Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya en-US Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 2442-6032 Uji Stabilitas dan Aktivitas Sediaan Patch Herbal Anti-Acne Ekstrak Etanol Daun Gaharu http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/439 <p><em>Acne is a skin condition characterized by the formation of skin bumps due to bacterial activity. Secondary metabolite compounds found in Gaharu leaves, such as flavonoids known for their antibacterial properties. This research aims to assess the physical and chemical stability of an anti-acne patch containing ethanol extract from Gaharu leaves and chitosan polymer. Additionally, this research aims to evaluate the antibacterial effectiveness of the anti-acne patch against Propionibacterium acnes. The experimental approach involves stability testing through cycling tests, observation of physical and chemical properties before and after stability tests, and antibacterial activity testing against P. acnes. The results from the stability test indicate overall stability in organoleptic aspects, thickness, folding ability, weight consistency, moisture content, vapor transmission, and moisture absorption of the anti-acne patch. However, instability is noted in the pH of the preparation. The antibacterial activity test reveals that the entire formulation exhibits antibacterial properties against P. acnes. Furthermore, there is a positive correlation between the increased concentration of ethanol extract from Gaharu leaves or chitosan polymer and the heightened barrier zone value. </em></p> Gayatri Simanullang Untia Kartika Sari Ramadhani Nisa Yulianti Suprahman Gres Maretta Dewi Rana Syafitri Pinka Mustika Saeli Tsalsha Ashafila Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-23 2024-06-23 10 1 1 14 10.35311/jmpi.v10i1.439 Eksplorasi Aktivitas Antioksidan Biji Kepundung (Baccaurea racemosa) Dan Korelasinya Dengan Kandungan Fenolik Total http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/443 <p>Dalam dekade terakhir, radikal bebas dapat menyebabkan banyak penyakit, misalnya kanker. Antioksidan merupakan senyawa yang mampu menghambat aktivitas radikal bebas. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang bisa dieksplor aktivitas antioksidannya. Salah satu tumbuhan Indonesia yang potensial yaitu kepundung (<em>Baccaurea racemosa</em>)<em>. </em>Bagian daun, batang, buah, kulit buah, dan kulit batang kepundung dilaporkan memiliki aktivitas antioksidan yang tergolong sedang sampai sangat kuat. Namun, aktivitas antioksidan biji kepundung belum pernah dilaporkan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengekplorasi aktivitas antioksidan biji kepundung dan korelasinya dengan kandungan fenolik totalnya. Biji buah kepundung diekstraksi dengan metode maserasi bertingkat diawali dengan pelarut petroleum eter kemudian dilanjutkan dengan kloroform lalu etil asetat. Ekstrak petroleum eter, ekstrak kloroform, dan ekstrak etil asetat biji kepundung dianalisis aktivitas antioksidannya menggunakan metode penangkapan radikal bebas <em>2,2’-diphenil-1-picrylhydrazil</em> (DPPH). Sementara itu, kandungan fenolik total diuji menggunakan metode Folin-Ciocalteu. Korelasi antara aktivitas antioksidan dan kandungan fenolik total dianalisis menggunakan <em>Person correlation test.</em> Hasil menunjukkan bahwa ekstrak petroleum eter, ekstrak kloroform, dan ekstrak etil asetat secara berurutan memiliki persen penghambatan radikal DPPH sebesar 6,35 ± 0,97 %; 28,84 ± 5,48 %; dan 50,78 ± 1,18 %. Sementara itu, kandungan fenolik total ekstrak petroleum eter, ekstrak kloroform, dan ekstrak etil asetat secara berurutan yaitu 0,10 ± 0,01; 15,12 ± 0,52; dan 30,62 ± 0,87 mg ekuivalen asam galat/ gram ekstrak (mg EAG/g). Senyawa fenolik ekstrak biji kepundung berkorelasi positif dan signifikan dengan aktivitas antioksidannya. Senyawa fenolik berkonstribusi sebesar 98,9% terhadap aktivitas antioksidan biji kepundung. Biji kepundung dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai antioksidan alami.