah buaya digunakan dalam bentuk gel segar. Formula <em>Sunscreen</em> dibuat dalam tiga konsentrasi ekstrak: F1 (10%), F2 (20%), dan F3 (30%). Evaluasi meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, uji iritasi, dan aktivitas antioksidan dengan metode DPPH. Hasil penelitian menunjukkan seluruh formula berwarna coklat, berbau khas biji alpukat, bertekstur semisolid, serta homogen. Nilai pH berkisar 5–6 sesuai pH kulit normal, daya sebar 6,4–6,9 cm, serta tidak menimbulkan iritasi. Aktivitas antioksidan ditunjukkan melalui nilai IC??, yaitu F1 = 119 ppm (sedang), F2 = 51 ppm (kuat), dan F3 = 10 ppm (sangat kuat). Formula F3 dinilai paling efektif karena memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat, stabil secara fisik, dan aman digunakan. Dengan demikian, ekstrak biji alpukat dan gel lidah buaya berpotensi menjadi bahan aktif dalam inovasi <em>Sunscreen</em> alami yang aplikatif di bidang kosmetik.</p>Vivi RamadhaniEmaliya Sahidah Aulia SariMarsya ApriliaMagvira MagviraNurhidayah NurhidayahJasril JasrilHurria Hurria
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-30121455110.35311/jmpi.v12i1.1001Studi Etnofarmasi Tumbuhan Obat Tradisional Suku Dayak Sekubang, Kalimantan Barat
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1015
<p>Dayak Sekubang merupakan bagian subsuku Dayak yang ada di kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Kehidupan sehari-hari mereka dekat dengan penggunaan tumbuhan dalam pengobatan yang biasanya dilakukan oleh Dukun/Pentama. Metode penelitian kualitatif deskriptif dilakukan dalam studi etnofarmasi ini dengan tujuan untuk mengidentifikasi jenis tumbuhan apa saja yang digunakan oleh Dukun/Pentama dalam praktik pengobatannya. Instrumen penelitian berupa lembar wawancara semi terstruktur kepada Dukun/Pentama, lembar observasi partisipatif dan lembar wawancara terstruktur kepada pasien digunakan dalam penelitian ini. Data hasil penelitian yang diperoleh dari observasi partisipatif, wawancara semi terstruktur dengan Dukun/Pentama serta wawancara terstruktur dengan pasien yang pernah menggunakan jasa Dukun/Pentama mengungkapkan bahwa terdapat 29 spesies tumbuhan yang digunakan, tumbuhan dengan nilai <em>Species Used Value</em> tertinggi adalah Jahe (<em>Zingiber officinale</em> var.amarum) dengan nilai 0,89. Dari data juga diketahui bahwa daun adalah bagian tumbuhan yang paling sering digunakan oleh Dukun/Pentama dalam pengobatan.</p>Chris OctavianusMangardi MangardiHerdina Mayangsari Sumedhi
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-30121526010.35311/jmpi.v12i1.1015Combined Peperomia pellucida – Phyllanthus niruri Extracts: Pharmacokinetic, Target Prediction, and Total Phenolic Evaluation
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1048
<p>The rising burden of chronic diseases has accelerated the search for phytotherapeutic combinations that offer multi-target pharmacological actions with lower toxicity. While <em>Peperomia pellucida</em> and <em>Phyllanthus niruri</em> are renowned for their individual antioxidant and anti-inflammatory properties, there is a significant gap in understanding their combined pharmacokinetic behavior and molecular interactions. This study aims to evaluate the pharmacological potential of combined <em>P. pellucida</em> and <em>P. niruri</em> extracts through an integrated approach encompassing phytochemical analysis, pharmacokinetic profiling, and protein-target interaction predictions. Bioactive compounds retrieved from the KNaPSacK JAMU database were analyzed using TargetNet and pkCSM to assess ADMET (Absorption, Distribution, Metabolism, Excretion, and Toxicity) characteristics. Concurrently, the Total Phenolic Content (TPC) of various extract combinations was determined experimentally in triplicate using the Folin–Ciocalteu method to quantify phenolic constituents, serving as a literature-based indicator of potential antioxidant activity. A total of twenty-two bioactive compounds were identified, predominantly comprising lignans, flavonoids, and triterpenoids. Pharmacokinetic modeling revealed a favorable predicted pharmacokinetic profile characterized by predicted good oral absorption, effective clearance rates, low hepatotoxicity, and the absence of CYP2D6 enzyme inhibition. In silico analysis indicated binding affinity to oxidoreductase enzymes (CYP1A2, polyphenol oxidase 2), nuclear receptors (estrogen and retinoic acid), and key regulatory enzymes such as COX-2 and PTPN1. Notably, TPC values increased proportionally with the concentration of <em>P. pellucida</em>, peaking at 212.44 ± 1.06 mg GAE/g at a 20:80 ratio (<em>P. niruri:P. pellucida</em>). The integration of experimentally measured TPC and in silico findings suggests that phenolic-rich formulations of this combination may possess a favorable pharmacokinetic profile and the potential to modulate multiple biological targets, supporting their further investigation as multi-target phytopharmaceuticals.</p>La Ode Muhammad AnwarMarselina MarselinaEmbriana Dinar Pramestyani
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-30121617210.35311/jmpi.v12i1.1048Antioxidant Activity Evaluation of Extracts from Different Accessions of Red Betel (Piper ornatum) Leaves in East Java Province
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1062
<p>As a natural antioxidant, the red betel leaves (<em>Piper ornatum</em>) exhibit several biological functions. The purpose of this study is to assess the phytochemical profile and antioxidant activity of several red betel leaves accessions that come from different parts of East Java Province, including Jombang (JB), Blitar (BL), Batu (BT), Trenggalek (TG), and Probolinggo (PB). The secondary metabolite content and antioxidant activity of the five accessions were evaluated qualitatively using phytochemical screening, and their antioxidant activity was measured using the DPPH assay at a single concentration of 500 ppm following maceration extraction with 70% ethanol. Alkaloids, flavonoids, phenols, saponins, and tannins were found in all accessions of red betel leaves (Piper ornatum) ethanol extracts from the East Java Province. The highest antioxidant activity of red betel leaves ethanol extract was obtained from the Blitar (BL), Batu (BT), and Jombang (JB) accessions, with inhibition percentages of 98.13 ± 0.52, 95.64 ± 0.90, and 95.18 ± 0.17%, respectively. Meanwhile, lower antioxidant activity was observed in the ethanol extracts of red betel leaves from the Probolinggo (PB) and Trenggalek (TG) accessions, with inhibition percentages of 91.54 ± 0.41% and 91.16 ± 1.18%, respectively. These differences were statistically significant (p < 0.05, one-way ANOVA, Tukey). The antioxidant activity correlates with the phenolic and flavonoid content of the plant, supporting the potential of red betel leaves as a natural antioxidant source.</p>Rini Anggi AristaYayuk MulyatiBaiq Argiya Indriati UtariEka Nurul QomaliyahErni YuliantiNikmatul Fitriyah Arina Lubna Qotrun Nadah
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-30121738110.35311/jmpi.v12i1.1062Innovative Nutraceutical Drink Combining Purple Sweet Potato and Rosella Extracts with Immunomodulatory and Antidiabetic Properties
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1089
