Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi
Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluyaen-USJurnal Mandala Pharmacon Indonesia2442-6032Potential Bioactive Compounds of Mahogany Seeds (Swietenia mahagoni Jacq.) as Antidiabetics through Computational Studies in Silico Molecular Docking
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/721
<p>Diabetes is a chronic endocrine metabolic disorder in insulin production or insulin resistance. Mahogany seeds are plants that have bioactive compounds that can treat diabetes mellitus. This study was conducted to determine the interaction between bioactive compounds of mahogany seeds and the Protein Tyrosine Phosphatase-1B (PTP1B) receptor with PDB ID code: 1T49. Bioactive compounds from mahogany seeds were subjected to docking simulations of 15 compounds with the reference ligand glibenclamide. In silico studies showed an interaction between bioactive compounds of mahogany seeds and PTP1B, the results obtained were in the form of binding energy between the ligand and the target protein. The compound with the best binding energy value was MSC15 (Chisocheton) with a binding energy value of -8.86 kcal/mol. The PyMOL program was used to visualize the 3D conformation of the molecule and ligand-protein interactions, the output was in the form of a Root Mean Square Deviation (RMSD) value of 1,363 Å show good value. The mahogany seed test ligand was also tested pharmacokinetically using the website <a href="https://preadmet.bmdrc.kr/">https://preadmet.bmdrc.kr/ </a> ,Pharmacokinetic parameter tests showed that mahogany seed compounds have excellent intestinal absorption (HIA >90%), strong plasma protein binding (>80%), and variable clearance rates, indicating high potential as an antidiabetic candidate.</p>Aji HumaediMuhamad ArdiansyahAudrey Agustin WidiantiMuh Aly Sharqoni
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-252025-12-2511231832610.35311/jmpi.v11i2.721Potensi Interaksi Obat Pada Pasien Geriatri Dengan Diabetes Melitus Tipe-2 dan Hipertensi di RSUP Dr. M. Djamil Padang
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/820
<p>Angka kesakitan pada pasien geriatri cenderung meningkat karena terjadinya penurunan fisiologi tubuh dari pasien geriatri. Penyakit yang sering diderita pasien geriatri adalah diabetes mellitus dan hipertensi. Interaksi obat adalah modifikasi efek suatu obat, akibat obat lain yang diberikan secara bersamaan sehingga keefektifan atau toksisitas obat berubah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya potensi dan jenis interaksi obat yang terjadi. Sampel pada penelitian ini adalah pasien geriatri dengan penyakit diabetes melitus tipe 2 dan hipertensi di instalasi rawat inap penyakit dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2022. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analisis dengan pengambilan data secara retrospektif, dan dianalisis menggunakan aplikasi drugs.com dan medscape. Jumlah populasi pada penelitian ini adalah 136 pasien, dan sampel yang memenuhi kriteria inklusi adalah sebanyak 60 pasien. Hasil analisa data didapatkan 47 pasien berpotensi mengalami interaksi obat, dimana terdapat 131 kasus potensi interaksi obat. Jenis interaksi obat yang terjadi adalah interaksi obat farmakokinetik sebanyak 32 kasus (24,43%), interaksi obat farmakodinamik sebanyak 88 kasus (67,17%) dan interaksi obat yang tidak diketahui ada 11 kasus (8,4%). Tingkat keparahan interaksi obat menunjukkan 23 kasus (17,56%) dengan potensi keparahan minor, 98 kasus (74,81%) dengan potensi keparahan moderat dan 10 kasus (7,63%) dengan potensi keparahan mayor. Penelitian menyimpulkan bahwa ada obat-obat yang berpotensi berinteraksi pada pasien geriatri dengan penyakit diabetes melitus tipe-2 di instalasi rawat inap penyakit dalam RSUP Dr.M.Djamil Padang tahun 2022 yang dikhawatirkan dapat meningkatkan morbiditas pada pasien geriatri. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi bagi tenega kesehatan untuk mencegah terjadinya interaksi obat.</p>Lola AzyenelaPuspa PameswariLola Azyenela
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-252025-12-2511232733410.35311/jmpi.v11i2.820Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Semarang
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/841
<p>Antibiotik merupakan obat untuk infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Penggunaan antibiotik yang tidak efektif dapat menjadi penyebab resistensi antibiotik. Salah satu strategi untuk menanggulangi permasalahan resistensi antibiotik diperlukan evaluasi penggunaan antibiotik untuk menentukan penggunaan obat secara bijak. Tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini yaitu melakukan observasi dan analisis terhadap pasien rawat inap di Rumah Sakit Kabupaten Semarang tahun 2022 dalam profil penggunaan antibiotik. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian observasional deskriptif dan metode pengumpulan data berupa retrospektif. Selanjutnya teknik untuk mengambil sampel mengimplementasikan <em>purposive sampling</em> dengan kriteria inklusi, yaitu pasien rawat inap yang didiagnosis penyakit infeksi bakteri, menjalani terapi antibiotik berkode <em>Antibacterials for systemic use </em>(J01), dan pasien rawat inap berusia 19-59 tahun. Sementara, kriteria ekslusi yaitu antibiotik yang digunakan tidak berkode ATC. Selanjutnya metode analisis data secara kuantitatif mengimplementasikan metode ATC/DDD (<em>Anatomical Therapeutic Chemical/DefIned Daily Dose</em>) dan DU 90% (<em>Drug Utilizaton</em> <em>90%</em>). Temuan dalam penelitian ini merepresentasikan total penggunaan antibiotik sebesar 97,55 DDD/100 <em>patien-days </em>dengan total LOS (<em>Lenght Of Stay</em>) pasien yaitu 5456 hari. Antibiotik dengan nilai penggunaan tertinggi pada antibiotik spektrum luas golongan sefalosporin generasi 3 yaitu ceftriaxone sebesar 34,95 DDD/100 <em>patien-days. </em>Kemudian, untuk antibiotik yang masuk ke dalam segmen DU 90% diantaranya ceftriaxone (35,83%), levofloxacin parenteral (35,27%), ampicillin sulbactam (13,37%), dan levofloxacin oral (4,56%), sehingga perlu lebih ditekankan terkait evaluasi, perencanaan pengadaan obat, serta pengendalian penggunaannya.</p>Firna Fauzul IktsirohYane Dila KeswaraMeirisa Mona Laksmita
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-252025-12-2511233534210.35311/jmpi.v11i2.841Efektivitas Krim Ekstrak Daun Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.) Terhadap Penyembuhan Luka Bakar dan Pertumbuhan Staphylococcus aureus
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/855
<p>Senyawa aktif dalam daun ubi jalar ungu (<em>Ipomoea batatas</em> L.), seperti flavonoid, tanin, dan antosianin berpotensi mempercepat proses penyembuhan luka dan berfungsi sebagai antibakteri. Dalam bentuk sediaan krim topikal, ekstrak ubi jalar ungu (<em>I. batatas</em> L.) efektif menyembuhkan luka bakar serta menghambat bakteri seperti <em>Staphylococcus aureus</em>. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas krim ekstrak ubi jalar ungu (<em>I. batatas</em> L.) terhadap penyembuhan luka bakar dan pertumbuhan bakteri <em>S. aureus</em>. Krim dibuat dengan variasi konsentrasi ekstrak sebesar 3%, 5%, dan 8%. Uji efektivitas terhadap penyembuhan luka bakar pada punggung kelinci dibuat menggunakan lempeng koin logam dengan diameter 2,7 cm dan dipanaskan dengan lilin selama ± 5 menit dan pengujian efektivitas pertumbuhan bakteri <em>S. aureus</em> dengan metode difusi agar. Rata rata diameter penyembuhan luka pada Kontrol negatif (2,74 cm <u>+</u> 0,02708), formula 1 (2,70 cm <u>+</u> 0,04320), formula 2 (2,70 cm <u>+</u> 0.05099 cm) dan formula 3 (2,69 cm <u>+</u> 0,05477) dan kontrol positif (2,59 cm <u>+</u> 0,16062), adapun hasil dari uji efektivitas terhadap pertumbuhan <em>S. aureus </em>dengan rata-rata diameter zona hambat yaitu Kontrol negatif (3,9 <u>+</u> 3,37787) F1 (9,16 mm <u>+</u> 2,36714), F2 (9,6 mm <u>+</u> 3,03150, F3 (9,77 mm <u>+</u> 2,88675) , dan kontrol positif <em> </em>(11,7 mm <u>+</u> 1,83576 ). Hasil uji menunjukkan bahwa krim ekstrak daun ubi jalar ungu secara statistik tidak berbeda signifikan (<em>p</em> > 0,05) dengan kontrol positif dan negatif, namun secara farmakologis mampu memperkecil diameter luka bakar. Sementara itu, uji antibakteri terhadap <em>S. aureus</em> menunjukkan aktivitas yang berbeda signifikan (<em>p</em> < 0,05) dibandingkan kontrol negatif.</p>.Jumasni AdnanNurmala RahmanSelviana SelvianaPutri JuantiHardiyanti Syarif
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-252025-12-2511235436110.35311/jmpi.v11i2.855Metabolite Profiling and Anti-Inflammatory Potential of East Kolaka Forest Honey: Targeting Protein Denaturation through GC-MS/MS Characterization
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/860
<p><em>Forest honey is a natural product produced by wild bees that gather nectar from various types of flowers, creating a unique chemical composition influenced by the biodiversity of the surrounding environment. This honey contains bioactive compounds such as phenolics, flavonoids, terpenoids, and volatile substances that contribute to its pharmacological properties, particularly as an anti-inflammatory agent. This study aimed to identify bioactive compounds in forest honey from East Kolaka using Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) and to evaluate its anti-inflammatory activity through in vitro assays, including red blood cell (RBC) membrane stabilization, protein denaturation inhibition, and nitric oxide (NO) production inhibition. GC-MS analysis revealed several volatile compounds with antioxidant, antimicrobial, and anti-inflammatory properties. The RBC membrane stabilization assay showed increased membrane stability as honey concentration increased, reaching 92.55% at 100 mg/L compared to 97.00% for sodium diclofenac. In the protein denaturation assay, East Kolaka forest honey had an IC?? value of 12.70?±?0.02?mg/L, categorized as moderate, while the NO inhibition assay recorded an IC?? of 2.97?±?1.34?mg/L, indicating strong activity, approaching that of vitamin C (1.07?±?0.39?mg/L). Statistical tests showed significant differences (p < 0.05) in all tested parameters compared to positive controls. These results support the potential of East Kolaka forest honey as a natural anti-inflammatory agent through mechanisms involving membrane stabilization, protein protection, and nitric oxide suppression.</em></p>Hariana HarianaWahyuni WahyuniIrnawati IrnawatiLa Ode Muhammad FitrawanDian MunasariAgung Wibawa Mahatva YodhaLa Ode Muhammad Julian PurnamaAdryan Fristiohady
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-252025-12-2511236237310.35311/jmpi.v11i2.860Pengaruh Suhu Penyimpanan Ekstrak Etanol Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb) Terhadap Aktivitas Antioksidan
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/862
<p><em>Pandanus amaryllifolius</em> Roxb atau daun pandan wangi diketahui memiliki aktivitas antioksidan dengan kategori yang sangat kuat. Faktor lingkungan seperti kondisi pH, oksigen, cahaya dan suhu pada penyimpanan ekstrak dapat mempengaruhi aktivitas antioksidan. Salah satu faktor penting dalam ketidakstabilan senyawa antioksidan pada ekstrak yaitu adanya perbedaan dalam suhu penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu penyimpanan ekstrak etanol daun pandan wangi terhadap aktivitas antioksidan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode DPPH. Ekstrak etanol dari daun pandan wangi disimpan dalam tiga kondisi suhu yang berbeda yaitu pada suhu 27±2 ? (suhu ruang), suhu 5±2 <sup>o</sup>C (suhu dingin), dan suhu -10±2 ? (suhu beku) selama 14 hari (2 minggu). Selanjutnya, ekstrak etanol daun pandan wangi diuji aktivitas antioksidannya pada hari ke-0 dan ke-14. Hasil aktivitas antioksidan pada hari ke-0 sebesar 37,47 ppm dan hari ke-14 disuhu ruang sebesar 54,03 ppm, suhu dingin sebesar 42,52 ppm, dan suhu beku sebesar 59,55 ppm. Hasil analisis ANOVA dan uji lanjutan post hoc Tukey menunjukkan adanya perbedaan nilai IC<sub>50 </sub>pada seluruh suhu penyimpanan. Hal ini menunjukkan bahwa suhu penyimpanan berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap nilai IC<sub>50</sub>.</p>Wike Deni Setyo HandayaniDina FebrinaDesy Nawangsari
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-252025-12-2511237438010.35311/jmpi.v11i2.862Hypoglycemic Effect of Ethanol Extract of Snake Fruits Skin (Salacca edulis R.) in Rats (Rattus novergicus) Wistar Induced By Alloxan
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/874