</p> Lina Permatasari Abdul Rohman Sugeng Riyanto Perdana Priya Haresmita Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-23 2024-06-23 10 1 15 23 10.35311/jmpi.v10i1.443 Suitability Of Real Cost To Tariff Of INA-Cbgs Of Hypertensive Patients At X General Hospital http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/450 <p><em>Hypertension referred to as the "silent killer". Hypertension is a non-communicable disease that one of the leading causes death in the world. Increasing prevalence of hypertension based on measurements Indonesia in the population aged (18 years by 34.11% with the highest hypertension sufferers in South Kalimantan at 44.13% and the lowest prevalence of hypertension in Papua at 22.22%. In Indonesia, health costs keep increasing due to degenerative diseases. This study aims to determine the Real Cost of hypertensive patients and to determine the difference in Real Cost to the INA CBGs tariff of hypertensive inpatients at General Hospital X Kediri regarding the class of treatment, severity and length of treatment.</em></p> <p><em>This study was a descriptive quantitative research using a cross sectional design with retrospective data. The results of the study of the real cost of hospital of hypertensive patients with or without comorbidities at Public Hospital X Kediri was Rp.408,473,500. Meanwhile, the INA CBGs tariff was Rp.211,709,100 so that the difference obtained was negative Rp.196,764,400. The cost consists of class 1 treatment (13 patients) was Rp. (-32,884,800), class 2 (16 patients) was Rp. (-25,262,600) and class 3 (79 patients) was Rp. (-138,617,000). The difference in severity was mild severity (81 patients) of Rp. (-144,856,800), moderate severity (20 patients) of Rp. (-39,647,000) and severe severity (7 patients) of Rp. (-12,260,600). The difference in length of hospital stay 0-5 days (66 patients) was Rp.(-85,504,600), length of hospital stay&nbsp; 6-10 days (41 patients) was Rp.(-107,463,600) and length of hospital stay (10 days (1 patient) was Rp.(-3,796,200).</em></p> <p><em>The real cost of hospital was greater than the INA CBGs tariff, thus causing a negative cost difference that can make financial loss to the hospitals.</em></p> Anggi Restyana Wika Admaja Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-23 2024-06-23 10 1 24 30 10.35311/jmpi.v10i1.450 Pengaruh Variasi Konsentrasi Emulgator Viscolam® Terhadap Stabilitas Krim Fitosom Ekstrak Daun Laruna (Chromolaena odorata L.) http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/457 <p>Fitosom&nbsp; adalah teknologi yang dikembangkan untuk dapat membuat suatu molekul mudah terabsorpsi dan meningkatkan bioavaibilitas dari fitokonstituen. Krim yang terbuat dari bahan alam selain harus memiliki bioavaibiltas yang baik juga harus memiliki kestabilan fisik yang memadai sehingga dalam formulasi perlu ditambahkan emulgator untuk menstabilkannya.&nbsp; Viscolam® dipilih karena memiliki beberapa keuntungan seperti memiliki stabilitas yang baik dalam penyimpanan di suhu kamar maupun climatic chamber serta pH yang mendekati pH kulit manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh emulgator Viscolam® dengan berbagai konsentrasi pada krim fitosom ekstrak daun laruna (<em>Chromolaena odorata</em> L.) dan mengetahui konsentrasi emulgator Viscolam® yang paling stabil terhadap krim fitosom ekstrak daun laruna (<em>Chromolaena odorata</em> L.). Tahapan penelitian meliputi ekstraksi sampel, uji identifikasi golongan dan uji antioksidan, pembuatan fitosom, pembuatan krim, dan evaluasi fisik krim. Hasil yang diperoleh bahwa konsentrasi emulgator Viscolam® berpengaruh terhadap stabilitas fisik krim fitosom ekstrak daun laruna (Chromolaena odorata L.). Peningkatan konsentrasi Viscolam® menyebabkan peningkatan viskositas krim sehingga daya sebar menurun dan daya lekat meningkat, serta penurunan pH seiring dengan meningkatnya konsentrasi Viscolam®. Formula B2 dan F2 merupakan formula yang terbaik dengan menggunakan emulgator Viscolam® sebesar 1,51%</p> Karlina Amir Tahir Haeria Doloking Utari Estina Kairani Ahmad Lalo Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-23 2024-06-23 10 1 31 42 10.35311/jmpi.v10i1.457 Pengembangan Sediaan Emulgel Ekstrak Etanol Teh Putih dan Minyak Biji Delima dengan Aktivitas Antioksidan dan Fotoprotektif http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/458 <h1>White tea and pomegranate seed oil are known to contain many bioactive compounds that make them potentially have antioxidant and photoprotective activities. This study aimed to examine the antioxidant and photoprotective activities of white tea leaf extract and develop it in an emulgel dosage form. White