<p>As part of the Advanced Indonesia 2045 vision, this study explores the potential of milk-based nutraceuticals enriched with purple sweet potato (<em>Ipomoea batatas</em> var. Ayumurasaki) and rosella (<em>Hibiscus sabdariffa</em> L.) extracts. This research aimed to evaluate the immunomodulatory and antidiabetic activities of three drink formulations (FI, FII, FIII). Male mice were divided into groups (n=5 per group). Immunomodulation was assessed using the carbon clearance method (0.2 ml/20 g BW dosage for 7 days) compared to Stimuno as a positive control. Antidiabetic activity was tested on alloxan-induced hyperglycemic mice (150 mg/kg BW) for 7 days, with glibenclamide as the reference. Data were analyzed using One-Way ANOVA followed by the Duncan test (p < 0.05). Proximate analysis confirmed all formulations met nutritional standards for protein and fat. In the immunomodulatory assay, all formulations significantly increased the phagocytosis constant (K) and reduced the carbon elimination half-life (t<sub>1/2</sub>) compared to the healthy control (p < 0.05), with FIII showing the highest activity. For the antidiabetic test, FI, FII, and FIII significantly reduced fasting blood glucose (FBG) levels starting from day 3, reaching near-normal levels by day 7, comparable to glibenclamide. The synergistic combination of anthocyanins and vitamin C in these formulations effectively enhances macrophage activity and controls glycemic levels, making them viable nutraceutical candidates for health promotion.</p>Wahyunita Yulia SariMuhamad Fauzi RamadhanFaiq Hanif MubarokDela AnggriyaniNafa Fajri RamadhaniMay Tri HastariKhusnul KhotimahMarriska Setyaningsih
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-30121828810.35311/jmpi.v12i1.1089Perbandingan Efektivitas Perolehan Senyawa Bioaktif Flavonoid Melalui Pengaruh Metode Ekstraksi Pada Bunga Kasumba Turate Dan Daun Salam
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1098
Rezki Amriati SyarifSelpida HandayaniAminah AminahCahaya Putri AidillahA. Nur Wahdania
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-30121899610.35311/jmpi.v12i1.1098Skrining dan Karakterisasi Komponen Self Nano Emulsifying Drug Delivery System (SNEDDS) Naringenin Menggunakan Desain Faktorial Terfraksi (DFT)
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1102
<p>Naringenin merupakan salah satu senyawa yang termasuk golongan BCS kelas II yang mempunyai kelarutan yang rendah. <em>Self-nanoemulsifying drug delivery systems</em> (SNEDDS) dianggap sebagai pendekatan yang potensial untuk meningkatkan kelarutan naringenin karena stabil dan proses pembuatan yang relatif sederhana. Penelitian ini bertujuan untuk memilih dan menentukan rasio komponen minyak, surfaktan dan ko-surfaktan dalam SNEDDS naringenin menggunakan desain faktorial terfraksi (DFT). Variabel yang digunakan dalam DFT pengembangan SNEDDS naringenin adalah tipe dan konsentrasi minyak (miglyol & capmul MCM), surfaktan (tween 80 & cremophor RH 40), dan ko-surfaktan (PEG 400 dan transcutol). Hasil DFT menunjukkan 16 run dengan perbedaan proporsi komponen SNEDDS naringenin yang selanjutnya akan dikarakterisasi parameter kritis meliputi waktu emulsifikasi, ukuran droplet, indeks polidispersitas (PDI), zeta potensial, persen transmitan dan drug loading. Penentuan komponen dan rasio komponen SNEDDS naringenin ditentukan dengan analisa single factor plot menggunakan program design expert 13. Hasil penelitian menunjukkan capmul MCM, cremophor RH 40, transcutol terpilih sebagai komponen minyak, surfaktan dan ko-surfaktan yang memberikan kontribusi paling optimal dalam pembentukan SNEDDS naringenin. Kombinasi komponen tersebut menghasilkan rasio optimum, yaitu minyak sebesar 16,67-24,83%, surfaktan sebesar 53,11-66,67% dan ko-surfaktan sebesar 16,67-22,06%, yang mampu menghasilkan sistem SNEDDS dengan karakteristik fisik yang memenuhi kriteria nanoemulsi.</p>Puteri Muzdalifa HamidIlham KuncahyoSupriyadi Supriyadi
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-301219711410.35311/jmpi.v12i1.1102Hubungan Kepatuhan Pengobatan Kombinasi Amlodipine Dan Candesartan Terhadap Efek Terapi Pasien Hipertensi Di Puskesmas Kapuan, Blora
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1123
<p>Di Indonesia maupun di seluruh dunia, hipertensi merupakan masalah kesehatan yang serius. Seringkali hipertensi tidak terdeteksi atau tidak diobati dengan baik, sehingga meningkatkan risiko konsekuensi seperti penyakit jantung, gagal ginjal, dan stroke. Pasien dengan hipertensi yang memerlukan terapi jangka panjang dan modifikasi gaya hidup terkadang kesulitan dalam mematuhi pengobatan hipertensi. Amlodipin seringkali dikombinasi dengan candesartan karena dapat meningkatkan <em>kepatuhan </em>dan kontrol hipertensi yang adekuat. Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti hubungan antara kepatuhan pengobatan pasien yang menerima kombinasi amlodipine dan candesartan dengan efek terapeutik. Penelitian ini merupakan <em>cross-sectional survey</em> di Puskesmas Kapuan Blora pada bulan Desember 2025 menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Kuesioner <em>MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale-8)</em> digunakan untuk mengevaluasi kepatuhan pengobatan, dan pedoman manajemen hipertensi kementrian kesehatan RI 2021 digunakan untuk mengevaluasi efek terapeutik pasien. Jumlah sampel pada penelitian ini yaitu sebanyak 31 pasien. Temuan menunjukkan bahwa pasien 61,3% patuh dan tekanan darah terkontrol; 38,7% tidak patuh dan tekanan darah tidak terkontrol. Faktor dominan yang berkontribusi terhadap ketidakpatuhan pengobatan pada penelitian kali ini yaitu lupa mengonsumsi obat, penghentian terapi tanpa konsultasi dengan tenaga kesehatan, dan timbulnya ketidaknyamanan atau penolakan untuk minum obat setiap hari. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan pengobatan dan efek terapeutik pasien yang menerima amlodipine dan candesartan, dengan nilai Fisher’s Exact test sig (2 Sided) <0,001.</p>Satriyo Tantyo Danu SaputroTiti Agni HutahaenAbdul BasithBudy Cahayany Halimatun Ni’mah
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012111512310.35311/jmpi.v12i1.1123Evaluasi Rasionalitas Penggunaan Antibiotik “Cefadroxil” pada Pasien Dewasa di Puskesmas Tambakrejo Bojonegoro
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1127
<p>Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat meningkatkan risiko terjadinya resistensi antimikroba, terutama di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. Cefadroxil merupakan salah satu antibiotik yang sering diresepkan di puskesmas untuk menangani infeksi bakteri ringan hingga sedang sehingga evaluasi rasionalitas penggunaannya perlu dilakukan secara berkala. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis tingkat rasionalitas penggunaan antibiotik cefadroxil pada pasien dewasa peserta BPJS Kesehatan di Puskesmas Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro berdasarkan prinsip 5 Tepat meliputi tepat pasien (tidak terdapat kontraindikasi), tepat indikasi (sesuai diagnosis menurut Formularium Nasional dan Pedoman Terapi Nasional), tepat obat (pemilihan antibiotik lini yang direkomendasikan), tepat dosis (dosis dan frekuensi sesuai standar), dan tepat waktu pemberian (durasi terapi sesuai pedoman). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan desain retrospektif menggunakan data rekam medis periode Juni–September 2025. Dari total 119 pasien pengguna antibiotik diperoleh sampel sebanyak 55 pasien menggunakan rumus Slovin. Penilaian rasionalitas dilakukan dengan membandingkan diagnosis, pemilihan obat, dosis, frekuensi, dan lama pemberian terhadap standar terapi nasional. Hasil analisis menunjukkan ketepatan pasien sebesar 100%, ketepatan indikasi 83,6%, ketepatan obat 85,5%, ketepatan dosis 90,9%, dan ketepatan waktu pemberian 87,3%. Secara umum, penggunaan cefadroxil di Puskesmas Tambakrejo telah memenuhi sebagian besar kriteria penggunaan obat rasional. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik cefadroxil pada pasien dewasa peserta BPJS Kesehatan periode Juni–September 2025 tergolong rasional, namun masih diperlukan peningkatan pada aspek ketepatan indikasi dan pemilihan obat untuk mendukung penggunaan antibiotik yang lebih optimal serta mencegah resistensi antimikroba.</p>Tri Wahyuni Puji LestariTiti Agni HutahaenAbdul BasithNovita Dyah Andriyana
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012112413510.35311/jmpi.v12i1.1127Analisis Geospasial Pelayanan Pendekar Obat Berdasarkan Karakteristik Pasien Geriatri Di RSUD Dr. Gondo Suwarno Kabupaten Semarang
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1157