<p>Objective: This study was conducted to determine the effect of reducing blood sugar levels from ethanolic extract of snake fruit peel on male Wistar rats induced by alloxan with fasting blood glucose (FBS) parameters. Method: A total of 30 male Wistar rats were divided into 6 groups (N = 5). Group I (normal control) was not given any treatment. Group II (negative control) was only induced by alloxan 150 mg/kgBW of rats i.p. Group III (positive control) was induced by alloxan 150 mg/kgBW of rats then treated with glibenclamide 0.9 mg/200gBW. Groups IV; V; VI were induced by alloxan 150 mg/kgBW of rats then treated with ethanolic extract of snake fruit peel 2.88 mg/200gBW and 5.76 mg/200gBW; and 11.52 mg/200gBW. Snake fruit peel extract was given from the 4th day to the 27th day. Fasting blood glucose levels were measured on day 0, day 4, day 11, and day 28. Results: The results of qualitative research showed that snake fruit skin contains flavonoid and terpenoid compounds. This study also showed that male Wistar rats experienced a decrease in blood glucose but had not reached normal levels after being given extract doses I, II, and III with each final fasting glucose level of 347.98 mg/dL, 364.68 mg/dL, and 308.18 mg/dL. The final results of the study showed that there was normal fasting blood glucose levels in the positive group while the other groups did not. Conclusion: The dose of 11.52 mg/200gBW when compared to the negative group, doses I and II provided a significant effect of lowering blood glucose but were not yet able to lower blood glucose levels to normal.</p>Muhammad Azril Hardiman MahulauwDjulfikri MewarMarisa Anggia IbrahimMaryam LihiSuryanti TukimanMuh. Danial FajriSitti Hadijah
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-252025-12-2511238138910.35311/jmpi.v11i2.874Uji Aktivitas Ekstrak Etanol Daun Benalu Mangga (Dendrophthoe pentandra L.) pada Indeks Fagositosis Mencit (Mus musculus)
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/884
<p>Tanaman benalu mangga memiliki kandungan senyawa seperti alkaloid, flavonoid, terpenoid, dan polifenol yang mana kandungan tersebut berpotensi sebagai antiinflamasi, antioksidan, antikanker, dan immunomodulator. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas pada indeks fagositosis dari ekstrak etanol daun benalu mangga pada mencit yang diinduksi karbon. Penelitian ini menggunakan 25 ekor mencit jantan yang dikelompokkan menjadi 5 kelompok yaitu kelompok kontrol negatif (CMC Na), kelompok kontrol positif (methylprednisolon) dengan dosis 1,04 mg/kg BB mencit, dan kelompok perlakuan ekstrak dosis 420 mg/kg BB, 840 mg/kg BB, dan 1.680 mg/kg BB. Mencit diberi perlakuan selama 7 hari peroral dan pada hari ke-8 diinduksi karbon secara intravena melalui ekor mencit. Metode yang digunakan adalah metode bersihan karbon dengan parameter indeks fagositosis mencit dan persentase indeks organ limpa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun benalu mangga memiliki aktivitas penurunan pada indeks fagositosis dan persentase indeks organ limfa. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun benalu mangga memiliki aktivitas dengan penurunan indeks dan persentase indeks organ limfa dengan dosis efektif 840 mg/kgBB yang sebanding dengan kontrol positif.</p>Yusnita Mayang VistalokaIka PurwidyaningrumJena Hayu Widyasti
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-252025-12-2511239039610.35311/jmpi.v11i2.884Eksplorasi Efek Farmakologis Kombinasi Ekstrak Daun Tammate (Lannea coromandelica) dan Daun Pelangi (Eucalyptus deglupta) terhadap Penyembuhan Luka Bakar pada Mencit
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/952
<p>Luka bakar merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti infeksi dan keterlambatan penyembuhan. Upaya pengembangan terapi berbasis bahan alam terus dilakukan untuk menemukan alternatif yang efektif dan aman. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas ekstrak daun tammate (<em>Lannea coromandelica</em>) dan daun pelangi (<em>Eucalyptus deglupta</em>) dalam model hewan uji luka bakar, baik secara tunggal maupun kombinasi. Metode penelitian diawali dengan pembuatan luka bakar pada punggung mencit, kemudian dilakukan pengamatan diameter luka secara periodik selama 18 hari. Perlakuan dibagi menjadi lima kelompok, yaitu kontrol positif (Bioplacenton<sup>®</sup>), kontrol negatif (basis vaselin), ekstrak daun tammate (EDT), ekstrak daun pelangi (EDP), dan kombinasi EDT+EDP. Identifikasi metabolit sekunder dilakukan melalui skrining fitokimia, sedangkan efektivitas penyembuhan dinilai berdasarkan pengurangan diameter luka dan persentase kesembuhan. Hasil skrining menunjukkan kedua ekstrak positif mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin. Pengamatan penyembuhan luka menunjukkan bahwa kombinasi EDT+EDP mencapai tingkat kesembuhan 96,9% pada hari ke-18, hampir setara dengan Bioplacenton<sup>®</sup> (97,0%), sementara penggunaan tunggal masing-masing ekstrak memberikan hasil 86,9% (EDT) dan 94,6% (EDP), dengan kontrol negatif hanya mencapai 69,9%. Kesimpulan penelitian ini adalah kombinasi ekstrak daun tammate 5% dan daun pelangi 5% memberikan efek sinergis dalam mempercepat penyembuhan luka bakar, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai alternatif terapi berbasis bahan alam.</p>Muh. Fadhil As'adSiti Sahara AbdullahNasrullah NasrullahAnnisa Yulia Rahma
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-252025-12-2511239740610.35311/jmpi.v11i2.952Karakterisasi Senyawa dan Aktivitas Antidiabetik Ekstrak Etanol Batang Kesum Polygonum minus Huds. Pada Tikus Hiperglikemik
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1035
<p>Tanaman Kesum (<em>Polygonum minus</em> Huds) banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Kalimantan Barat sebagai bahan makanan bubur pedas. Kesum memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengkaji lebih jauh mengenai kandungan senyawa dan manfaat batang tanaman kesum yang berpotensi sebagai obat herbal bagi khususnya sebagai antidiabetik. Penelitian ini menggunakan tikus putih (<em>Rattus norvegicus</em>) yang dibagi menjadi 6 kelompok (KN : kel. normal, K- : kel. negatif (STZ), K+ : kel. Positif (STZ+metformin), P1 : kel. Perlakuan I (STZ+ ekstrak 25 mg/200g), P2 : kel. Perlakuan II (STZ+ ekstrak 50 mg/200g), P3 : kel. Perlakuan III (STZ+ekstrak 100mf/200g) dengan masing-masing 6 sampel tikus perlakuan. Analisis kandungan senyawa bioaktif dengan GC-MS, penentuan glukosa darah secara spektrofotometri, profil darah menggunakan <em>hematology analyzer</em> dengan prinsip impedance dan histopatologi pancreas dengan pewarnaan jaringan H&E. Analisis GC-MS ekstrak etanol batang kesum diperoleh senyawa yang dominan yaitu didominasi oleh Cyclopentadecanone;Cyclopropanetetradecanoic acid; Hexadecanoic acid; Borane, diethylmethyl-, 9-Octadecenal, Hexadecanoic acid, Urs-12-en-28-al. Senyawa tersebut dilaporkan diduga memiliki aktivitas bioaktif sebagai obat. Data yang didapatkan dianalisis dengan ANOVA one-way. Hasil pemeriksaan glukosa darah mengalami penurunan dengan dilakukan pemberian terapi ekstrak batang kesum. Profil darah pada parameter leukosit dan trombosit mengalami perbaikan dengan penurunan yang signifikan serta jumlah eritrosit, nilai hemoglobin dan hematokrit juga mengalami peningkatan sebagai tanda adanya perbaikan kondisi. Histopatologi pankreas menunjukan perbaikan sel endokrin dan ukuran diameter pulau Langerhans. Kesimpulan dari penelitian yaitu berdasarkan analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan (p < 0,05) pada setiap kelompok perlakuan.</p>Fadli SukandiarsyahMeri RopiqaRahmi Jumadilah
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-252025-12-2511241743010.35311/jmpi.v11i2.1035Antihiperglikemia Postprandial Dari Ekstrak Daun Nipah (Nypa fruticans. Wurmb) Terhadap Tikus Normoglikemia
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1043
Bangkit Riska PermataDanang Raharjo
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-252025-12-2511243144010.35311/jmpi.v11i2.1043Hubungan Level Depresi terhadap Kepatuhan Minum Obat Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Kota Makassar
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/789
<p>Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) merupakan salah satu penyakit kronis yang memiliki prevalensi cukup tinggi. Kondisi depresi pada pasien dapat memengaruhi tingkat kepatuhan dalam mengonsumsi obat serta berdampak buruk pada pengendalian kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara tingkat depresi dan kepatuhan pengobatan pada penderita DMT2 di beberapa Puskesmas Kota Makassar. Metode penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 150 pasien dari empat puskesmas. Tingkat depresi dinilai menggunakan instrumen Beck Depression Inventory-II (BDI-II), sementara kepatuhan minum obat diukur dengan Medication Adherence Rating Scale (MARS). Analisis data dilakukan melalui uji regresi logistik multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden (84,7%) memiliki tingkat kepatuhan sedang, sedangkan 15,3% termasuk dalam kategori kepatuhan tinggi. Berdasarkan tingkat depresi, 24,7% pasien berada dalam kategori normal, 30% mengalami gangguan suasana hati ringan, 17,3% berada pada ambang depresi, dan 28% mengalami depresi ringan hingga sedang. Analisis bivariat mengungkapkan bahwa lama pendidikan memiliki hubungan signifikan dengan kepatuhan pengobatan. Sementara itu, analisis multivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat depresi dan kepatuhan minum obat (aOR: 0,156; 95% CI: 0,038–0,636; p = 0,010). Temuan ini mengindikasikan bahwa depresi berperan penting dalam memengaruhi kepatuhan pengobatan pasien DMT2. Oleh karena itu, penanganan depresi perlu menjadi pertimbangan dalam tata laksana DMT2 guna meningkatkan kepatuhan terapi dan kontrol glikemik yang lebih baik.</p>Mutiara Cahya UtamiFrederika TangdilintinA. AnggrianiMuh. Akbar Bahar
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-252025-12-2511244144910.35311/jmpi.v11i2.789Analisis Kuantitatif dan Kualitatif Penggunaan Antibiotik pada Pasien Rawat Inap di Ruang Penyakit Dalam RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/826
<p>Infeksi merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang masih menjadi perhatian utama karena berdampak luas terhadap masyarakat. Antibiotik merupakan terapi untuk penyakit infeksi yang diakibatkan oleh bakteri. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dengan indikasi, dosis, dan lama pemberian dapat mengakibatkan resistensi antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan antibiotik secara kuantitatif dan kualitatif guna mendukung penggunaan antibiotik menjadi lebih bijak dan rasional. Penelitian ini bersifat observasional dengan pendekatan deskriptif secara retrospektif menggunakan teknik purposive sampling yang dilakukan di ruang penyakit dalam RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro selama periode Juli hingga Desember 2024. Analisis secara kuantitatif dilakukan menggunakan metode ATC/DDD serta analisis DU90%, sementara analisis kualitatif dilakukan berdasarkan Pedoman Penggunaan Antibiotik Kemenkes RI 2021, Formularium RSUD, serta referensi klinis internasional seperti <em>Johns Hopkins Antibiotic Guidelines, Drug Information Handbook</em> dan <em>British National Formulary</em>. Hasil menunjukkan bahwa total DDD/100 hari rawat adalah 80,83, dengan seftriakson adalah antibiotik yang sering digunakan sebesar 26,97 atau 33,37%. Antibiotik dalam segmen DU90% meliputi seftriakson, prokain benzil penisilin, metronidazol, sefepim, dan meropenem. Analisis kualitatif pada 107 pasien menunjukkan ketepatan indikasi dan pasien sebesar 100%, ketepatan pemilihan obat 81,31%, dan ketepatan dosis sebesar 67,29%. Hasil ini menekankan bahwa pentingnya upaya berkelanjutan dalam mengoptimalkan praktik pemberian dosis serta mendukung program pengendalian resistensi antimikroba untuk meningkatkan penggunaan antibiotik yang rasional dan menurunkan risiko terjadinya resistensi.</p>M. Rosichan AnwarTiti Agni HutahaenAbdul BasithSebilah Sabil Noer
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-252025-12-2511245045710.35311/jmpi.v11i2.826Antibacterial Activity of Bajakah Tampala (Spatholobus littoralis Hassk.) Methanol Extract in Roll-On Deodorant against Staphylococcus epidermidis
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/865
<p>Body malodor results from the bacterial breakdown of apocrine gland secretions, with <em>Staphylococcus epidermidis</em> identified as a key contributor. Conventional deodorants often rely on synthetic compounds that may cause skin irritation or pose long-term health risks. This study aimed to formulate and assess an antibacterial roll-on deodorant containing methanolic extract of <em>Spatholobus littoralis</em> Hassk., a Kalimantan-native medicinal plant known for its antibacterial properties. The extract, prepared via maceration, was incorporated into a multiphase emulsion base comprising zinc ricinoleate, aluminum potassium sulfate, Carbopol 940, triethanolamine, Lexemul CS20, BHT, and phenoxyethanol. The formulations were evaluated for their physicochemical characteristics—pH, spreadability, adhesiveness, and homogeneity—as well as antibacterial activity against <em>S. epidermidis</em> using the disc diffusion assay. The extract-containing formulations (F1–F3) exhibited a beige color, herbal aroma, and uniform texture. The pH values (4.12–4.35) were within the dermally acceptable range. The spreadability varied from 4.59 to 4.81?cm, while the adhesiveness ranged from 0.34?s to 5.25?min, indicating favorable application and retention properties. Antibacterial testing showed inhibition zones of 10.40–12.37?mm, comparable to a commercial control (<em>p</em>?>?0.05). These findings suggest that <em>S. littoralis</em> extract is a potential natural, skin-compatible antibacterial agent for topical deodorant applications</p>Fath DwisariAbdurraafi' Maududi DermawanNur Atika RahmaTessa Nathalia TjoadriKhoirul Rista Abidin