<p>Akses fisik menjadi hambatan utama untuk kesuksesan terapi pada pasien geriatri yang memiliki penyakit penyerta. Program pengantaran obat adalah bagian <em>home pharmacy care</em> di salah satu RSUD Kabupaten Semarang yang mendistribusikan obat hingga ke rumah pasien dan menjadi solusi atas hambatan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis kesesuaian kriteria penerima program "Pendekar Obat" berdasarkan kriteria klinis dan administratif, juga menganalisis pola persebaran spasial pengguna aktual layanan. Data penelitian pengantaran obat didapatkan secara observasional menggunakan desain <em>cross-sectional</em> retrospektif pada periode Mei–Oktober 2025. Sampel pada penelitian ini sebanyak 383 pasien yang dipilih dengan cara <em>systematic random sampling</em> dari total populasi 9.000 pengguna layanan. Data penelitian diolah dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif serta divisualisasikan secara spasial menggunakan Google My Maps. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata usia pengguna layanan adalah 62,35 tahun, yang merupakan rentang sesuai dengan kriteria populasi lansia. Berdasarkan analisis kepatuhan terhadap standar operasional, nilai tertinggi dicapai oleh semua indikator yaitu: kriteria jenis obat (98,17%), kriteria pasien (geriatri dengan komorbid, 66,60%), dan jarak domisili <3 km (79,40%). Pola persebaran heterogen pada analisis geospasial terpusat pada Kelurahan Lerep (2,41 km) dan Gedanganak (1,83 km). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa program ini sudah efektif menjangkau target populasi pada wilayah topografi sulit, tetapi program ini dijadikan pemanfaatan kenyamanan penunjang oleh pengguna program yang berdomisili di dekat rumah sakit.</p>Panji Tirta Manungku Puja SantosaAvianti Eka Dewi Aditya PurwaningsihAmalia Nurul Ulum
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012113614410.35311/jmpi.v12i1.1157Formulasi dan Evaluasi Fisik Sediaan Emulgel Ekstrak Etanol Daun Kitolod (Isotoma longiflora (L.) C.Presl) dengan Variasi Konsentrasi Carbopol-940 sebagai Gelling Agent
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1174
<p>Tanaman kitolod mengandung senyawa flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan. Emulgel salah satu jenis produk semipadat yang merupakan kombinasi sistem emulsi dan gel, sehingga memiliki keuntungan dalam kenyamanan penggunaan dan daya sebar pada sediaan topikal. Ekstrak daun kitolod diformulasikan dalam sediaan topikal berpotensi mengatasi permasalahan kulit dalam menangkal radikal bebas. Daun kitolod berpotensi sebagai antioksidan karena mengandung senyawa flavonoid. Salah satu bahan pembentuk emulgel yaitu carbopol-940 sebagai <em>Gelling agent</em> yang bermanfaat untuk membentuk viskositas dan memperbaiki sifat fisik serta reologi sediaan. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi pengaruh variasi konsentrasi carbopol-940 sebagai <em>Gelling agent</em> pada karakteristik fisik dan stabilitas fisik terhadap sediaan emulgel. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Emulgel dibuat dengan variasi konsentrasi carbopol-940 sebesar 0,5%, 1%, 1,5%, dan 2%, dengan masing-masing formula dilakukan pengujian 3x replikasi. Emulgel dilakukan evaluasi fisik meliputi uji organoleptis, homogenitas, daya lekat, daya sebar, pH, viskositas, sineresis, tipe emulsi, stabilitas fisik, serta uji hedonik. Data dianalisis menggunakan uji normalitas, dilanjutkan dengan <em>One Way</em> Anova untuk data berdistribusi normal (p > 0,05) atau uji <em>Kruskal-Wallis </em>untuk data tidak normal. Uji hedonik dengan hasil signifikan (p < 0,05) dilanjutkan menggunakan uji <em>Mann-Whitney</em>. Hasil menunjukkan variasi konsentrasi carbopol-940 sebagai <em>Gelling agent</em> mempengaruhi karakteristik fisik dan stabilitas fisik terhadap sediaan emulgel. Formula 1 dengan konsentrasi carbopol-940 1% menunjukkan hasil terbaik berdasarkan parameter viskositas, daya sebar, daya lekat, pH, stabilitas fisik selama penyimpanan, serta tingkat kesukaan panelis pada uji hedonik terutama pada parameter tekstur.</p>Syarifah Nur Oktarina PutriTri Budi Julianti
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012114516010.35311/jmpi.v12i1.1174In Vivo Evaluation of the Anti-Inflammatory Activity of Wild Forest Honey from Konawe and Its Potential as a Nitric Oxide Inhibitor in Macrophage Cells
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1192
<p>Forest honey is a natural product derived from nectar of wild plants, rich in bioactive compounds such as flavonoids and phenolics, with potential antioxidant and anti-inflammatory properties. Konawe Regency, Southeast Sulawesi, is known for forest honey production, yet its biological activity has been scarcely studied. This study aimed to evaluate the in vivo anti-inflammatory effect of Konawe forest honey and its potential as a nitric oxide (NO) inhibitor in macrophage cells. In vivo activity was assessed using a xylene-induced mouse ear edema model, while NO inhibition was evaluated in LPS-stimulated RAW 264.7 macrophage cells. Results showed that forest honey significantly reduced ear edema. At 45 minutes, ear thickness was 0.967 ± 0.115 mm for the negative control, 0.233 ± 0.058 mm for the positive control, and 0.300 ± 0.100, 0.333 ± 0.058, and 0.267 ± 0.058 mm for doses of 25, 50, and 100 mg/kg body weight, respectively, with inflammation inhibition percentages of 43.91%, 43.70%, and 32.81%. ANOVA followed by Tukey’s post hoc test indicated significant differences among treatments (p < 0.05). In the NO assay, forest honey showed inhibition up to 94.35 ± 5.40%, with significant concentration-dependent effects (p < 0.05). Konawe forest honey shows promising potential as a natural anti-inflammatory agent through suppression of edema formation and nitric oxide production in macrophage cells.</p>Hariana HarianaWahyuni WahyuniSuryani SuryaniAri SartinahMaulidyah MaulidyahAgung Wibawa Mahatva YodhaLa Ode Muhammad Julian PurnamaNuralifah NuralifahArfanAdryan FristiohadyJumriani Jumriani
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012116116710.35311/jmpi.v12i1.1192In Silico Study of Phytochemical Compounds from Mekai (Albertisia papuana Becc.) Leaves as Anti-Breast Cancer Agents
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1217
<p>Breast cancer is a disease that is most commonly suffered by women, with the highest number of cases and mortality rates in the world. Current breast cancer treatment still has limitations and causes serious side effects, thus encouraging the exploration of alternative therapies based on natural sources or phytochemicals. The purpose of this study is to investigate the potential anti-breast cancer properties of the traditional herbal plant Mekai (<em>Albertisia papuana</em> Becc.) using an in silico approach. Molecular docking analysis of JNK and EGFR targets showed that several compounds had relatively high binding affinities (-10.1 to -9.3 kcal/mol) comparable to the positive control doxorubicin, while NUDT5 had relatively moderate binding affinities to each compound. Among these compounds, 7H-dibenzo-c,g-carbazole showed the strongest binding affinity to JNK (-10.1 kcal/mol), making it potentially the most promising candidate compound. Evaluation based on Lipinski's rules shows that selected compounds from Mekai (<em>Albertisia papuana</em> Becc.) leaves meet the basic parameters for drug candidates and ADME-Tox predictions, including moderate toxicity (class IV), thus supporting their suitability for further development as anticancer agent candidates, while also providing a scientific basis for the use of traditional Dayak medicinal plants in the development of natural breast cancer therapies. Further research is recommended in vitro and in vivo to confirm its efficacy, safety, and clinical relevance.</p>Miningsih MiningsihDora Dayu Rahma TuristaMasitah MasitahRusni Ernopita UlanRisty GeofaniDorce BaniSintya SintyaVera Damayanti
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012116818210.35311/jmpi.v12i1.1217Perbandingan Metode Ekstraksi Daun Suruhan (Peperomia pellucida (L.) Kunth) Terhadap Kadar Flavonoid Total Dan Aktivitas Antibakteri Staphylococcus aureus