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-252025-12-2511245846410.35311/jmpi.v11i2.865Aktivitas Anti Melanoma Ekstrak Metanol Daun Jambu Mete (Anacardium occidentale L.); Kajian Antiproliferasi dan Antimetastasis Pada Sel A-375
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/878
<p>Melanoma merupakan kanker kulit yang sangat agresif, ditandai dengan proliferasi, invasi, dan metastasis tinggi serta resistensi terhadap terapi konvensional. Angka kejadian dan mortalitas melanoma terus meningkat, khususnya pada kasus metastasis. Ekstrak daun jambu mete menunjukkan aktivitas antioksidan dan sitotoksik terhadap sel kanker secara in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas antioksidan dan antikanker dari ekstrak metanol daun jambu mete (<em>Anacardium occidentale</em> L.) terhadap sel melanoma A-375. Uji antioksidan dilakukan menggunakan metode FRAP (<em>Ferric Reducing Antioxidant Power</em>), sedangkan aktivitas antikanker dianalisis melalui uji sitotoksik MTT, viabilitas sel HaCaT, serta uji migrasi sel dengan metode scratch. Hasil FRAP menunjukkan bahwa ekstrak memiliki aktivitas antioksidan kuat dengan nilai IC?? sebesar 63.35±0.03 µg/mL. Uji sitotoksik menunjukkan bahwa ekstrak efektif menghambat proliferasi sel A-375 dengan nilai IC?? sebesar 64.55±3.11 µg/mL dan bersifat selektif terhadap sel normal HaCaT (IC???=?877.52±30.64 µg/mL), dengan indeks selektivitas sebesar 13.54±0.65. Selain itu, uji migrasi sel menunjukkan bahwa ekstrak menghambat migrasi sel kanker melanoma dalam 24 jam perlakuan, yang mengindikasikan potensi anti-metastasis. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak metanol daun jambu mete memiliki potensi sebagai agen antioksidan dan antikanker alami yang efektif dan selektif, serta dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai kandidat terapi tambahan untuk kanker kulit melanoma.</p>Fitria NurcahyaniAdryan FristiohadyWahyuni WahyuniI SahidinSuryani SuryaniIrnawati IrnawatiLa Ode Muhammad Julian Purnama
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-252025-12-2511246547310.35311/jmpi.v11i2.878Perbandingan Ekstrak Biji Pinang Terdelipidasi dan Non-Terdelipidasi: Karakterisasi, Fitokimia, dan Aktivitas Antibakteri terhadap Cutibacterium acnes
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/899
<p>Jerawat merupakan masalah kulit umum, terutama pada remaja, dan salah satu bakteri penyebabnya adalah <em>Cutibacterium acnes</em>. Biji pinang (<em>Areca catechu L.</em>) memiliki aktivitas antibakteri karena memiliki kandungan metabolit sekunder meliputi alkaloid, tanin, flavonoid, dan fenolik. Namun, penelitian aktivitas antibakteri ekstrak etanol biji pinang setelah didelipidasi masih belum dilakukan. Penelitian ini bertujuan membandingkan karakterisasi, kandungan fitokimia, dan aktivitas antibakteri ekstrak etanol biji pinang sebelum dan sesudah delipidasi terhadap bakteri <em>Cutibacterium acnes</em>. Serbuk simplisia biji pinang diperoleh melalui proses pengeringan dan penghalusan biji pinang. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%, sedangkan proses delipidasi dilakukan melalui ekstraksi cair-cair menggunakan n-heksan. Standarisasi ekstrak mengikuti prosedur Farmakope Herbal Indonesia. Skrining fitokimia meliputi pengujian alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid, dan terpenoid. Uji aktivitas antibakteri terhadap <em>Cutibacterium acnes</em> dilakukan dengan metode difusi sumuran pada berbagai konsentrasi ekstrak (5–40%). Rendemen ekstrak etanol kental sebesar 26,8%, sedangkan ekstrak terdelipidasi memiliki rendemen 78,73% dari ekstrak awal. Kedua ekstrak memenuhi parameter spesifik dan nonspesifik farmakope. Skrining fitokimia menunjukkan peningkatan intensitas alkaloid, flavonoid, tannin, dan saponin setelah delipidasi. Aktivitas antibakteri meningkat seiring konsentrasi, dengan zona hambat rata-rata ekstrak terdelipidasi lebih besar daripada ekstrak etanol, khususnya pada 20% (12,19?mm) dan 40% (12,84?mm) dibandingkan EE 20% (9,18?mm) dan EE 40% (8,52?mm). Delipidasi meningkatkan kandungan senyawa aktif polar/semi-polar sehingga aktivitas antibakteri ekstrak biji pinang terhadap <em>Cutibacterium acnes</em> lebih tinggi. Ekstrak terdelipidasi berpotensi dikembangkan sebagai bahan alami perawatan kulit berjerawat.</p>Femmy AndrifianieMeysha Nur DaffaRanesya Eka AnggraeniOktiva Risma WardhaniRisti GrahartiNur Fitriana Muhammad AliAndi Nafisah Tendri Adjeng
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-252025-12-2511247448210.35311/jmpi.v11i2.899Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit X Provinsi Jawa Tengah
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/927
<p>Evaluasi penggunaan antibiotik menjadi langkah penting dalam memastikan efektivitas terapi serta mencegah terjadinya resistensi mikroba, terutama di negara berkembang yang masih menghadapi tingginya angka infeksi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien rawat inap di rumah sakit X Provinsi Jawa Tengah menggunakan metode ATC/DDD dan DU 90%. Studi ini bersifat deskriptif retrospektif dengan purposive sampling pada 616 pasien usia 19–59 tahun yang terdiagnosis infeksi bakteri dan mendapat terapi antibiotik ATC J01 pada periode Januari – Desember 2021. Tiga antibitoik dengan nilai DDD/100 <em>patients-day</em> tertinggi adalah Levofloxacin parenteral (59,59), Ceftriaxon (17,09), dan Azitromicin parenteral (8,28). Antibiotik yang masuk dalam segmen DU 90%, antara lain Levofloxacin parenteral, Ceftriaxone, Azitromicin parenteral, Metronidazole parenteral, dan Meropenem parenteral. Pola ini memperlihatkan dominasi penggunaan antibiotik parenteral berspektrum luas sebagai terapi empiris pada kasus infeksi, yang berpotensi meningkatkan risiko terjadinya resistensi mikroba. Oleh karena itu, perlunya evaluasi berkelanjutan untuk mendukung penggunaan antibiotik yang rasional di rumah sakit.</p>Selin Aprilliana PurnamasariYane Dila KeswaraZenita Reiza
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-252025-12-2511248349310.35311/jmpi.v11i2.927Potensi Imunomodulator Fraksi Etil Asetat Biji Jintan Hitam (Nigella sativa L.) terhadap Aktivasi Limfosit T dan Produksi IgG pada Model Tikus
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/944
<p>Biji jintan hitam (<em>Nigella sativa</em> L.) merupakan tanaman herbal yang dikenal memiliki aktivitas sebagai imunomodulator, khususnya dalam meningkatkan fungsi sel imun dan produksi antibodi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan aktivitas fraksi etil asetat biji jintan hitam pada konsentrasi 10%, 15%, dan 20% terhadap sel limfosit T (CD4<sup>+</sup> dan CD8<sup>+</sup>) serta kadar imunoglobulin G (IgG). Metode pada penelitian ini merupakan metode kuantitatif dengan desain eksperimental dilakukan secara <em>in vivo</em> menggunakan 18 ekor tikus jantan yang dibagi 6 kelompok dengan 3 kelompok uji dan 3 kelompok kontrol. Analisis senyawa dilakukan dengan GC-MS, nilai sel limfosit T diukur dengan <em>Flow Cytometry</em>, sedangkan nilai imunoglobulin G (IgG) diukur menggunakan ELISA <em>Reader</em>. Hasil penelitian bahwa fraksi etil asetat biji jintan hitam mengandung 79 senyawa metabolit. Nilai sel limfosit T (CD4<sup>+</sup> dan CD8<sup>+</sup>) menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan, akan tetapi kelompok 3 fraksi etil asetat konsentrasi 20% memiliki aktivitas tertinggi dengan nilai sebesar 97,06%. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji statistik <em>One-Way </em>ANOVA. Hasil penelitian nilai imunoglobulin G (IgG) menunjukan adanya perbedaan yang signifikan dengan nilai sig. <0.05 dan aktivitas tertinggi serta fraksi yang paling baik terdapat pada kelompok 3 fraksi etil asetat konsentrasi 20% sebesar ±278,740 ng/mL. Hal ini menunjukkan bahwa fraksi etil asetat jintan hitam konsentrasi 20% berpotensi sebagai imunomodulator yang aman, serta dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh, khususnya pada kondisi penurunan fungsi imun. Temuan ini menambah pengetahuan tentang potensi jintan hitam sebagai imunomodulator dan dapat menjadi dasar untuk penelitian selanjutnya guna mengetahui senyawa aktif serta cara kerjanya lebih jelas.</p>Zam Zam Zainatul JannahDeslia Putri NurhakimSalsa Billa AnandaNina NurjanahFelly Olivia Setya PutriLa Ode Muhammad AnwarSalma Hilmy Rusydi HashimMarselina MarselinaNuzul Gyanata Adiwisastra
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-252025-12-2511249450510.35311/jmpi.v11i2.944Flavonoid Identification and Antioxidant Activity of Graded Extracts from Kesambi (Schleichera oleosa) Leaves
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/971
<p>Flavonoids are secondary metabolites widely distributed in plants and are recognized for their antioxidant potential, which plays a vital role in neutralizing free radicals and protecting against oxidative stress. <em data-start="448" data-end="468">Schleichera oleosa</em> (kesambi) leaves are known to contain bioactive compounds, yet comprehensive studies on their flavonoid composition and antioxidant activity remain limited. This study aimed to identify flavonoid groups present in graded extracts of kesambi leaves and to evaluate their antioxidant activity. Graded maceration was performed sequentially with solvents of increasing polarity (n-hexane, ethyl acetate, and methanol). Flavonoids were identified through colorimetric reactions using specific reagents, while antioxidant activity was determined using the DPPH radical scavenging assay, with IC?? values calculated by linear regression. The results showed that n-hexane extract contained flavanones, ethyl acetate extract contained flavones, isoflavones, and flavonols, while methanol extract contained chalcones and aurones. Antioxidant testing revealed that methanol extract exhibited the strongest activity (IC?? = 9.65 ± 0.81 ppm), categorized as very strong, whereas ethyl acetate (IC?? = 102.46 ± 6.82 ppm) and n-hexane (IC?? = 141.67 ± 15.74 ppm) showed moderate activity. These findings confirm that solvent polarity greatly influences both flavonoid composition and antioxidant potency, with methanol extract emerging as the most promising natural antioxidant source. The study provides scientific support for the traditional use of kesambi leaves and highlights their potential for pharmaceutical and nutraceutical applications.</p>Vika HanifahDina FebrinaNur Rahmawati
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-252025-12-2511250651010.35311/jmpi.v11i2.971Pengaruh Konsentrasi, Suhu dan Waktu Fermentasi Kombucha Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) Terhadap Aktivitas Antibakteri Escherichia coli
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/978
<p>Kombucha menggunakan kultur simbiotik (SCOBY) memiliki aktivitas antibakteri. Fermentasi kombucha dipengaruhi konsentrasi, suhu dan waktu untuk mendapatkan produk metabolit. Bunga rosella (<em>Hibiscus sabdariffa</em> L.) mengandung senyawa bioaktif yang memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh suhu, waktu dan konsentrasi fermentasi kombucha rosella terhadap aktivitas antibakteri <em>E. coli</em>. Fermentasi kombucha rosella dilakukan dengan variasi konsentrasi 30, 40, dan 50%, suhu fermentasi 25, 4, dan 37°C, dan lama fermentasi 7, 14, dan 21 hari. Uji aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi cakram dan dilusi. Pengamatan kebocoran ion dilakukan dengan <em>Atomic Absorption Spectrophotometry</em> (AAS). Hasil penelitian menunjukkan pengaruh konsentrasi, suhu dan waktu, terhadap ketebalan SCOBY. Semakin tinggi konsentrasi, suhu dan waktu makin tebal SCOBY, hasil konsentrasi 50%, suhu 37°C dan waktu 21 hari menghasilkan ketebalan SCOBY 1,3 cm. Pengaruh konsentrasi, suhu dan waktu, terhadap pH dan % total asam. Semakin tinggi konsentrasi, suhu dan waktu makin tebal asam dan jumlah total asam makin meningkat. Pengaruh konsentrasi, suhu dan waktu, fermentasi kombucha rosella terhadap aktivitas antibakteri <em>E. coli </em>menunjukkan semua hasil fermentasi berbeda secara signifikan dengan kontrol negatif. Kombucha yang difermentasi dengan konsentrasi 50% pada suhu 37°C selama 21 hari memiliki perbedaan signifikan dibanding kelompok lain dalam menghambat <em>E. coli</em> dengan nilai Sig. (p-value) < 0,05. Hasil uji aktivitas antibakteri kombucha uji teraktif pada fermentasi dengan konsentrasi 50%, suhu 37C, hari ke-21 zona hambat sebesar 16,7 ± 0,10 mm. Konsentrasi Bunuh Minimal kombucha rosella pada konsentrasi 25%. Hasil AAS membuktikan adanya kebocoran membran sel dengan peningkatan ion K? dan Ca²? dibandingkan tanpa perlakuan.</p>Triyani TriyaniIsmi RahmawatiAna Indrayati
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-252025-12-2511251152310.35311/jmpi.v11i2.978Uji Aktivitas Antibakteri Dan Uji Toksisitas In Vitro Fraksi N-Butanol Daun Sawo Duren (Chrysophyllum cainito L.)
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1020
<p>Sawo duren memiliki metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, saponin, dan fenolik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat antibakteri fraksi n-butanol daun sawo duren (Chrysophyllum cainito L) dengan menggunakan difusi cakram dan tingkat toksisitasnya terhadap larva udang Arthemia salina Leach. Dengan pelarut etanol, 300 gram sampel dimaserasi. Kemudian, dalam ekstraksi cair-cair menggunakan pelarut n-butanol, aktivitas antibakteri fraksi n-butanol diuji dengan metode difusi cakram. Zona hambat diperoleh pada konsentrasi 1,25%, 2,5%, dan 5%, masing-masing dengan nilai 7.45 ± 0.0, 9.41 ± 0.1, dan 11.43 ± 0.1. kemudian pada fraksi n-butanol daun sawo duren dengan konsentrasi 2, 4, 6, 8 dan 10 ppm bersama dengan air laut sebagai kontrol. Kemudian, sebagai respons terhadap toksisitas, parameter kematian dihitung setelah 24 jam perlakuan. Hasil fraksi n-butanol dari daun sawo duren memiliki aktivitas antibakteri berspektrum luas dan efek toksisitas, dengan nilai LC<sub>50</sub> sebesar 4.39 ppm yang termasuk dalam kategori sangat toksik. Hasil skrining fitokimia fraksi n-butanol menunjukkan bahwa flavanoid, alkaloid, dan fenolik semuanya bersifat positif.</p>Fadillah Maryam Bau AgielFhahri MubarakNurzadrina WahyuddinSuwahyuni Mus
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-252025-12-2511252453110.35311/jmpi.v11i2.1020Evaluasi Variasi Konsentrasi Asam Sitrat dan Natrium Bikarbonat Pada Sifat Fisik Granul Effervescent Ekstrak Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.)
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/857
<p>Ekstrak daun belimbing wuluh (<em>Averrhoa bilimbi </em>L.) mengandung senyawa flavonoid yang diketahui dapat digunakan sebagai antipiretik. Formulasi ekstrak daun belimbing wuluh dibuat dalam bentuk granul <em>effervescent</em> menggunakan variasi kosentrasi asam sitrat dan natrium bikarbonat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbandingan variasi konsentrasi asam sitrat dan natrium bikarbonat berturut-turut yaitu FI (21%:34%), FII (23%:32%), dan FIII (25%:30%) terhadap sifat fisik granul <em>effervescent</em> sebelum dan sesudah rekonstitusi. Formulasi granul <em>effervescent </em>ekstrak daun belimbing wuluh dilakukan dengan metode granulasi basah. Hasil penelitian menunjukan granul <em>effervescent </em>yang dihasilkan memenuhi syarat uji indeks kompresibilitas (FI 5,35±0,56%); FII (7,68±0,61%); FIII (9,7±0,60%), kecepatan alir (FI 13,33±0,24g/s); (FII 11,50±0,30g/s); (FIII 10,02±0,07g/s), sudut diam (FI 26,11±0,44°); (FII 27,62±0,67°); (FIII 29,73±0,34°), kadar air (FI 0,66±0,05%); (FII 1,13±0,06%); (FIII 1,48±0,06%), waktu larut (FI 1,84±0,05 menit); (FII 2,64±0,03 menit); (FIII 3,21±0,25 menit), tinggi buih (FI 3,23±0,15 cm); (FII 4,13±0,15 cm); (FIII 4,86±0,15 cm), dan pH (FI 5,70±0,12); (FII 5,27±0,09); (FIII 4,9±0,19). Keseluruhan evaluasi memenuhi persyaratan kecuali pH pada FIII. Pemilihan Formula terbaik didasarkan pada hasil uji sifat fisik dan karakteristik fisik sebelum dan sesudah rekonstitusi. FI merupakan formula terbaik karena memenuhi semua uji sifat fisik dan menunjukkan hasil yang paling dominan dibandingkan dua formula lainnya berdasarkan tinjauan antar asam sitrat dan natrium bikarbonat yang digunakan.</p>Nida UlhusnaNur Cholis Endriyatno
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-252025-12-2511253254010.35311/jmpi.v11i2.857Formulation Optimization and Antibacterial Activity of Citronella (Cymbopogon nardus (L.) Rendle) Topical Gel Spray Against Staphylococcus aureus Using a Simplex Lattice Design
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/867
<p>Atopic dermatitis is skin inflammation in the form of dermatitis caused by <em>Staphylococcus aureus</em> bacterial infection. Citronella essential oil has the potential as an active ingredient in spray gel preparations to help overcome atopic dermatitis due to <em>Staphylococcus aureus</em> bacterial infection. The aim is to determine the optimal spray gel formula from citronella essential oil (<em>Cymbopogon nardus</em> (L.) Rendle) and antibacterial activity against <em>Staphylococcus aureus</em> bacteria. The methods material optimized are Na-CMC, Propylene glycol, and tween 20. Evaluation of the preparation in the form of organoleptic tests, homogeneity, pH, viscosity, drying time, spraying patterns, yeast mold numbers using the spread plate method, and antibacterial activity against <em>Staphylococcus aureus</em> bacteria using the good diffusion method. The results of the concentration of Na-CMC: Propylene glycol: Tween 20 (0.27: 4.72: 10) produced an optimal preparation formula. The spray gel is milky white, has a distinctive lemongrass odor, and is slightly thick. The spray gel is homogeneous with a pH of 4.94 ± 0.16, a viscosity of 76.73 ± 7.01 cPs, and a drying time of 3.60 ± 0.40 minutes. The mold/yeast count test showed that the spray gel was free from mold/yeast contamination and was stable at storage temperatures of 4?C and 40?C. The results of antibacterial activity were able to inhibit <em>Staphylococcus aureus</em> bacteria with an inhibition zone diameter of 6.85 mm ± 2.80. Conclusion: Na-CMC concentration of 0.27%, Propylene Glycol concentration of 4.72%, and Tween 20 concentration of 10% produced optimal spray gel and inhibited <em>Staphylococcus aureus.</em></p>Muhammad Andy RajabChintiana Nindya PutriArman SuryaniNina Salamah
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-252025-12-2511254155310.35311/jmpi.v11i2.867Formulasi dan Uji Kesukaan Hand and Body Lotion Sari Buah Jeruk Lemon (Citrus Limon L.) Variasi Asam Stearat
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1039
<p>Aktivitas sehari-hari dan radikal bebas menyebabkan kulit menjadi kasar, kering, dan kusam, sehingga dibutuhkan <em>hand body lotion</em> yang bertujuan untuk melembabkan dan menutrisi seluruh kulit tubuh. Pada Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi asam stearat terhadap mutu fisik sediaan <em>hand and body lotion</em> yang diformulasikan dengan sari buah jeruk lemon <em>(Citrus limon</em> L.<em>)</em> sebagai bahan aktif alami. Tiga formula <em>hand and body lotion</em> dibuat dengan konsentrasi asam stearat berbeda, yaitu 5% (F1), 10% (F2), dan 15% (F3), sedangkan F0 digunakan sebagai formula kontrol tanpa bahan aktif. Setiap formula kemudian diuji karakteristik fisiknya meliputi uji organoleptis, pH, homogenitas, daya sebar, daya lekat, viskositas, uji iritasi, dan uji kesukaan (hedonic test). Hasil analisis penelitian pada uji pH, uji daya sebar, uji daya lekat, uji viskositas menunjukkan bahwa nilai p<0,05 sehingga variasi asam stearat berpengaruh terhadap mutu fisik <em>hand and body lotion</em>. Formula F1 (asam stearat 5%) menunjukkan hasil terbaik dari pada F2 dan F3 dengan pH 4,54 yang sesuai pH kulit, daya sebar 6,46 cm, daya lekat 2,78 detik, viskositas 2.643 cP. Tetapi hasil uji hedonik menunjukkan F2 paling disukai panelis dengan hasil uji hedonik nilai skala kesukaan rata-rata yaitu 4.45, aroma 4.25, dan warna 4.50. Formula <em>hand and body lotion</em> F2 mampu memberikan kemudahan penggunaan pada panelis yaitu saat di tuang.</p>Henni WatiPrayoga Fery YuniartoSherly Putri Arma DiyaniElly Megasari
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-312025-12-3111255456410.35311/jmpi.v11i2.1039Optimasi Formula Emulgel SNEDDS Naringenin sebagai Sediaan Antibakteri dengan Metode D-Optimal Mixture Design
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1049
<p>Narigenin merupakan flavonoid dengan aktivitas sebagai antimikroba, namun kenyataanya kelarutan dalam air rendah, sehingga memerlukan formulasi sediaan emulgel <em>Self nanoemulsifying drug delivery system</em> (SNEDDS). Tujuan penelitian ini adalah dengan menggunakan <em>software design expert </em>diharapkan dapat menemukam formula optimal sebagai antibakteri yang disebut emulgel naringenin SNEDDS. Penelitian ini menggunakan pendekatan D-Optimal <em>Mixture Design</em> untuk mengoptimalkan formula emulgel naringenin SNEDDS dengan berbagai konsentrasi Na-CMC, HPMC, dan propilen glikol dengan mempertimbangkan parameter kritis berupa daya lekat, daya sebar dan viskositas. Pengujian aktivitas antibakteri terhadap <em>Staphylococcus aureus</em> menggunakan metode difusi cakram selanjutnya evaluasi SNEDDS meliputi zeta potensial, ukuan partikel, dan persen transmitan dan <em>drug load</em>. Kombinasi emulgel naringenin SNEDDS yang paling efektif dengan Na CMC 4,2%,propilenglikol 13,2% dan HPMC 2,6%. Efektivitas antibakteri ditingkatkan oleh formulasi emulgel naringenin SNEDDS yang baru dikembangkan.</p>Dhimas Tiya CandraIlham KuncahyoIsmi RahmawatiPutri Rovita Sari
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-312025-12-3111256557410.35311/jmpi.v11i2.1049Optimasi Gel Ekstrak Etanol Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dengan Kombinasi HPMC dan Na-Cmc Menggunakan Metode Simplex Lattice Design
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1057
<p>Daun belimbing wuluh (<em>Averrhoa bilimbi</em> L.) mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, tanin, saponin, dan alkaloid yang berpotensi sebagai antibakteri, sehingga berpeluang dikembangkan dalam bentuk sediaan topikal. Untuk meningkatkan efektivitas dan kenyamanan penggunaan, ekstrak etanol daun belimbing wuluh diformulasikan dalam bentuk gel dengan kombinasi basis HPMC dan Na-CMC yang memengaruhi sifat fisik sediaan. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan dan mengoptimalkan gel ekstrak etanol daun belimbing wuluh menggunakan desain campuran Simplex Lattice Design dengan delapan formula kombinasi HPMC–Na-CMC pada total konsentrasi basis 3%. Evaluasi dilakukan terhadap respon pH, daya sebar, dan daya lekat. Hasil optimasi menunjukkan bahwa rasio HPMC : Na-CMC sebesar 50% : 50% dari total basis 3% (1,5% : 1,5%) merupakan formula optimum dengan karakteristik fisik yang memenuhi persyaratan, yaitu pH 6,03; daya sebar 5,64 cm; dan daya lekat 8,37 detik. Uji verifikasi formula optimum menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p > 0,05) antara nilai prediksi dan nilai aktual, yang menandakan bahwa model mampu memprediksi respon secara akurat. Dengan demikian, gel ekstrak etanol daun belimbing wuluh dengan kombinasi HPMC dan Na-CMC tersebut berpotensi dikembangkan sebagai sediaan topikal berbahan alam yang efektif dan stabil.</p>Nurhidayah SarifuddinShinta Dewi Gita AmaliaRatih Dyah Pertiwi
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-312025-12-3111257558410.35311/jmpi.v11i2.1057Formulasi Gel Kombinasi Ekstrak Buah Asam Gelugur (Garcinia atroviridis Griff. Ex T. Anderson) dan Daun Perilla (Perilla frutescens L. Britton) serta Uji Aktivitas Antijerawat dan Antioksidan
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1059