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1225
<p>Daun suruhan <em>Peperomia pellucida</em> (L.) Kunth merupakan tanaman herba yang mengandung berbagai metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, dan alkaloid yang berpotensi sebagai antibakteri alami. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh metode ekstraksi maserasi dan refluks terhadap kadar flavonoid total serta aktivitas antibakteri ekstrak daun suruhan terhadap <em>Staphylococcus aureus</em>. Proses ekstraksi menggunakan pelarut etanol 70%. Analisis kualitatif dilakukan dengan uji fitokimia, sedangkan penetapan kadar flavonoid total dilakukan secara kuantitatif menggunakan <em>Spektrofotometer UV-Vis</em>. Aktivitas antibakteri diuji menggunakan metode difusi cakram <em>(Kirby-Bauer)</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar flavonoid total ekstrak daun suruhan dengan metode refluks (10,8474 mgQE/g) lebih tinggi dibandingkan metode maserasi (9,6798 mgQE/g), dengan perbedaan yang signifikan secara statistik (p = 0,020). Hasil aktivitas antibakteri menunjukkan perbedaan signifikan antara metode ekstraksi dengan daya hambat (p = 0,039), variasi konsentrasi menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap daya hambat antibakteri (p = 0,000). Hasil tersebut menunjukkan bahwa metode ekstraksi dan konsentrasi ekstrak merupakan faktor aktivitas antibakteri. Hasil korelasi menunjukkan bahwa peningkatan kadar flavonoid berbanding lurus dengan zona diameter zona hambat yang dihasilkan. Metode ekstraksi memiliki pengaruh terhadap kadar flavonoid total dan aktivitas antibakteri terhadap <em>Staphylococcus aureus</em> pada ekstrak daun suruhan, metode refluks menghasilkan kadar flavonoid total dan aktivitas antibakteri lebih tinggi dibandingkan maserasi.</p>Estiningtyas NugraheniSusilowati SusilowatiDidik Wahyudi
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012118319210.35311/jmpi.v12i1.1225Potensi Ekstrak Daun Jelatang (Urtica dioica L.) Terhadap Peluruhan Kalsium Fosfat Analog Batu Ginjal
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1232
<p>Nefrolitiasis atau batu ginjal merupakan patologi pada sistem urinaria yang ditandai dengan presipitasi mineral, salah satunya kalsium fosfat. Pengembangan terapi berbasis tanaman obat masih dilakukan mengingat profil keamanan yang lebih baik dan minimnya efek samping dibandingkan terapi konvensional. Daun jelatang diketahui mengandung senyawa bioaktif, khususnya flavonoid, yang berpotensi sebagai kandidat aktivitas urolitik. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efikasi ekstrak daun jelatang yang dihasilkan melalui metode maserasi dan infusa terhadap kelarutan kalsium fosfat secara in vitro. Rancangan penelitian menggunakan desain eksperimen laboratorium murni (<em>true experimental laboratory</em>) dengan rancangan acak lengkap. Ekstraksi maserasi menggunakan pelarut etanol 96%, sedangkan infusa menggunakan akuades. Identifikasi metabolit sekunder dilakukan melalui uji fitokimia kualitatif, dan kuantifikasi total flavonoid ditelaah dengan spektrofotometri UV-Vis menggunakan baku kuersetin. Uji aktivitas pelarutan dilakukan dengan metode gravimetri pada konsentrasi ekstrak 2% selama 6 jam inkubasi. Hasil penelitian menunjukkan rendemen ekstrak maserasi sebesar 11,59% dan infusa sebesar 10,84%. Uji fitokimia mengonfirmasi keberadaan flavonoid pada kedua ekstrak, dengan kadar flavonoid total maserasi lebih tinggi dibandingkan infusa. Namun, daya larut kalsium fosfat tertinggi diamati pada ekstrak infusa 53,66% , diikuti maserasi 52,25%, dan kontrol akuades 16,85 %. Berdasarkan uji One Way ANOVA, diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan signifikan secara statistik antara kelompok perlakuan (p < 0,05). Simpulan penelitian menegaskan bahwa ekstrak daun jelatang memiliki potensi terapeutik dalam melarutkan analog batu ginjal kalsium fosfat.</p>Roihanatun NafisahAkhmad Al-BariAtika Nirmala
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012119320310.35311/jmpi.v12i1.1232Optimization of Lactose and Avicel PH 101 as Fillers in Bilimbi Leaf Extract Tablets as Candidate of Antidiabetic Drug
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1242
<p>Oral hypoglycemic medications for diabetes can have significant side effects. Bilimbi leaves extract is an antidiabetic agent formulated in tablet form with a combination of lactose and Avicel PH 101. The study aimed to determine the compounds in the extract, determine the optimal proportion of lactose and Avicel PH 101, and determine the optimal antidiabetic activity of bilimbi leaves extract tablets in alloxan-induced mice. The research method was carried out experimentally with maceration extraction using 70% ethanol solvent and continued with phytochemical screening. Optimization of bilimbi leaves extract tablets combined with lactose and Avicel PH 101 used the Simplex Lattice Design (SLC) method with responses of weight uniformity, hardness, friability, and disintegration time. Verification of the optimal formula used a one-sample t-test. Antidiabetic analysis was measured using ANOVA and indicated by the percentage of reduction in blood sugar levels in each group. The results showed that bilimbi leaves extract contains flavonoids, tannins, and saponins. The optimum formula composition is lactose 78.375mg and avicel PH 101 167.925mg. The results of the optimum formula verification have a sig>0.05 in each response, so the data is valid because there is no significant difference with the Simplex Lattice Design prediction. The results of the antidiabetic test in mice showed that bilimbi leaf extract tablets have potential as an antidiabetic agent because there was a reduction in blood glucose levels after alloxan induction.</p>Maulidia Arba’inDisa AndrianiEka Wisnu Kusuma
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012120421210.35311/jmpi.v12i1.1242Enkapsulasi Ganda Nanopartikel ZnO dengan Polimer Tween 80 dan Niacinamide: Karakterisasi Ukuran dan Sifat Optik
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1256
<p>Permasalahan utama penggunaan ZnO sebagai bahan aktif tabir surya adalah munculnya efek <em>white cast</em> akibat ukuran partikel yang besar. Selain itu, ZnO dapat pula menghasilkan oksidan ketika terpapar radiasi ultraviolet. Penelitian ini bertujuan untuk menyintesis nanopartikel ZnO berukuran sangat kecil (skala nanometer) melalui mekanisme enkapsulasi ganda yang mengintegrasikan Tween 80 dan Niacinamide sebagai lapisan pelindung fungsional. Kebaruan utama studi ini terletak pada peran strategis Niacinamide yang diintegrasikan secara molekuler yang bertujuan untuk menghambat aktivitas fotokatalitik nanopartikel ZnO langsung pada permukaannya. Metode enkapsulasi dilakukan dengan variasi konsentrasi Tween 80 (1, 2, 3, dan 4 mL) dalam pelarut etanol, yang dilanjutkan dengan enkapsulasi menggunakan Niacinamide. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan volume Tween 80 secara efektif menurunkan diameter rata-rata hidrodinamik nanopartikel dan meningkatkan homogenitas ukurannya. Sampel dengan 4 mL Tween 80 menunjukkan performa terbaik dengan diameter rata-rata hidrodinamik terkecil sebesar 11,6 nm dan standar deviasi terendah. Karakteristik optik mengonfirmasi bahwa seluruh sampel memiliki transparansi tinggi (>90%) pada spektrum sinar tampak serta penyerapan energi UV yang tajam pada panjang gelombang <450 nm. Penambahan Niacinamide meningkatkan ketebalan lapisan enkapsulasi dan diameter rata-rata hidrodinamik, namun secara bersamaan memperkecil diameter rata-rata inti nanopartikel ZnO. Temuan ini menyimpulkan bahwa sistem enkapsulasi ganda ZnO-Tween 80-Niacinamide merupakan kandidat unggul untuk formulasi tabir surya transparan berperforma tinggi yang bebas dari efek lapisan putih serta diperkaya dengan manfaat antioksidan dari Niacinamide.</p>Horasdia SaragihDonn Richard RickyJosua E. SagalaEndru S. L. GintingWilliam YustianJendri KorisanoJosephine H. RuskandiZahra MedianaSiska AriOvi S. Humau