<p>Penggunaan bahan-bahan alami sebagai agen antibakteri dan antioksidan topikal semakin mendapat perhatian, terutama dalam pengembangan formulasi untuk kulit berjerawat. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi dan mengevaluasi gel yang mengandung kombinasi ekstrak buah asam gelugur dan ekstrak daun perilla, serta untuk menilai aktivitas antibakteri, antioksidan, dan keamanan topikalnya. Tiga formulasi gel dibuat, gel dasar tanpa ekstrak (F0), gel dengan konsentrasi ekstrak optimal (F1), dan gel dengan konsentrasi ekstrak dua kali lipat (F2). Formulasi gel dievaluasi untuk sifat organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, viskositas, dan stabilitas fisik menggunakan <em>cycling test</em>. Aktivitas antibakteri diuji terhadap <em>Cutibacterium acnes</em> dan <em>Staphylococcus epidermidis</em> menggunakan metode difusi cakram, aktivitas antioksidan dinilai melalui uji penangkal radikal bebas DPPH. Uji iritasi kulit primer dilakukan pada kelinci albino untuk menentukan keamanan topikal gel. Hasil menunjukkan bahwa semua formulasi memenuhi karakteristik fisik dan stabilitas gel topikal yang dipersyaratkan. Sebelum dan sesudah <em>cycling test</em> stabil pada bakteri <em>C.acnes</em> F0 (0,00 mm), F1 (14,35 ± 0,32 mm), dan F2 (26,42 ± 0,08 mm). Sedangkan pada bakteri<em> S.epidermidis</em> F0 (0,00 mm), F1 (11,20 ± 0,24 mm), dan F2 (20,15 ± 0,05 mm). Nilai IC<sub>50</sub> sebelum dan sesudah <em>cycling test</em> F0 (664,857 ppm), F1 (106,518 ppm menjadi 113,25 ppm), dan F2 (63,01 ppm menjadi 71,50 ppm). Uji iritasi menunjukkan skor 0,0 ± 0,0, yang menunjukkan bahwa gel aman untuk aplikasi topikal.</p>Vina AgustinShelly TaurhesiaAndri Prasetiyo
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-312025-12-3111258559410.35311/jmpi.v11i2.1059Pengaruh Bentuk Sediaan Kosmetik Ekstrak Etanol Kulit Buah Pepaya (Carica papaya L.) terhadap Stabilitas Fisika dan Kimia
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1061
<p>Kulit adalah lapisan terluar tubuh yang berperan melindungi terhadap patogen. Paparan sinar matahari berlebih memicu pembentukan radikal bebas yang merusak integritas kulit. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh bentuk sediaan kosmetik (gel dan <em>spray</em>) yang mengandung ekstrak etanol kulit buah pepaya terhadap stabilitas fisika dan kimia. Kulit buah pepaya (<em>Carica papaya</em> L.) dikenal kaya senyawa bioaktif dengan potensi antioksidan. Penelitian dilakukan dengan ekstraksi perkolasi menggunakan pelarut etanol 70% diperoleh rendemen 42,2%. Uji stabilitas dilakukan dengan metode <em>cycling test</em>. Parameter stabilitas fisik meliputi evaluasi organoleptis, homogenitas, pengukuran pH, daya sebar, daya lekat, dan viskositas. Kedua sediaan menunjukkan perubahan variatif namun tetap berada dalam batas stabilitas yang ditentukan sepanjang masa penyimpanan. Metode FRAP (<em>Ferric Reducing Antioxidant Power</em>) digunakan untuk menguji aktivitas antioksidan sebelum dan setelah 12 hari penyimpanan, menunjukkan penurunan signifikan pada kedua sediaan. Analisis data menggunakan SPSS 26.0 dengan uji Repeated Measures ANOVA, Friedman dan Wilcoxon. Hasil diperoleh bahwa bentuk sediaan gel dan spray secara signifikan memengaruhi pH, daya sebar, daya lekat, dan viskositas dengan nilai Sig. <0,05.</p>Berlian Nindi ApriliaAde Maria UlfaPutri Amalia
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-312025-12-3111259560410.35311/jmpi.v11i2.1061Pengembangan dan Karakterisasi Self Nano Emulsifying System Minyak Atsiri Daun Gaharu (Aquilaria malaccensis Lamk.) sebagai Formulasi Inovatif Anti-aging Serum
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1071
Hayatus Sa'adahRisa AhdyaniNor LatifahNur Luthfia SalimNajwi Hasani
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-312025-12-3111260561410.35311/jmpi.v11i2.1071Pengembangan Formula Tabir Surya Alami Kombinasi Daun Kecombrang (Etlingera elatior (Jack.) R.M. Sm.) dan Minyak Biji Bunga Matahari (Helianthus annuus L.) beserta Uji Aktivitas SPF In-Vitro
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1072
<p>Radiasi ultraviolet (UV) berpotensi menyebabkan kerusakan kulit mulai dari eritema hingga kanker kulit. Penggunaan tabir surya sintetis seperti oksibenzon berisiko menimbulkan iritasi, sehingga pengembangan tabir surya alami menjadi alternatif yang diperlukan. Mengembangkan formulasi tabir surya alami dari kombinasi minyak biji bunga matahari (<em>Helianthus annuus</em> L.) dan ekstrak daun kecombrang (<em>Etlingera elatior</em> (Jack.) R.M. Sm.) serta mengevaluasi stabilitas dan aktivitas fotoprotektifnya. Minyak diekstraksi dengan cold pressing, sedangkan ekstrak diperoleh melalui maserasi etanol 70%. Kedua bahan distandardisasi berdasarkan parameter mutu. Aktivitas SPF diukur secara in-vitro menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 290-320 nm dengan persamaan Mansur. Stabilitas formulasi diuji melalui cycling test. Formulasi kombinasi (2:1) menunjukkan stabilitas fisik yang baik selama pengujian dan aktivitas SPF yang signifikan. Hasil pengukuran SPF in-vitro mengonfirmasi potensi fotoprotektif dari kombinasi kedua bahan alam tersebut. Kombinasi minyak biji bunga matahari dan ekstrak daun kecombrang berpotensi sebagai tabir surya alami yang efektif dengan stabilitas memadai, menawarkan alternatif fotoproteksi yang aman dari bahan alam.</p>Anisya Amanda Putri SartonoShelly TaurhesiaFaizatun Faizatun
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-312025-12-3111261562510.35311/jmpi.v11i2.1072Karakteristik Fitosom dari Ekstrak Etanol Daun Laruna (Chromolaena odorata L.) menggunakan SEM (Scanning Electron Microscope) dan PSA (Particle Size Analyzer)
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/816
<p>Daun laruna (<em>Chromolaena odorata </em>L.) mengandung senyawa utama seperti saponin, fenol, tanin, steroid dan flavonoid. Flavonoid dalam daun laruna memiliki potensial terapetik yang luas, salah satunya sebagai antioksidan, senyawa fenolik yang ada dalam flavonoid memiliki polaritas yang tinggi sehingga menyebabkan bioavailabilitasnya rendah. Fitosom merupakan suatu sistem penghantaran yang dibentuk oleh bahan aktif alami dan fosfatidilkolin. Sistem fitosom diketahui dapat membantu untuk meningkatkan bioavailabilitas bahan aktif. Tujuan dari penelitian ini yaitu membuat <em>Drug Delivery System</em> nanopartikel dengan sistem vesikular yaitu fitosom dari ekstrak daun laruna. Tahapan pertama yang dilakukan yaitu ekstraksi yang dilakukan dengan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Pembuatan fitosom pada pengujian ini menggunakan metode dispersi mekanik dengan pembawa fosfatidilkolin dan pelarut aseton. Dari hasil fitosom kemudian dilakukan karakteristik morfologi fitosom menggunakan SEM (<em>Scanning Electron Microscope</em>) dan pengukuran partikel fitosom menggunakan PSA <em>(Particle Size Analyzer)</em>. Hasil uji morfologi fitosom menggunakan SEM menunjukkan bahwa fitosom yang dibuat telah memenuhi spesifikasi morfologi yaitu berbentuk bulat padatan (spheris), sedangkan hasil untuk ukuran partikel fitosom menggunakan PSA daun laruna didapatkan hasil nilai rata-rata sebesar 105.1 nm, dan untuk nilai indeks polidispersitas sebesar 0.299. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun laruna dapat dikembangkan menjadi sistem fitosom dengan karakteristik yang baik.</p>Karlina Amir TahirNur Azizah SyahranaAulia Dinda PutriKhairun AnnisaFitril ImaniIndah IndahSelpida HandayaniFaridha Yenni NonciAhmad Lalo
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-312025-12-3111262663310.35311/jmpi.v11i2.816Uji Sitotoksik Ekstrak dan Fraksi Daun Dollu (Dodonaea viscosa Jacq.) terhadap Sel Kanker Payudara T47D serta Ekspresi Protein p53 dan Bcl-2
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/837
<p>Kanker payudara merupakan penyebab utama kematian akibat kanker di dunia, dengan lebih dari 396.000 kasus per tahun. Tanaman Dollu (Dodonaea viscosa Jacq) diketahui memiliki sifat antibakteri, namun potensinya sebagai agen antikanker belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas sitotoksik ekstrak dan fraksi daun Dollu terhadap sel kanker T47D, menilai selektivitasnya, dan menyelidiki efeknya terhadap ekspresi protein p53 dan Bcl-2 pada sel kanker tersebut. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% selama tiga hari. Ekstrak dan fraksi yang dihasilkan (etanol, air, etil asetat, dan n-heksan) dianalisis untuk senyawa kimia, termasuk flavonoid, tanin, alkaloid, saponin, steroid, dan terpenoid. Uji sitotoksik dilakukan menggunakan metode MTT, diikuti dengan uji selektivitas, dan ekspresi protein p53 serta Bcl-2 dianalisis menggunakan imunositokimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi air menunjukkan aktivitas sitotoksik paling efektif dengan nilai IC50 139,84 ± 13 µg/mL. Ekstrak dan fraksi menunjukkan nilai selektivitas >2. Selain itu, fraksi air secara signifikan meningkatkan ekspresi protein p53 dengan nilai EC50 44,41 ± 7,09 µg/mL, yang menunjukkan hasil signifikan pada uji ANOVA (nilai p 0,000 < 0,05). Sebaliknya, fraksi air secara signifikan menurunkan ekspresi Bcl-2 dengan nilai EC50 193,22 ± 20,99 µg/mL, yang menunjukkan hasil signifikan pada uji Kruskal-Wallis (nilai p 0,022 < 0,05).</p>Rizka Agustine SusilowatiTitik SunarniAna Indrayati
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-312025-12-3111263464710.35311/jmpi.v11i2.837Uji Aktivitas Hepatoprotektor Tablet Curcuma® terhadap Kadar SGPT dan SGOT pada Tikus yang Diinduksi Isoniazid
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/848
<p>Isoniazid (INH) merupakan obat anti tuberkulosis yang penggunaannya dapat menimbulkan efek samping berupa hepatotoksisitas. Kondisi ini dapat dipantau melalui peningkatan kadar enzim hati, yaitu <em>serum glutamic pyruvic transaminase</em> (SGPT) dan <em>serum glutamic oxaloacetic transaminase</em> (SGOT). Oleh karena itu, diperlukan suatu agen pelindung untuk meminimalisir efek samping hepatotoksik yang ditimbulkan. Temulawak (<em>Curcuma xanthorrhiza</em> Roxb.) dikenal memiliki aktivitas hepatoprotektor yang berpotensi melindungi hati dari kerusakan. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian sediaan tablet Curcuma<sup>®</sup> terhadap kadar SGPT dan SGOT pada tikus putih jantan yang diinduksi INH, serta menganalisis korelasi antara dosis Curcuma<sup>®</sup> dengan penurunan kadar kedua enzim hati tersebut. Metode pada penelitian ini yaitu menggunakan hewan uji berupa tikus putih jantan yang dibagi menjadi tiga kelompok dengan pemberian dosis INH yang sama: kelompok 1 diberikan INH 5,4 mg/kgBB, kelompok 2 curcuma<sup>®</sup> 0,36 mg/kgBB + INH, dan kelompok 3 curcuma<sup>®</sup> 0,72 mg/kgBB + INH. Perlakuan diberikan selama 14 hari secara oral untuk diukur kadar SGPT dan SGOT, rasio berat hati, serta pengamatan makroskopis hati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian curcuma<sup>®</sup> memberikan efek yang berbeda pada kelompok 2 dan 3. Pada kelompok 3, kadar SGPT dan SGOT mengalami penurunan. Sedangkan, pada kelompok 2 hanya kadar SGPT yang menurun, untuk kadar SGOT mengalami peningkatan. Meskipun demikian, perbedaan penurunan kadar SGPT dan SGOT antara kedua kelompok tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik (p > 0,05). Rasio hati pada kelompok 1 (3,16%), kelompok 2 (2,83%), dan kelompok 3 (2,71%). Rasio hati pada kelompok 3 menunjukkan persentase yang lebih rendah dibandingkan kelompok perlakuan lainnya. Secara makroskopis, hati pada kelompok 3 memiliki warna segar, licin, dan kenyal, mendekati kondisi hati normal. Pemberian sediaan tablet curcuma<sup>®</sup> mampu melindungi hati dari kerusakan karena memiliki potensi sebagai hepatoprotektor terhadap tikus putih jantan yang diinduksi isoniazid.</p>Gayatri SimanullangNovrilia Atika NabilaAnnisa Maulidia RahayyuIntan Kusuma WardaniAkmal Hammami
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-312025-12-3111264865710.35311/jmpi.v11i2.848In Silico Study of Compounds Bioactive Guava (Psidium guajava) as Antidiarrheal Assisted Liquid Chromatography-Mass Spectroscopy
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/876
<p>Guava leaves seeds (<em>Psidium guajava</em>) are known contain various compound potential bioactives? as antidiarrheal, such as quercetin and tannins, which work with method hinder intestinal contractions and disrupts permeability membrane cell bacteria. Research This aim for explore potential antidiarrheal from compound in leaf guava seed through identification compound using LC-MS and simulation <em>molecular docking</em> to six human protein target receptors, namely Cytochrome P450 1A1, Ephrin Type-B Receptor 4, Multidrug Resistance Protein 1, Dihydrofolate Reductase, Extracellular Calcium-Sensing Receptor, and Rap Guanine Nucleotide Exchange Factor 4. Extraction done with method maceration use solvent methanol, then compound analyzed using Liquid Chromatography–Mass Spectrometry (LC-MS). A total of eleven compound main chosen foranalyzed in silico using device soft AutoDockTools, PyRx, and Discovery Studio. Validation was performed through <em>redocking of </em>native ligands with RMSD value ? 2 Å. The results show some ligands such as Kaempferol, Cathecin, and Quercetin own affinity strong bond, with? Kaempferol show lowest binding energy of -9.72 kcal /mol against BHF receptor. <em>Drug-likeness test</em> based on Lipinski's rule also shows that part big compound fullfil criteria compound drug analysis? interaction amino acids show existence bond hydrogen and hydrophobic support? stability bond. This result show that compound leaf guava seeds, especially Kaempferol and Cathecin, potentially as candidate agent antidiarrheal natural. Further studies in vitro and in vivo are recommended for support findings.</p>Khrisna Agung CendekiawanKintoko KintokoSapto YulianiLinda Suci AnggraeniLailatul Fitria NingrumSiti Nur HasanaFirdha Aprillia Wardhani
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-312025-12-3111265866610.35311/jmpi.v11i2.876Formulasi dan Evaluasi Fisik Granul Effervescent Kombinasi Ekstrak Stenochlaena palustris dan Psidium guajava L. dengan Variasi Konsentrasi Asam sebagai Suplemen Ibu Hamil
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/889
<p>Angka kematian ibu hamil di Indonesia masih tinggi, disebabkan oleh anemia dan komplikasi kehamilan akibat malnutrisi, seperti kekurangan zat besi, asam folat, dan kalsium. Suplemen yang tersedia umumnya memiliki rasa kurang menyenangkan dan bentuk yang kurang praktis, sehingga mengurangi kepatuhan konsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan formulasi dan evaluasi sediaan granul <em>effervescent </em>kombinasi ekstrak <em>Stenochlaena palustris</em> (daun kelakai) dan <em>Psidium guajava</em> L. (jambu biji merah) dengan variasi konsentrasi asam sebagai suplemen zat besi dan asam folat alternatif untuk ibu hamil. Penelitian dilakukan secara eksperimental laboratorium dengan metode granulasi basah dan evaluasi fisik granul meliputi uji organoleptik, waktu alir, kecepatan alir, sudut diam, kandungan lembab, pH, waktu larut, ketinggian busa, dan waktu hilang buih. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa kedua ekstrak kelakai dan jambu biji merah mengandung senyawa flavonoid, fenolik, tanin, dan alkaloid. Berdasarkan hasil yang didapatkan, Formula III (perbandingan asam sitrat dan asam tartrat (9:3)) menunjukkan hasil yang terbaik dalam beberapa parameter, seperti waktu larut tercepat (2,22±0,07 menit), waktu hilang buih tercepat (2,12±0,05 menit), kandungan lembab 0,60±0,20%, serta sudut diam 36,29±0°. Namun meskipun lebih unggul, terdapat parameter yang masih belum memenuhi syarat seperti waktu alir yang masih 25,15 ± 2,88 detik serta ketinggian busa 1,63±0,15 cm. Berdasarkan hal ini, formula III merupakan formula suplemen <em>effervescent </em>paling optimal namun masih perlu dilakukan optimasi lebih lanjut. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar awal pengembangan suplemen herbal untuk ibu hamil, namun perlu dilakukan uji lanjutan, seperti uji kandungan Fe dan Ca<sup>2+</sup>, serta uji <em>in vivo</em> pada hewan uji untuk menilai keamanan (termasuk uji teratogenisitas) dan khasiatnya. Selain itu, perlu dilakukan uji stabilitas sediaan untuk memastikan mutu dan kestabilan produk.</p>Indah HairunisaRika NurjunnahTri Budi Julianti
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-312025-12-3111266768110.35311/jmpi.v11i2.889QSAR Classification and Molecular Docking for Identifying BCL-2 Inhibitor Candidates
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/903
<p>B-cell lymphoma 2 (BCL-2) is an anti-apoptotic protein implicated in the progression and chemoresistance of multiple cancers. This study integrates QSAR-based machine learning (ML) classification and molecular docking to identify potential BCL-2 inhibitors. The Gradient Boosting classifier trained on PubChem fingerprints (881 bits) achieved the best predictive performance (accuracy: 83.52%, ROC-AUC: 0.8829). External virtual screening further identified high-probability active compounds, including Beclomethasone Dipropionate (0.9880) and Ulipristal Acetate (0.9866), highlighting their potential for drug repurposing. Docking analysis showed that Ulipristal Acetate exhibited the strongest binding affinity (–8.187 kcal/mol), forming a hydrogen bond with GLY A:145 and engaging key residues within the BH3-binding pocket of BCL-2. These findings demonstrate the effectiveness of QSAR-ML–assisted virtual screening in prioritizing repurposable candidates for BCL-2 inhibition.</p>Nur Laily HarfitaHarizahayu Harizahayu
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-312025-12-3111268269010.35311/jmpi.v11i2.903Aktivitas Antidiabetes Ekstrak Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) terhadap Mencit Diinduksi Aloksan
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/925
<p>Diabetes melitus yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah merupakan gangguan yang terjadi pada organ pankreas<em>. </em>Aktivitas antioksidan dalam kulit buah naga merah berpotensi untuk mengobati diabetes melitus<em>. </em>Tujuan dilakukannya penelitian untuk mengevaluasi pemberian ekstrak pada kadar gula darah mencit. Penelitian dilakukan secara eksperimental. Aloksan digunakan untuk menginduksi mencit. Tiga hari setelah indu ksi, ekstrak diberikan dalam dosis yang berbeda selama 7 hari. Mencit berjenis kelamin jantan 25 ekor dibagi menjadi 5 kelompok, kelompok kontrol negatif diberikan Na-CMC 0,5%, metformin 1,3 mg/20 gBB sebagai kontrol positif, ekstrak kulit buah naga merah variasi dosis 100 mg/kgBB, 300 mg/kgBB, dan 500 mg/kgBB. Data penurunan kadar gula darah dianalisis dengan uji <em>one way </em>ANOVA yang dilanjutkan dengan uji lanjutan <em>post hoc </em>Tukey HSD. Hasil menunjukkan bahwa pada KGDH1 belum terdapat perbedaan bermakna antara kelompok ekstrak dan kontrol negatif dengan nilai Sig. 0,096 (p>0,05). Efek penurunan kadar gula darah mulai signifikan pada KGDH4 dan semakin kuat pada KGDH7 dengan nilai Sig. 0,000 (p<0,05). Rata-rata kadar gula darah pada hari ke-7 adalah: 197.9±34.7 mg/dL, 95.4±9.9 mg/dL, 98.48±6.9 mg/dL, 97.36±9.2 mg/dL, 89.4±9.8 mg/dL. Kesimpulan penelitian ini adalah ekstrak etanol kulit buah naga merah mulai menunjukkan aktivitas antidiabetes pada hari ke-4, dan pada hari ke-7 efeknya sebanding dengan metformin berdasarkan uji statistik.</p>Ana Maria UlfaWanda MukammilatuzzahroFauzi Rahman
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-312025-12-3111269169910.35311/jmpi.v11i2.925Pengaruh Bioenhancer Lidah Buaya terhadap Stabilitas Sediaan Emulgel Ekstrak Moringa oleifera L
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/960
<p>Di daerah tropis, paparan sinar ultraviolet (UV) yang intens menjadi salah satu faktor utama pemicu penuaan dini kulit melalui aktivasi pembentukan radikal bebas. Untuk mengatasi hal ini, penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh bioenhancer lidah buaya (<em>Aloe vera</em> L) terhadap stabilitas fisik dan kimia sediaan emulgel berbasis ekstrak daun kelor (<em>Moringa oleifera</em> Lam.). Ekstrak daun kelor diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan etanol 70?%, kemudian diformulasikan ke dalam emulgel dengan variasi konsentrasi ekstrak 0?%, 1?%, 2?%, dan 3?% serta penambahan lidah buaya pada konsentrasi 3,5?%. Sediaan diuji kestabilan fisik-kimianya meliputi konsistensi, nilai pH, dan viskositasmenggunakan metode <em>cycling test</em> pada suhu 4?°C dan 40?°C. Hasil menunjukkan bahwa semua formulasi stabil, dengan pH tetap pada 5,8?±?0,2 tanpa fluktuasi signifikan dan viskositas yang relatif stabil pada rentang 21.000 – 23.000 cPs. Tidak terjadi perubahan warna, endapan, atau pemisahan fase, menandakan kestabilan fisik yang baik. Semua formulasi memiliki tekstur homogen dan mudah diaplikasikan, namun formulasi dengan konsentrasi 3?% ekstrak daun kelor dan 3,5?% lidah buaya menunjukkan kinerja terbaik dalam hal stabilitas dan kesesuaian penggunaan topikal. Dengan demikian, penambahan lidah buaya sebagai bioenhancer secara signifikan meningkatkan kinerja emulgel ekstrak daun kelor, menjadikannya kandidat potensial sebagai sediaan kosmetik atau dermatologis alami untuk perlindungan kulit dari dampak UV di lingkungan tropis.</p>Salsabila AdlinaSonya Nurizki VikandariAli NofriyaldiDesara Eka Putri
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-312025-12-3111270070710.35311/jmpi.v11i2.960Potensi Antibakteri Madu Multiflora dan Bee Pollen dari Lebah Madu Eropa (Apis mellifera) dalam Menghambat Pertumbuhan Cutibacterium acnes
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/964
<p>Jerawat adalah kondisi kulit di mana pori-pori tersumbat oleh minyak dan sel kulit mati, serta aktivitas bakteri <em>C.</em><em> acnes</em>. Madu multiflora dan bee pollen merupakan produk lebah yang mengandung senyawa bioaktif dan memiliki sifat antibakteri. Penelitian ini menggunakan teknik difusi cakram dengan pengulangan sebanyak tiga kali (n=3) dengan konsentrasi 25% b/v, 50% b/v, 75% b/v, dan 100% b/v untuk madu dan bee pollen, serta kombinasi dengan perbandingan 1MM:3BP, 1MM:1BP, 3MM:1BP, tetrasiklin 50 mg/ml sebagai kontrol positif dan aquades steril sebagai kontrol negatif. Hasil menunjukkan bahwa madu, bee pollen, dan kombinasinya memiliki potensi antibakteri terhadap pertumbuhan <em>C.</em><em> acnes</em>. Madu multiflora dan bee pollen memiliki penghambatan terkuat pada konsentrasi 100%, yaitu 27,71 mm (kategori kuat) untuk madu multiflora dan 18,26 mm (kategori sedang) untuk bee pollen. Kombinasi 3MM:1BP memberikan zona hambat tertinggi sebesar 29,81 mm (kategori kuat) dan menunjukkan hasil yang lebih efektif dibanding madu, bee pollen, dan kombinasi lainnya.</p>Vita Wardah Nur JannahChylen Setiyo Rini
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-312025-12-3111270872010.35311/jmpi.v11i2.964Formulasi dan Evaluasi Fisik Sediaan Emulgel Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) sebagai Tabir Surya
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/988