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012121322110.35311/jmpi.v12i1.1256Uji Efektivitas Kombinasi Ekstrak Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten.)) dan Ekstrak Daun Sirih Merah (Piper ornatum) Terhadap Diameter Luka Bakar
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/940
<p>Luka bakar derajat III merupakan cedera serius yang merusak jaringan secara mendalam, memerlukan perawatan efektif termasuk tanaman herbal. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas salep kombinasi ekstrak etanol daun binahong (<em>Anredera cordifolia</em>) dan sirih merah (<em>Piper ornatum</em>) terhadap penyembuhan luka bakar derajat III pada 6 ekor kelinci jantan (unit analisis: per hewan, masing-masing 3 luka punggung). Salep diformulasikan dalam tiga variasi F1 (3g binahong:3g sirih merah), F2 (2g:4g), F3 (4g:2g), kelompok normal, kontrol negatif (basis salep), kontrol positif (povidone iodine 10%), dengan tiga kali perlakuan. Pengamatan 21 hari mencakup penurunan diameter luka F1 (1,75 ± 0,10), F2 (1,65 ± 0,34), F3 (1,12 ± 0,46) dengan persentase tertinggi pada F1 88%. Waktu epitelisasi (skala hari, F1 tercepat rata-rata hari ke-8). Kerapatan kolagen (skala histopatologi 0–3: 0=tidak ada, 1=menyebar tipis, 2=menyebar sedang tampak penyatuan, 3=memadat/terikat sempurna) dengan hasil histopatologi yang diperoleh yaitu F2 dan F3 skor 3, kontrol normal dan kontrol positif skor 2, kontrol negatif dan F1 skor 1. Uji ANOVA pada diameter menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antar kelompok (<em>p</em>=0,108). Secara deskriptif, F1 menunjukkan penurunan diameter dan epitelisasi tercepat, sementara F2 dan F3 optimal pada kolagen, mengindikasikan potensi kombinasi untuk penyembuhan luka meski tanpa signifikansi statistik p = 0,108.</p>Meylinda AnggrainiAnnisa PrimadiamantiGusti Ayu Rai Saputri
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012122223210.35311/jmpi.v12i1.940Uji Aktivitas Anti Jerawat Krim Kratom (Mitragyna speciosa) pada Tikus Wistar yang Diinduksi Propionibacterium acnes
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1104
<p>Jerawat (<em>acne vulgaris</em>) merupakan gangguan kulit inflamasi kronis yang berhubungan dengan inflamasi akibat <em>Propionibacterium acnes</em> (<em>P. acnes</em>). Meningkatnya kekhawatiran terhadap resistensi antibiotik mendorong pencarian alternatif terapi topikal berbasis bahan alam. <em>Mitragyna speciosa</em> (<em>M. speciosa</em>), yang dikenal sebagai kratom, mengandung metabolit sekunder bioaktif seperti alkaloid, flavonoid, senyawa fenolik, dan saponin yang dilaporkan memiliki aktivitas antibakteri dan antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi potensi anti jerawat dari krim topikal yang diformulasikan menggunakan ekstrak metanol <em>M. speciosa</em>. Sampel diekstraksi dengan metode maserasi, dilanjutkan dengan skrining fitokimia dan formulasi krim dengan konsentrasi ekstrak 5%, 10%, dan 15%. Aktivitas antibakteri terhadap <em>P. acnes</em> diuji menggunakan metode difusi cakram. Uji in vivo dilakukan pada tikus Wistar betina yang diinduksi <em>P. acnes</em>, dibagi ke dalam lima kelompok (n = 6 per kelompok), yaitu kontrol tanpa terapi (Acnes), asam azelaic (Aaz), serta tiga kelompok perlakuan krim ekstrak (MG 5, MG 10, MG 15). Tingkat keparahan jerawat dinilai melalui skor klinis dan pemeriksaan histopatologi jaringan telinga. Skrining fitokimia mengonfirmasi keberadaan alkaloid, flavonoid, fenol, dan saponin. Krim ekstrak konsentrasi 10% dan 15% menghasilkan zona hambat masing-masing sebesar 7,97 ± 0,40 mm dan 8,27 ± 0,91 mm, lebih rendah dibandingkan krim asam azelaic 20% (15,80 ± 0,00 mm). Analisis nonparametrik menggunakan uji <em>Kruskal–Wallis</em> menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antar kelompok pada hari ke-3 dan ke-5 (p > 0,05). Meskipun demikian, kelompok perlakuan ekstrak menunjukkan kecenderungan penurunan skor jerawat secara deskriptif, yang didukung oleh perbaikan gambaran histopatologis jaringan telinga. Temuan ini mengindikasikan adanya potensi aktivitas biologis krim ekstrak metanol <em>M. speciosa</em> sebagai kandidat terapi topikal jerawat, namun efektivitasnya masih memerlukan konfirmasi melalui optimasi formulasi dan penelitian lanjutan dengan kekuatan statistik yang lebih memadai.</p>Ariffialdi NurhidyattullohFath DwisariAdelia Chintya NingrumKhoirul Rista AbidinAbdurraafi’ Maududi DermawanNur ArsellaM. Dzaki Al GhifariM. Fikri AmrullohM. Erik FernandoSulisti Okta Romadhon
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012123324210.35311/jmpi.v12i1.1104Formulasi Emulgel Minyak Atsiri Biji Pala (Myristica fragrans) dengan Variasi HPMC pada Luka Bakar Derajat II
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1160
<p>Minyak atsiri biji pala (<em>Myristica fragrans</em>) memiliki aktivitas antiinflamasi, antioksidan, dan antimikroba sehingga berpotensi mempercepat penyembuhan luka bakar. Minyak atsiri bersifat lipofilik sehingga diformulasikan dalam bentuk emulgel yang dapat menghantarkan zat aktif yang sukar larut dalam air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi HPMC terhadap mutu fisik, stabilitas, dan aktivitas sediaan emulgel terhadap penyembuhan luka bakar derajat IIa, serta menentukan formula terbaik. Penelitian diawali dengan identifikasi minyak atsiri biji pala meliputi pemeriksaan organoleptik, berat jenis, indeks bias, kelarutan dalam etanol, dan analisis GC-MS, serta pembuatan sediaan emulgel minyak atsiri biji pala 3% dengan variasi konsentrasi HPMC sebesar 4%, 5%, dan 6%. Evaluasi mutu fisik sediaan emulgel meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, tipe emulsi, diameter globul, dan stabilitas. Data dianalisis menggunakan One Way ANOVA dan dilanjutkan uji <em>post hoc</em> Tukey. Aktivitas penyembuhan luka bakar diuji pada tiga ekor kelinci yang diberikan luka bakar derajat IIa dengan formula berbeda selama 12 hari. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal–Wallis dan dilanjutkan uji Mann–Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi konsentrasi HPMC berpengaruh terhadap mutu fisik, stabilitas, dan aktivitas penyembuhan luka bakar sediaan emulgel minyak atsiri biji pala. HPMC 5% menghasilkan sediaan homogen, pH 7,13 ± 0,03, viskositas 13.066 ± 488,8 cPs, daya sebar 6,47 ± 0,23 cm, daya lekat 2,96 ± 0,07 detik, diameter globul < 2 µm, serta stabil selama pengujian. Persentase penyembuhan luka pada hari ke-12 untuk F1, F2, dan F3 masing-masing sebesar 100%, sedangkan kontrol negatif sebesar 77,08%. Formula dengan HPMC 6% menunjukkan kecepatan penyembuhan luka yang lebih tinggi pada beberapa hari pengamatan, namun formula HPMC 5% memberikan keseimbangan mutu fisik, stabilitas, dan efektivitas penyembuhan luka bakar derajat IIa yang paling baik.</p>Ariana ArianaSiti AisiyahFitri Kurniasari
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012124325710.35311/jmpi.v12i1.1160The Evaluation of Antihypertensive Drug Use in Chronic Kidney Disease Patients at Prof. Dr. W. Z. Johannes Hospital Kupang
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1109