<p>Paparan sinar ultraviolet (UV) secara berlebihan dapat memicu berbagai masalah kulit, termasuk penuaan dini hingga resiko kanker kulit. Penggunaan tabir surya menjadi salah satu langkah protektif yang penting. Kulit buah manggis (<em>Garcinia mangostana </em>L.) diketahui memiliki senyawa aktif, seperti xanton, yang memiliki potensi sebagai antioksidan dan pelindung UV alami. Xanton yang berkhasiat sebagai antioksidan mempunyai potensi sebagai tabir surya yang mampu menyerap sinar UV-A maupun UV-B sehingga mengurangi intensitas pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi dan mengevaluasi sifat fisik sediaan emulgel tabir surya ekstrak etanol kulit buah manggis. Metode penelitian meliputi proses ekstraksi kulit buah manggis secara maserasi dengan etanol 96%, dilanjutkan dengan optimasi formulasi emulgel menggunakan <em>gelling agent</em> Carbopol 940 dengan variasi konsentrasi 0,5%; 0,75%; 0,85% dan 1%. Selanjutnya, dilakukan formulasi sediaan emulgel hasil optimasi yang optimal (paling baik) yaitu dengan penambahan Carbopol 940 0,75%; 0,85% dan 1% dan penambahan ekstrak kulit buah manggis sebagai zat aktif tabir surya. Evaluasi dilakukan terhadap beberapa parameter fisik sebelum dan sesudah kondisi dipaksakan (<em>cycling test)</em> dengan jumlah sampel triplo untuk masing-masing formula yang meliputi uji : organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, dan tipe emulsi serta uji nilai SPF secara <em>in vitro </em>menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil menunjukkan bahwa seluruh formula menghasilkan emulgel yang stabil secara fisik dan memenuhi persyaratan sediaan topikal. Nilai SPF sediaan mengalami penurunan jika dibandingkan ekstrak (nilai SPF ekstrak = 45,17), tetapi nilai SPF sediaan (nilai SPF sediaan [F1= 25,03], [F2= 25,67], [F3= 25,75]) lebih tinggi dibanding dengan nilai SPF kontrol negatif / sediaan tanpa ekstrak (nilai SPF = 16,90). Dari nilai SPF tersebut, dapat diketahui bahwa emulgel yang dihasilkan memiliki aktivitas sebagai tabir surya dengan kategori proteksi ultra.</p>Mirda Kharisma NurjanahMirawati MirawatiAhmad Najib
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-312025-12-3111272173110.35311/jmpi.v11i2.988Efektivitas Pemberian Krim Ekstrak Daun Teh-Tehan (Acalypha siamensis) Sebagai Penyembuhan Luka Bakar Pada Kelinci Jantan
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/998
<p>Teh-Tehan (<em>Acalypha siamensis</em>) merupakan tumbuhan yang memiliki efektivitas sebagai penyembuhan luka dengan dibuat dalam bentuk sediaan krim. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan konsentrasi ekstrak yang efektif dalam efektivitas penyembuhan luka bakar pada kelinci New Zealand putih jantan menggunakan ekstrak daun teh-tehan. Metode ekstraksi dilakukan secara maserasi dengan pelarut etanol 70%. Konsentrasi ekstrak yang digunakan dalam formula sediaan krim ekstrak daun teh-tehan yaitu F1 (3%), F2 (5%), F3 (10%). Kontrol positif (K+) krim asam hialuronat, kontrol negatif (K-) sediaan krim tanpa ekstrak dan kontrol normal K(n). Hasil pengujian luka bakar yaitu K(+), F2 dan F3 sama efektivitasnya dalam penyembuhan luka dapat dilihat dari hasil makroskopis nagaoka dengan skor 7. Namun, berdasarkan waktu penyembuhan F3 lebih baik dalam penyembuhan luka dibandingkan dengan F2. F1, K(-) dan K(n) menunjukkan penyembuhan yang paling lambat berdasarkan waktu penyembuhan. Konsentrasi ekstrak sebesar 10% memberikan efektivitas penyembuhan yang lebih efektif dalam penyembuhan luka bakar. Hal ini menunjukan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang digunakan maka memberikan hasil yang maksimal.</p>Wulan Tri WindayaniNofita NofitaYovita Endah Lestari
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-312025-12-3111273273910.35311/jmpi.v11i2.998Kulit Batang Jabon (Anthocephalus cadamba (Roxb) Miq.): Flavonoid dan Fenolik Total serta Uji Aktivitas Antifungi
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1003
<p>Pemanfaatan tanaman alam sebagai antifungi alami telah menjadi fokus perhatian dalam bidang kesehatan dan pengobatan karena keunggulan mereka dalam memberikan alternatif terhadap antifungi sintetis yang sudah ada yang semakin rentan terhadap resistensi mikroorganisme khususnya fungi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi antifungi dari ekstrak kulit batang Jabon (<em>Anthocephalus cadamba</em> (Roxb) Miq.) dan menentukan kadar flavonoid dan fenoliknya. Metode spektrofotometri digunakan untuk menentukan kadar flavonoid dan fenolik total sedangkan untuk pengujian aktivitas antifungi menggunakan metode difusi cakram dan dilusi. Hasil penelitian menunjukkan kadar flavonoid total sebesar 59.457 mgQE/g ± 0.577 dan kadar fenolik total sebesar 102.931 mgGAE/g ± 1.034, hasil ini menunjukkan kadar fenolik total lebih tinggi dibandingkan dengan kadar flavonoid total. Adapun uji aktivitas antifungi menunjukkan bahwa ekstrak etanol kulit batang Jabon tidak menunjukkan daya hambat pada fungi Candida albicans dan Aspergillus brasiliensis baik pada uji difusi maupun dilusi cair. Sedangkan kontrol positif (Ketoconazole) memiliki aktivitas antifungi yaitu memiliki diameter daya hambat 30.39 mm terhadap Candida albicans dan 18.46 terhadap Aspergillus brasiliensis. Pada uji dilusi cair kontrol positif menunjukkan tidak adanya pertumbuhan fungi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada korelasi positif antara kadar flavonoid dan fenolik dengan aktivitas sebagai antifungi dalam penelitian ini.</p>Nur Fadilah BakriClaudius Hendraman B. TobiNurita A. S. MuayyidahRusnaeni RusnaeniFelycitae Ekalaya AppaKrisna DewiRani Dewi Pratiwi
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-312025-12-3111274074810.35311/jmpi.v11i2.1003Aktivitas Antiinflamasi Nanoemulsi Ekstrak Kurkumin dari Kunyit (Curcuma longa L.) pada Mencit Jantan yang Di induksi Karagenan
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1004
<p>Inflamasi merupakan respon fisiologis tubuh terhadap cedera jaringan akibat trauma fisik, kimia, atau mikrobiologik. Terapi menggunakan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) dan steroid sering menimbulkan efek samping serius, sehingga diperlukan alternatif berbasis bahan alam. Kunyit (<em>Curcuma longa</em> L.) diketahui mengandung senyawa kurkuminoid, terutama kurkumin, yang memiliki aktivitas antiinflamasi. Namun, bioavailabilitas kurkumin yang rendah membatasi efektivitasnya, sehingga dikembangkan dalam bentuk nanoemulsi untuk meningkatkan kelarutan dan penetrasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antiinflamasi nanoemulsi ekstrak kunyit serta menentukan dosis optimum terhadap mencit jantan yang diinduksi karagenan 1%. Ekstraksi dilakukan menggunakan metode <em>Ultrasound Assisted Extraction</em> dengan pelarut etanol 96%, diikuti pembuatan nanoemulsi melalui metode emulsifikasi energi rendah menggunakan VCO, PEG 40, dan PEG 400. Nanoemulsi dievaluasi secara fisik (organoleptik, pH, viskositas, stabilitas, ukuran partikel). Rata-rata ukuran partikel sebesar 67,72 ± 1,21 nm yang berada dalam rentang ukuran nanoemulsi (20-200 nm). Uji aktivitas antiinflamasi menggunakan metode induksi karagenan menunjukkan bahwa nanoemulsi ekstrak kunyit menurunkan volume peradangan relatif secara signifikan dibandingkan kontrol negatif (<em>Kruskal-Wallis</em>, p = 0,009). Nilai <em>Area Under Curve</em> (AUC) menurun seiring peningkatan dosis, dengan hasil terbaik pada dosis 200 mg/kgBB, mendekati efektivitas kontrol positif (kalium diklofenak 6,5 mg/kgBB). Begitu pula dengan persentase hambatan peradangan yang cukup tinggi pada menit ke-300 sebesar 83,07% (200 mg/kgBB). Hasil ini menunjukkan bahwa nanoemulsi ekstrak kunyit berpotensi sebagai kandidat sediaan antiinflamasi alami yang efektif, uji lanjutan diperlukan uji toksisitas, stabilitas jangka panjang, serta uji klinis lebih lanjut guna menjamin mutu dan keamanan sediaan.</p>Komang Rian WidiantaraDewa Ayu Putu Maylani LeticiaNi Nyoman Putri WardaniDewa Gede Wira Putra ArtawanPutu Claudia Sekar Sariyanti DewiAnak Agung Gede Rai Yadnya-Putra
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-312025-12-3111274975910.35311/jmpi.v11i2.1004Potensi Bioaktif Ekstrak Bunga Kangkung Pagar (Ipomoea carnea Jacq.) Menghambat Alfa-Amilase dan Alfa-Glukosidase: In Vivo–In Silico
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1006
<p>Diabetes melitus tipe 2 merupakan masalah kesehatan global dengan komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular. Penghambatan enzim ?-amilase dan ?-glukosidase menjadi strategi terapi efektif dalam mengendalikan hiperglikemia. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi potensi antidiabetik ekstrak bunga kangkung pagar (<em>Ipomoea carnea</em> Jacq.) melalui pendekatan in vivo dan in silico. Ekstraksi dilakukan menggunakan metode <em>Microwave-Assisted Extraction</em> (MAE) dengan etanol 96%. Skrining fitokimia menunjukkan adanya alkaloid, flavonoid, saponin, dan fenol. Studi <em>molecular docking</em> dilakukan terhadap enzim ?-amilase (1B2Y) dan ?-glukosidase (5NN8) menggunakan senyawa aktif n-hexadecanoic acid, caryophyllene, germacrene D, dan docosane. Hasil menunjukkan germacrene D memiliki afinitas pengikatan terkuat terhadap ?-glukosidase (-7,5 kcal/mol), melebihi acarbose (-7,1 kcal/mol). Caryophyllene menunjukkan afinitas tertinggi terhadap ?-amilase (-6,8 kcal/mol). Uji in vivo menggunakan 25 ekor tikus putih jantan yang diinduksi streptozotocin menunjukkan pemberian ekstrak dosis 100 dan 150 mg/kg BB selama 14-21 hari mampu menurunkan kadar glukosa darah secara signifikan (p < 0,01). Dosis 150 mg/kg BB memberikan efek optimal yang sebanding dengan acarbose. Mekanisme hipoglikemik diduga melalui aktivitas antiinflamasi, antioksidan, dan perbaikan sensitivitas insulin. Penelitian ini membuktikan bahwa ekstrak bunga kangkung pagar berpotensi sebagai agen antidiabetik alami yang efektif dan dapat dikembangkan sebagai alternatif fitoterapi untuk pengelolaan diabetes melitus.</p> <p><strong>Kata Kunci : </strong><em>Ipomoea carnea</em> Jacq., antidiabetik, ?-amilase, ?-glukosidase, , <em>molecular docking</em>, streptozotocin, hipoglikemia</p> <p><strong>ABSTRAK </strong></p> <p><em>Type 2 diabetes mellitus is a global health problem with macrovascular and microvascular complications. Inhibition of ?-amylase and ?-glucosidase enzymes is an effective therapeutic strategy for controlling hyperglycemia. This study aims to evaluate the antidiabetic potential of water spinach flower extract (Ipomoea carnea Jacq.) through in vivo and in silico approaches. Extraction was performed using the Microwave-Assisted Extraction (MAE) method with 96% ethanol. Phytochemical screening showed the presence of alkaloids, flavonoids, saponins, and phenols. Molecular docking studies were conducted on ?-amylase (1B2Y) and ?-glucosidase (5NN8) enzymes using the active compounds n-hexadecanoic acid, caryophyllene, germacrene D, and docosane. The results showed that germacrene D had the strongest binding affinity to ?-glucosidase (-7.5 kcal/mol), exceeding that of acarbose (-7.1 kcal/mol). Caryophyllene showed the highest affinity to ?-amylase (-6.8 kcal/mol). In vivo testing using 25 male white rats induced with streptozotocin showed that concentration of 100 and 150 mg/kg BW doses of the extract for 14-21 days significantly reduced blood glucose levels (p <0.01). The 150 mg/kg BW dose provided an optimal effect comparable to acarbose. The hypoglycemic mechanism is thought to be through anti-inflammatory, antioxidant, and insulin sensitivity improvement activities. This study proves that water spinach flower extract has the potential to be an effective natural antidiabetic agent and can be developed as a phytotherapy alternative for diabetes mellitus management.</em></p> <p><strong>Keywords : </strong><em>Ipomoea carnea</em><em> Jacq</em><strong>., </strong>antidiabetic, ?-amilase, ?-glukosidase, , <em>molecular docking</em>, streptozotocin, hipoglycemia</p>Fityatun UsmanZulkifli ZulkifliNurfadilah NurfadilahAndi Ulfah Magefirah RasyidWidya HardiyantiAndi Utari PrasetyaNurul Amalia FadilahKhairuddin KhairuddinIlham IlhamPutri Awaliah AldinaMuhammad Ilham Hamzah