<p>Penyakit ginjal kronik (PGK) disebabkan oleh penurunan fungsi ginjal yang progresif dan irreversibel dinilai dari <em>Glomerular Filtration Rate</em> <60 mL/menit/1,73m<sup>2</sup> selama >3 bulan. Hipertensi menjadi penyebab penurunan fungsi ginjal dan sebaliknya penurunan fungsi ginjal yang progresif dapat memperburuk hipertensi. Pengendalian hipertensi dengan antihipertensi memperlambat progresivitas PGK dan menurunkan tingkat komplikasi kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan antihipertensi pada pasien PGK di RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang tahun 2024. Jenis penelitian observasional melalui pendekatan <em>cross sectional </em>(retrospektif) menggunakan data rekam medis pasien. Sampel dipilih dengan teknik <em>purposive sampling</em>, yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 98 pasien. Data yang diperoleh dideskripsikan karakteristik pasien dan pola penggunaan antihipertensi serta dievaluasi penggunaan obat berdasarkan kriteria tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat dan tepat dosis mengacu pada panduan PNPK, KDIGO dan JNC 8. Hasil penelitian menunjukkan pasien PGK mayoritas laki-laki (53,06%), usia <60 tahun (57,14%), dengan PGK stadium 5 (86,74%). Terapi hipertensi didominasi oleh terapi kombinasi (76,53%), dengan kombinasi 2 obat paling banyak digunakan yaitu golongan <em>Calcium Channel</em> <em>Blockers</em> (CCB) dan <em>Angiotensin Receptor Blocker </em>(ARB) (32,65%), serta kombinasi amlodipin dan candesartan sebagai jenis obat terbanyak (25,51%). Evaluasi rasionalitas menunjukkan tepat indikasi (100%), tepat pasien (100%), tepat dosis (100%), dan tepat obat (97,96%), di mana ketidaktepatan obat (2,04%) ditemukan pada pemilihan jenis antihipertensi. Secara keseluruhan, rasionalitas penggunaan obat berdasarkan empat kriteria tersebut mencapai 97,96%. Pola peresepan antihipertensi di Rumah Sakit telah sesuai dengan panduan klinis, sehingga perlu dipertahankan melalui Pemantauan Terapi Obat (PTO) secara berkala untuk mencegah risiko komplikasi kardiovaskular pada pasien PGK.</p>Maria Yangsye LengguFatmawati BlegurPriska Ernestina TendaEdityva MonichaFalentinus Duly
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012125826710.35311/jmpi.v12i1.1109Formulasi Dan Evaluasi Potensi Tabir Surya Sediaan Krim Ekstrak Terpurifikasi Daun Jambu Air Dan Daun Mangga
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1181
<p>Daun jambu air (<em>Syzygium aqueum</em>) dan daun mangga (<em>Mangifera indica</em> <em>L</em>.) mengandung senyawa fenolik yang berpotensi sebagai antioksidan dan fotoprotektor sekunder alami yang berpotensi memberikan perlindungan terhadap radikal bebas dan paparan radiasi sinar ultraviolet (UV) penyebab penuaan dini dan kerusakan kulit. Purifikasi ekstrak diketahui dapat meningkatkan senyawa aktif dan aktivitas ekstrak dengan meminimalkan zat ballas yang tidak mempunyai efek terapi. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan sediaan krim tabir surya kombinasi ekstrak terpurifikasi daun jambu air dan daun mangga serta mengevaluasi karakteristik fisik, aktivitas antioksidan dan nilai <em>Sun Protection Factor</em> (SPF). Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi, dipurifikasi dan diformulasikan kedalam bentuk krim serta dievaluasi karakteristik fisika-kimia, aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH, serta penentuan nilai SPF secara <em>in vitro</em> menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan sediaan krim kombinasi ekstrak terpurifikasi memilik karakteristik fisika kimia yang baik, aktivitas antioksidan dan nilai SPF yang berbeda antar formula dengan nilai IC50 optimum diberikan pada Formula III sebesar 270,46 µg/mL dan menunjukan potensi nilai SPF optimum diberikan pada Formula I sebesar 2,33. Disimpulkan variasi komposisi ekstrak berpengaruh signifikan terhadap aktivitas antioksidan, namun belum memberikan pengaruh nyata terhadap kemampuan fotoproteksi sediaan sehingga kombinasi ekstrak terpurifikasi daun jambu air dan daun mangga berpotensi dikembangkan sebagai tabir surya berbasis bahan alam dengan aktivitas antioksidan sebagai potensial fotoprotektor sekunder.</p>Salma Hilmy Rusydi HashimUlyati UlfaDimas Alfi AnandaDevi SusantiCut Aurelia Salsabila
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012126827610.35311/jmpi.v12i1.1181Chemical Markers from Arcangelisia flava (L.) Merr): Berberine and Dihydroberberine as In Silico Alfa-Glucosidase Inhibitors
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1183
Faturrahman FaturrahmanCarla Wulandari SabandarAlfiranty Yunita
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012127728710.35311/jmpi.v12i1.1183Pengaruh Mikroemulsi Andrographolide Terhadap Perilaku Depresi Mencit Jantan Menggunakan Metode Elevated Plus Maze dan Koordinasi Motorik
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1190
<p>Depresi merupakan gangguan mental yang dapat memengaruh aktivitas, perilaku, dan fungsi motorik. Andrographolide merupakan senyawa alami yang berpotensi menghasilkan efek antidepressant-like, namun kelarutannya yang rendah dapat membatasi efektivitas farmakologinya. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh mikroemulsi andrographolide terhadap perilaku mirip depresi pada mencit jantan menggunakan metode Elevated Plus Maze (EPM), serta menilai pengaruhnya terhadap koordinasi motorik melalui uji rotarod. Mencit jantan dibagi menjadi kelompok normal, negatif, positif (amitriptilin), serta perlakuan mikroemulsi andrographolide dosis 25, 50, dan 100 mg/kgBB. Parameter yang diamati meliputi persentase open arm entries (%OAE) dan time spent in open arms (%TSOA) pada uji EPM, serta latensi jatuh, durasi bertahan dan jumlah jatuh pada uji rotarod. Data dianalisis menggunakan uji parametrik atau non-parametrik sesui distribusi data dengan tingkat signifikansi p<0,05. Hasil menunjukkan bahwa mikroemulsi andrographolide dosis 100 mg/kgBB secara signifikan meningkatkan %OAE dan %TSOA, mengindikasikan peningkatan perilaku eksploratif dan potensi efek antidepressant-like/anxiolity-like. Pada uji rotarod, mikroemulsi andrographolide tidak menunjukkan gangguan koordinasi motorik berat dibandingkan kontrol positif. Dengan demikian, mikroemulsi andrographolide dosis 100 mg/kgBB berpotensi memberikan efek antidepressant-like pada model hewan dengan profil gangguan motorik yang rendah.</p>Sitti Raodah Nurul JannahWiwik RusdinWahyuni WahyuniNuralifah NuralifahNur Illiyyin AkibNita TrinovitasariArfan ArfanHariana HarianaLidya Agriningsih HarunaAdryan Fristiohady
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012128829710.35311/jmpi.v12i1.1190Formulasi Sediaan Spray Gel Tabir Surya Ekstrak Kulit Jeruk Manis (Citrus sinensis L.) Dengan Penentuan Nilai SPF (Sun Protection Factor)
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1052
<p>Kulit jeruk manis (<em>Citrus sinensis </em>L.) merupakan salah satu tanaman yang mengandung antioksidan yang dapat digunakan sebagai SPF (<em>Sun Protection Factor</em>). Tujuan penelitian ini untuk memformulasikan sediaan <em>spray gel</em> tabir surya ekstrak kulit jeruk manis (<em>Citrus sinensis </em>L.) dan untuk mengetahui aktifitas tabir surya sediaan <em>spray gel</em> dari ekstrak kulit buah jeruk manis (<em>Citrus sinensis </em>L.) dengan penentuan nilai SPF (<em>Sun Protection Factor</em>). Penelitian ini merupakan penelitian analitik, sampel diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dan diperoleh ekstrak kental 151,2 gram. Populasi dalam penelitian ini yaitu kulit jeruk manis, ekstrak kental diformulasi dalam bentuk sediaan <em>spray gel </em>pada konsentrasi ekstrak 1%,2%,3% dan 4%. Selanjutnya dilakukan evaluasi fisik sediaan meliputi uji organoleptik, uji pH, homogenitas, uji viskositas, uji daya sebar, daya lekat dan penentuan nilai SPF meggunakan alat spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa <em>spray gel</em> ekstrak kulit jeruk manis (<em>Citrus sinensis </em>L.), memenuhi syarat evaluasi fisik. <em>Spray gel</em> tabir surya ekstrak kulit jeruk manis (<em>Citrus sinensis </em>L.) dengan konsentrasi 4% memiliki nilai SPF yang lebih tinggi yaitu 1,90 masuk dalam kategori minimal yang menunjukan bahwa sediaan memiliki efek perlindungan terhadap radiasi sinar UV.</p>Dian Rahmaniar TrisnaputriMuhammad IsrulRismayanti FauziahWa Ode Ida FitriahNur Herlina NasirRisky Juliansyah PutriNur Hatidjah Awaliyah HalidPutri Mega WijayantiRiski Melani PutriRina Andriani
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012129830810.35311/jmpi.v12i1.1052Formulasi dan Evaluasi Sediaan Sunscreen Krim Kombinasi Daun Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas (L.) dengan Daun Ungu (Graptophyllum pictum (L.) Griff) Sebagai Antioksidan dan SPF
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1080
<p>Daun ubi jalar ungu dan daun ungu memiliki aktivitas antioksidan serta <em>sunscreen</em>. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik fisik krim sunscreen berbasis minyak dalam air (M/A) yang diformulasikan dengan kombinasi ekstrak daun ubi jalar ungu dan ekstrak daun ungu dalam berbagai konsentrasi. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%, kemudian diformulasikan dalam sediaan krim konsentrasi F0 (0%), F1 (3%:3%), F2 (4%:2%), dan F3 (2%:4%). Evaluasi meliputi uji organoleptik, pH, daya sebar, daya lekat, viskositas, stabilitas, aktivitas antioksidan (metode DPPH), serta penentuan nilai <em>Sun Protection Factor</em> (SPF). Hasil menunjukkan ekstrak daun ubi jalar ungu dan ekstrak daun ungu positif mengandung fenolik, alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid dan terpenoid. Daun ubi jalar ungu negatif steroid. Seluruh formula memiliki karakteristik fisik yang baik, dengan krim berwarna hijau tua hingga hijau muda, pH 6,47 – 8,40, daya sebar 5,1 – 6,8 cm, daya lekat 11,78 – 47,35 detik, viskositas sebelum stabilitas (5462 – 8838 cPs) dan setelah stabilitas (1427 – 6047 cPs). Nilai IC<sub>50</sub> sebelum stabilitas F1 (67.60 ppm), F2 (57.82 ppm), F3 (49.96 ppm). Nilai IC<sub>50</sub> setelah stabilitas F1 (173.89 ppm), F2 (160.30 ppm), F3 (148.70 ppm). Nilai SPF sebelum stabilitas F1 (3,39), F2 (1,07), F3 (1,00). Nilai SPF setelah stabilitas F1 (1,85), F2 (2,07), F3 (2,49). Analisis statistik menunjukkan perbedaan signifikan pada pH dan aktivitas antioksidan setelah uji stabilitas (p<0,05). Kesimpulannya, krim kombinasi ekstrak daun ubi jalar ungu dengan ekstrak daun ungu ini berpotensi sebagai <em>sunscreen </em>alami dengan aktivitas antioksidan sedang dan proteksi minimal, namun masih memerlukan optimasi formula untuk meningkatkan efektivitas dan stabilitas.</p>Inayah InayahPutri AmaliaAde Maria Ulfa
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012130932310.35311/jmpi.v12i1.1080Optimasi Komponen SNEDDS Kurkumin dengan Metode D-Optimal dan Aktivitas Terhadap Streptococcus mutans ATCC 25175
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1103
<p>Kurkumin merupakan senyawa aktif utama dari <em>Curcuma longa</em> yang termasuk dalam golongan <em>Biopharmaceutics Classification System</em> (BCS) kelas II dan memiliki aktivitas antibakteri terhadap <em>Streptococcus mutans</em>, bakteri utama penyebab karies gigi. Namun, pemanfaatan kurkumin masih terbatas karena memiliki kelarutan dalam air dan bioavailabilitas yang rendah. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, kurkumin diformulasikan dalam sistem penghantaran obat berbasis nanoemulsi menggunakan <em>Self-Nanoemulsifying Drug Delivery System</em> (SNEDDS). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh formula optimum SNEDDS kurkumin, mengevaluasi karakteristik fisikokimianya, serta menentukan aktivitas antibakterinya terhadap <em>Streptococcus mutans</em>. Formula SNEDDS disusun menggunakan kombinasi asam oleat sebagai fase minyak, Tween 80 sebagai surfaktan, dan PEG 400 sebagai kosurfaktan. Optimasi formula dilakukan menggunakan metode <em>D-optimal mixture design</em>. Formula yang diperoleh kemudian dikarakterisasi berdasarkan ukuran partikel, waktu emulsifikasi, <em>drug loading</em>, dan aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi agar terhadap <em>Streptococcus mutans</em> ATCC 25175. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula optimum SNEDDS kurkumin memiliki ukuran partikel sebesar 138,3 nm, waktu emulsifikasi 11,07 detik, nilai <em>drug loading</em> sebesar 16,33 mg/mL dan aktivitas antibakteri dengan diameter zona hambat sebesar 13,00 mm. Hasil tersebut menunjukkan bahwa formulasi SNEDDS mampu menghasilkan karakteristik nanoemulsi yang baik serta mempertahankan aktivitas antibakteri kurkumin terhadap <em>Streptococcus mutans</em>.</p>Aljufri MahmudIlham KuncahyoOpstaria Saptarini
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012132433810.35311/jmpi.v12i1.1103Karakterisasi Morfologi, Ukuran Partikel, dan Sifat Alir Selulosa Mikrokristalin (MCC) dari Tongkol Jagung Pulut (Zea mays ceratina) Asal Sulawesi Tenggara sebagai Kandidat Eksipien Tablet
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1219
Nur Illiyyin AkibRifa'atul MahmudahRezky Nur AshariNurma YunitaVica Aspadiah
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012133934610.35311/jmpi.v12i1.1219QSAR, Docking, Screening, Toxicity, And Pharmacokinetic Profile Of 4-Amino-1-Hydroxy-2-Oxo-1,8-Naphthyridine-3-Carboxamide Derivatives As Antihiv-1 Integrase In Silico
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1227
<p>Integrase is an important molecular target for HIV transmission. The function of integrase inhibitors in overcoming wild-type mutant resistance provides new advances in research. This study aimed to determine the physicochemical properties of 4-amino-1-hydroxy-2-oxo-1,8-naphthyridine-3-carboxamide derivative compounds on integrase enzyme inhibitory activity for HIV-1 treatment based on the QSAR equation, to determine the ligand-receptor hydrogen bond interaction through molecular relationships, to identify the features that drive the selectivity and activity of compounds targeting the integrase enzyme, to conduct virtual screening, and to predict toxicity and pharmacokinetic profiles in silico. QSAR descriptors, molecular docking, pharmacophore features, and virtual screening were calculated with MOE 2009.10 and statistical analysis with the SPSS Statistics 17.0 program. Then pharmacophore docking was performed on two selected compounds from the ZINC database, toxicity tests were performed with Toxtree and AdmetSAR, and pharmacokinetic profiles were determined with PreADMET. The QSAR model showed the best equation: Log (1/IC50) = -1.72 -0.983235703 Mr +0.146570594 AM1_Dipole +0.0019 AM1-HF -0.0895 log S +0.0000 AM1_Eele. The best scoring value in compound 5e is -78.5465. Both compounds have been predicted for suitability and safety, as well as their pharmacokinetic profiles.</p>Hardiyanti SyarifJumasni AdnanPutri JuantiNursalam HamzahNur Syamsi Dhuha
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012134735810.35311/jmpi.v12i1.1227In Silico Study of Anti-Inflammatory Activity of Balangla Fruit Compounds (Litsea cubeba) as AKR1C3 Inhibitor Candidates in Osteoarthritis
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1230
<p>Osteoarthritis (OA) is a joint disease characterized by thinning of the cartilage and synovial inflammation. Factors contributing to OA include aging, obesity, genetics, and lack of physical activity, with women being more frequently affected than men. This research aims to assess the potential anti-inflammatory activity of Balangla fruit (<em>Litsea cubeba</em>) as a candidate AKR1C3 inhibitor through an in silico approach. Molecular docking analysis was performed using the AKR1C3 receptor (PDB ID: 1S2A). Alpha-Caryophyllene and Beta-Caryophyllene showed the strongest binding affinity of -8.7 kcal/mol and -8.5 kcal/mol, respectively, indicating favorable interactions with the target receptor. Based on Lipinski's rule, it shows that compounds from Balangla fruit (<em>L. cubeba</em>) meet the basic parameters, in addition to showing potential as anti-inflammatory agent candidates for osteoarthritis, these compounds also have good ADME-Tox profiles with relatively low toxicity levels, thus supporting their further development as drug candidates. Therefore, further research through in vitro and in vivo testing is still needed to confirm its safety, effectiveness, and potential safety in clinical applications.</p>Rusni Ernopita UlanDora Dayu Rahma TuristaHerliani HerlianiMiningsih MiningsihRisty GeofaniDorce BaniSintya Sintya
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012135937310.35311/jmpi.v12i1.1230Antidiabetic Effects of Curcuma xanthorrhiza n-Hexane Fraction: In Silico and In Vivo Study in Alloxan Mice
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1234
Anissa SusilawatiSherin Anindhia MaharaniDea Tri Oktaviani
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012137438510.35311/jmpi.v12i1.1234Uji Aktivitas Antioksidan dan Penetapan Nilai IC50 Fraksi Etanol-Air Daun Jelatang (Urtica dioica L.)