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-312025-12-3111276076910.35311/jmpi.v11i2.1006Penetapan Kadar Flavonoid Total Ekstrak Etanol 96% Daun Sembung (Blumea balsamifera L.) Berdasarkan Variasi Ukuran Partikel Menggunakan Metode Spektrofotometri Uv-Vis
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1010
<p>Salah satu tanaman yang digunakan sebagai obat tradisional adalah daun sembung (<em>Blumea balsamifera</em> L.). Secara empiris, daun sembung dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obat penurun demam. Metabolit sekunder yang terdapat pada daun sembung salah satunya adalah flavonoid. Flavonoid berfungsi sebagai penurun demam (antipiretik), antioksidan, dan antiinflamasi. Dalam proses ekstraksi, ukuran partikel menjadi salah satu faktor yang berpengaruh, diketahui ukuran partikel yang lebih kecil menghasilkan kadar flavonoid yang lebih tinggi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar flavonoid total ekstrak etanol 96% daun sembung berdasarkan variasi ukuran partikel menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Metode penelitian ini yaitu deskriptif observasional hanya mendeskripsi penetapan kadar flavonoid ekstrak etanol 96% daun sembung berdasarkan variasi ukuran partikel mesh 40/60 dan mesh 60/80. Hasil penelitian pada analisis kualitatif senyawa flavonoid menunjukkan hasil positif, ditandai dengan perubahan warna menjadi hijau kehitaman. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa ekstrak etanol 96% daun sembung dengan ukuran partikel mesh 40/60 mengandung flavonoid sebesar 108,3 ± 0,10 mg QE/g (10,83%) sedangkan ukuran partikel mesh 60/80 sebesar 121 ± 0,14 mg QE/g (12,1%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Kadar flavonoid total dalam ekstrak etanol 96% daun sembung dengan ukuran partikel mesh 60/80 menunjukkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan ukuran mesh 40/60.</p>Hafizatul HusnaRohma RohamaFebby Yulia HastikaAli Rakhman Hakim
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-312025-12-3111277077610.35311/jmpi.v11i2.1010Formulasi Clay Mask Ekstrak Etanol Daun Kecombrang (Etlingera elatior) serta Potensinya sebagai Antibakteri dan Antioksidan
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1017
<p>Kecombrang (<em>Etlingera elatior</em>) merupakan tanaman yang memiliki banyak manfaat terutama pada daunnya mengandung senyawa flavonoid yang mampu bertindak sebagai antibakteri dan sebagai antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi ekstrak etanol daun kecombrang yang memenuhi syarat mutu fisik, untuk mengetahui efek iritasi dari sediaan <em>clay mask</em> pada kulit serta untuk mengetahui potensi antibakteri dan antioksidan pada sediaan <em>clay mask</em> ekstrak etanol daun kecombrang. Penelitian ini diawali dengan ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Ekstrak yang didapatkan dibuat dalam sediaan <em>clay mask</em> yang sebelumnya dilakukan uji Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) menggunakan metode dilusi cair dan diperoleh konsentrasi FI (1,5%), FII (2,5%), FIII (5%). Pengujian iritasi menggunakan metode <em>patch test</em> dan pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi sumuran serta pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Hasil penelitian yang diperoleh sediaan <em>clay mask</em> ekstrak etanol daun kecombrang memenuhi syarat mutu fisik, tidak terdapat iritasi, dan hasil pengujian aktivitas antibakteri terhadap <em>Cutibacterium acnes</em> diperoleh diameter zona hambat FI (12,89 ± 1,10), FII (14,28 ± 0,89), dan FIII (16,06 ± 0,89) dengan kategori kuat serta hasil pengujian aktivitas antioksidan diperoleh nilai IC<sub>50</sub> sediaan <em>clay mask</em> ekstrak etanol daun kecombrang FI (93,184 ± 0,11), FII (90,798 ± 0,11), dan FIII (87,209 ± 0,04) dengan kategori kuat. Hasil analisis statistik pengujian aktivitas antibakteri menggunakan Analisis Varians (ANAVA) menunjukkan ketiga formula berbeda secara signifikan (nilai sig. < 0,05) dan hasil analisis statistik pengujian aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa ketiga formula tidak terdapat perbedaan nyata antar perlakuan terhadap aktivitas antioksidan karena nilai sig. > 0.05.</p>Arfiani ArifinMuhammad IqbalAyu Wandira A Baso Amri
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-312025-12-3111277778710.35311/jmpi.v11i2.1017Identifikasi Profil Sidik Jari (Fingerprint) Fitokimia, Kadar Total Fenol dan Kadar Total Flavonoid pada Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera L.)
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1025
<p>Indonesia merupakan negara tropis yang kaya akan tanaman obat, salah satunya daun kelor (<em>Moringa oleifera</em> L.) yang dikenal memiliki beragam metabolit sekunder seperti flavonoid, fenol, tanin, saponin, alkaloid, dan steroid/triterpenoid. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi profil fitokimia, total fenol, dan flavonoid daun kelor menggunakan KLT dan spektrofotometri UV-Vis. Setelah determinasi, pembuatan simplisia, dan ekstraksi dengan etanol 96% dan etil asetat, hasilnya menunjukkan simplisia dan ekstrak kelor mengandung metabolit sekunder. Analisis sidik jari fitokimia dengan KLT menunjukkan perbedaan kandungan senyawa berdasarkan asal tanaman, sementara ekstrak etanol 96% terbukti lebih efektif dalam mengekstraksi total fenol dan flavonoid secara signifikan dibandingkan ekstrak etil asetat. Data dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk, Independent Sample T-Test, dan Mann-Whitney. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa simplisia dan ekstrak daun kelor positif mengandung metabolit sekunder. Analisis fingerprint menggunakan KLT memperlihatkan variasi pola bercak pada ekstrak dari daerah berbeda, yang mengindikasikan adanya perbedaan kandungan senyawa. Kandungan total fenol pada ekstrak etil asetat dan etanol 96% masing-masing 253,12 mg GAE/g dan 278,57 mg GAE/g, serta kadar flavonoid masing-masing 537,4 mg QE/g dan 593,4 mg QE/g. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol 96% lebih efektif secara signifikan dibandingkan etil asetat dalam mengekstraksi senyawa bioaktif daun kelor.</p>Ni Luh Putu Kris Monika YantiNi Made Ayu Sukma DewiNi Kadek Ayu SuryanadiPutri Siswati Anggrayani
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-312025-12-3111278879610.35311/jmpi.v11i2.1025Formulasi dan Uji Stabilitas Fisik Sediaan Lotion Antinyamuk Kombinasi Minyak Atsiri Bunga Kenanga dan Sereh Wangi
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1051
<p>Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan utama di Indonesia. Berbagai metode telah dikembangkan untuk mencegah gigitan nyamuk, salah satunya melalui penggunaan produk perlindungan berupa lotion antinyamuk. Indonesia memiliki potensi besar dalam pemanfaatan tumbuhan yang mengandung insektisida alami, seperti sereh wangi dan bunga kenanga. Penelitian ini bertujuan merumuskan dan menguji stabilitas fisik sediaan lotion antinyamuk kombinasi minyak atsiri bunga kenanga dan sereh wangi. Lotion diformulasikan sebagai emulsi tipe minyak dalam air (o/w) dengan variasi konsentrasi emulgator asam stearat (10%, 15%, 20%) dan trietanolamin/TEA (2%, 3%, 4%). Stabilitas fisik diuji melalui parameter organoleptik, pH, daya sebar, daya lekat, dan homogenitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua formula memenuhi standar organoleptik dengan tekstur halus, warna putih cerah, serta aroma khas citronella yang dipadukan kenanga. Nilai pH berkisar antara 6,00–6,96, dengan F1 dan F2 berada dalam rentang fisiologis kulit (4,5–6,5). Daya sebar berkisar 6–9 cm, daya lekat 6–13 detik, dan uji homogenitas menunjukkan F2 dan F3 homogen. Kesimpulan: Kombinasi minyak atsiri sereh wangi dan bunga kenanga berpotensi diformulasikan menjadi lotion antinyamuk yang stabil secara fisik dan memenuhi standar mutu sediaan topikal.</p>Ria Indah Kusuma PitalokaNawafila FebruyaniMar’atus Sholikhah SugitoSiti Nur MaysatunInggria Eka PrawestriRahma Putri
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-312025-12-3111279780410.35311/jmpi.v11i2.1051Influence of CYP2C19 Metabolism and Ethnic Variability on Clopidogrel Effectiveness in Ischemic Stroke: A Review
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/1024
<p>Clopidogrel is widely used to prevent secondary stroke and coronary heart disease. Its effectiveness depends on conversion to the active metabolite, a process mediated by cytochrome P450 2C19 (CYP2C19). Clopidogrel is less effective in secondary stroke prevention for carriers of CYP2C19 loss-od-function (LoF) alleles. This review examined research from 2019 to 2024 on how CYP2C19 enzyme metabolism affects clopidogrel’s effectiveness across ethic group and the resulting clinical outcomes in patients with ischemic stroke. A literature review was conducted using online research journals, with the population, intervention, comparison, and outcomes framework guiding the research questions. Ten studies were identified, primarily cohort studies, supplemented by several randomized control trials, which strengthen the evidence base. Most data came from Asian population with 1 – 2 LoF alleles (*2 and/or *3), including intermediate metabolizers (IM) or poor metabolizers (PM). The *1 allele was common in Europeans and Africans but found less frequently in Asians. Caucasian, European, African, and American populations were likely to carry gain-of-function alleles or be normal metabolizers. Bleeding risks did not differ significantly between carriers and noncarriers of the CYP2C19 LoF allele. In IM and PM, alternative P2Y12 inhibitors, such as prasugrel or ticagrelor, are recommended to optimize therapy.</p>Junaidi KhotibAnis Khoirun Sauma
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-252025-12-2511240741610.35311/jmpi.v11i2.1024Review : Alirocumab dan Evolocumab sebagai Agen Penurun Lipid Baru
https://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/849
<p>Angka kematian yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskular di seluruh dunia masih relatif tinggi. Salah satu faktor risikonya adalah LDL-C (<em>low density lipoprotein cholesterol</em>), di mana memodifikasi faktor ini diharapkan dapat mencegah kejadian kardiovaskular. Penghambat PCSK9 (<em>proprotein convertase subtilisin/kexin type 9</em>) adalah agen penurun lipid baru dengan mekanisme yang mempertahankan reseptor LDL-C di dalam darah. Untuk meninjau penelitian terbaru mengenai efektivitas dan keamanan agen penghambat PCSK9, Alirocumab dan Evolocumab, serta potensinya dalam menurunkan kadar lipid. Pencarian literatur menggunakan database elektronik PubMed dengan kata kunci ‘Alirocumab’, ‘Evolocumab’, ‘LDL-C’, ‘Kardiovaskular’, ‘Dislipidemia’, dengan kriteria 5 tahun terakhir dan teks lengkap dalam bahasa Inggris. Dari 12 artikel yang telah disaring kemudian akan direview. Nilai LDL-C menurun secara signifikan rata-rata 53% (11%-72%) dengan efek samping yang ringan, seperti nasofaringitis, diare, dan reaksi tempat suntikan. Alirocumab dan Evolocumab disuntikkan secara subkutan setiap 2 minggu atau 4 minggu. Penghambat PCSK9 berbasis antibodi monoklonal dapat menjadi alternatif untuk pencegahan kardiovaskular berisiko tinggi bagi pasien yang memiliki riwayat dosis statin yang dapat ditoleransi atau pasien yang tidak toleran terhadap statin.</p>Humaira Izka AlfatihahYulistiani Yulistiani
Copyright (c) 2025 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
2025-12-252025-12-2511234335310.35311/jmpi.v11i2.849