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1246
Galuh NurhayatiNawafila FebruyaniAinu Zuhriyah
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012138639410.35311/jmpi.v12i1.1246Formulasi, Evaluasi, dan Aktivitas Hair Tonic Ekstrak Biji Kopi Arabika (Coffea arabica L.) Terhadap Pertumbuhan Rambut
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1251
<p>Biji kopi Arabika mengandung metabolit sekunder diantaranya kafein dan senyawa fenolik yang berpotensi untuk mencegah kerontokan dengan merangsang pertumbuhan rambut. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi senyawa kafein pada ekstrak biji kopi Arabika, untuk memformulasi <em>hair tonic</em> ekstrak biji kopi Arabika yang memenuhi syarat mutu fisik, untuk mengetahui efek iritasi dan efektivitas pertumbuhan rambut dari sediaan <em>hair tonic</em> ekstrak biji kopi Arabika. Metode ekstraksi yang digunakan yaitu metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%, selanjutnya dibuat formulasi sediaan <em>hair tonic</em> dengan konsentrasi F1 (0,25%), F2 (0,75%), F3 (1,75%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak biji kopi Arabika positif mengandung senyawa kafein dan menghasilkan sediaan <em>hair tonic</em> dengan karakteristik fisik yang sesuai berdasarkan parameter pengujian yang dilakukan, uji iritasi, dan uji efektivitas rambut yang dinilai berdasarkan rata-rata panjang rambut kelinci pada hari ke-21 yaitu sediaan <em>hair tonic</em> ekstrak kopi Arabika F1(0,25%) 15,92 mm, F2 (0,75%) 18,73 mm, F3 (1,75%) 23,19 mm, produk komersial <em>hair tonic</em> berbahan alam (K+) 14,66 mm dan F0 (tanpa zat aktif) 12,52 mm. Sediaan <em>hair tonic</em> dengan ekstrak biji kopi Arabika F3 (1,75%) menunjukkan pertumbuhan rambut tertinggi dan menghasilkan respons yang lebih baik dibandingkan kontrol positif yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil ANOVA (p=0,004) menunjukkan konsentrasi ekstrak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan rambut, dengan F2 dan F3 berbeda signifikan dari F0, K+, dan F1.</p>Arfiani ArifinSri Ulfiyanti SAngelika Mutiara SariAsyifania Putri SalsabilahUmmul Fadhilah
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012139540310.35311/jmpi.v12i1.1251Efektivitas Purifikasi Terhadap Kandungan Flavonoid dan Penurunan Kadar Glukosa Ekstrak Daun Sembukan (Paederia foetida L.)
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1254
<p>Sembukan leaves (<em>Paederia foetida </em>L.) are medicinal plants. This plant contains secondary metabolites, namely flavonoids, which have antidiabetic activity. This study was conducted to determine the effect of purification on total flavonoids levels and antidiabetic activity of sembukan leaf extract and to determine the correlation between the two. The sample was in the form of sembukan leaves that were extracted and purified to remove ballast substances such as chlorophyll and odor-causing components. Determination of total flavonoids levels was carried out by UV-Vis spectrophotometry using AlCl<sub>3</sub> reagent and antidiabetic activity was tested based on the extract’s ability to reduce glucose levels and expressed as EC<sub>50</sub> values. Based on the results of the study, the purified extract of sembukan leaves (ETDS) had a higher total fkavonoid content of 36,1209 mgQE/gram compared to the crude extract of sembukan leaves (EKDS) of 12,2018 mgQE/gram. The purification process affects the antidiabetic activity of the sembukan leaf extract with the EC<sub>50</sub> value of the purified sembukan leaf extract (ETDS) of 15,3548 ppm and the crude sembukan leaf extract (EKDS) of 20,0568 ppm. Statistical analysis shows that there is a significant difference between the crude sembukan leaf extract (EKDS) and the purified sembukan leaf extract (ETDS) (sig.<0,05) and there is a very strong negative correlation (r = -1,000) between the total flavonoid content and the EC<sub>50</sub> value. These result indicate that the higher the total flavonoid content of the sembukan leaf extract, the smaller the EC<sub>50</sub> value, as an indicator that its antidiabetic activy is stronger. These results indicate that the purification process can increase the flavonoid content and the potential antidiabetic activity of the sembukan leaf extract</p>Dewi NurfitriyaniNovena Yety LindawatiAlip Desi Suyono Saputri
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012140441310.35311/jmpi.v12i1.1254Formulasi dan Evaluasi Sediaan Gel Dari Fermentasi Kombucha Dan Sari Buah Nanas (Ananas Comosus L.)
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1014
<p>Indonesia beriklim tropis dengan paparan sinar ultraviolet (UV) tinggi yang dapat memicu pembentukan radikal bebas dan menyebabkan kerusakan kulit serta penuaan dini. Oleh karena itu, diperlukan antioksidan untuk menetralisir efek tersebut. Kombucha sebagai hasil fermentasi teh mengandung polifenol dan probiotik yang berpotensi sebagai antioksidan, sedangkan sari buah nanas kaya akan vitamin C dan enzim bromelin yang juga berperan sebagai antioksidan serta pelembap kulit. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antioksidan kombinasi fermentasi kombucha dan sari nanas serta memformulasikannya dalam bentuk gel pelembap. Penelitian dilakukan secara eksperimental di laboratorium dengan pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dan evaluasi sifat fisik gel meliputi pH, viskositas, daya sebar, dan daya lekat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi 15% kombucha dan 75% sari nanas memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 39,374 µg/mL. Formula gel terbaik diperoleh pada basis F1 dengan pH 5,32, viskositas 4356 cPs, daya sebar 6,36 cm, daya lekat 5,63 detik, serta nilai IC50 60,120 µg/mL. Kesimpulannya, gel pelembap berbahan alami ini efektif sebagai antioksidan dan berpotensi melindungi kulit dari kerusakan.</p>M. Ramadhan SaputroSoni MuhsininMuhamad Reza PahleviRika Sri Mustopa
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012141442310.35311/jmpi.v12i1.1014Bioaktivitas Fraksi Kayu Songga (Strychnos ligustrina) sebagai Penangkal Radikal Bebas DPPH
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1235
Novita Sari SyukurAbd. Arif Rachmat HalimNasrudin NasrudinMuhammad ArbaHenny KasmawatiAri SartinahMuhammad Ilyas YAsriullah Jabbar
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012142443010.35311/jmpi.v12i1.1235Aktivitas Antioksidan Fraksi Etil Asetat, N-Heksana, dan Metanol dari Ekstrak Kulit Batang Lannea Coromandelica dengan Metode Dpph (2,2-Difenil-1-Pikrilhidrazil)
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1266
Ayu MuthmainnahNasrudin NasrudinAsriullah JabbarFatahu Fatahu
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012143144010.35311/jmpi.v12i1.1266Karakterisasi dan Stabilitas Fisik Sediaan Nanokrim Ekstrak Daun Matoa (Pometia pinnata)
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1075
Erlina FatmasariNor LatifahRisa AhdyaniM. Renaldy Noor AgikaFitria Noor Hafifah
Copyright (c) 2026 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2026-06-302026-06-3012144144810.35311/jmpi.v12i1.1075