tea is extracted with 70% ethanol at 600C. The extracts were tested for antioxidant activity by the DPPH method and for photoprotective activity by the Mansur method. White tea extract was developed into an emulgel with pomegranate seed oil as the oil phase, stearic acid and TEA as emulsifiers, and viscolam mac 10 as a gelling agent. The results showed that the ethanol extract of white tea had a very strong antioxidant activity with an IC<sub>50</sub> value of 10.80 ± 0.75 ppm. White tea ethanol extract also has photoprotective activity with an SPF value of 12.35 ± 0.63, %Te value of 2.13 ± 0.01 %, and &nbsp;%Tp value of 45.13 ± 0.08 % (ultra protection category). White tea extract has been successfully developed into an emulgel preparation with good characteristics and stability in terms of organoleptic, pH, viscosity, spreadability, and rheological behavior. White tea emulgel are stable based on centrifugation and freeze-thaw tests.</h1> <p>&nbsp;</p> Sani Ega Priani Livia Syafnir Kiki Mulkiya Sri Peni Fitrianingsih Faqih Radina Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-23 2024-06-23 10 1 43 53 10.35311/jmpi.v10i1.458 Studi Etnobotani Tanaman Berkhasiat Obat Pada Etnis Ende, Lio, Nataia, Dhawe Pulau Flores Provinsi Nusa Tenggara Timur http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/510 <p>Pemanfaatan tanaman obat di masyarakat pada Etnis Ende, Lio, Nataia, dan Dhawe telah dikenal sejak jaman dahulu kala. Saat ini pelestarian tanaman obat masih harus diperhatikan karena seiring perkembangan zaman ditakutkan pengetahuan mengenai penggunaan tanaman obat akan berkurang dan hilang. Penelitian kali ini dilakukan untuk menggali informasi pada masyarakat pada Etnis Ende, Lio, Nataia, Dhawe mengenai jenis tanaman, cara pengolahan, dan khasiat dari tanaman dalam pengobatan. Metode yang digunakan adalah menggunakan cara observasi kepada masyarakat etnis tersebut. Berdasarkan hasil yang di dapat terdapat 60 jenis tanaman dari keempat Etnis yang sering digunakan dalam pengobatan, ini terbagi atas 18 jenis tanaman yang sama dan 42 jenis tanaman yang berbeda. Adapun jenis penyakit yang sering memanfaatkan tanaman dalam pengobatan pada masyarakat adalah demam, panas dalam, keputihan, perut kembung, sakit perut, maag, pendarahan, hipertensi, hipotensi, luka bakar, anemia, terlambat haid, keseleo, nyeri haid, mata ikan, gigitan binatang, sakit gigi, sariawan, rheumatic, amandel, dan ambeien, dan cara pengolahan tanaman obat yang paling banyak digunakan adalah dengan cara direbus. Tanaman khas daerah yang banyak digunakan dalam pengobatan pada etnis tersebut diantaranya adalah <em>Sterculia quadrifida</em> (Faloak), <em>Lannea Coromandelia</em> (Kudo), <em>Azadirachta Indica</em> (Mimba).</p> Kania Fajarwati Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-30 2024-06-30 10 1 54 68 10.35311/jmpi.v10i1.510 Pengaruh Kemoterapi terhadap Kadar Hematologi pada Pasien Kanker Payudara di RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/512 <p>Kanker payudara merupakan penyakit keganasan pada jaringan payudara yang dapat berasal dari epitel duktus maupun lobulusnya. Terapi kanker payudara dapat dilakukan dengan beberapa macam terapi, salah satunya adalah kemoterapi. Efek samping kemoterapi yang paling umum adalah mielosupresi yaitu penurunan kadar sel darah karena agen kemoterapi bersifat toksik terhadap organ pembentuk darah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran pengaruh kemoterapi dalam menurunkan kadar sel darah pasien kanker payudara yang menerima kemoterapi di RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan periode Juli 2022 sampai Juni 2023. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain <em>cross-sectional</em>. &nbsp;Dari 82 sampel, pasien dengan kadar eritrosit dibawah normal sebanyak 50 pasien (60%); hemoglobin 79 pasien (96%); hematokrit 75 pasien (91%); neutrofil 20 pasien (24%); leukosit 25 pasien (30%); dan trombosit 7 pasien (9%). Kadar hematologi di bawah normal paling banyak adalah hemoglobin dan hematokrit</p> Annisa Nabilah Wisnu Cahyo Prabowo Hadi Kuncoro Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-30 2024-06-30 10 1 69 76 10.35311/jmpi.v10i1.512 Efektivitas Biaya Obat Kombinasi ACEI-CCB dan ARB-CCB pada Pasien Hipertensi dengan Diabetes Melitus Tipe 2 http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/477 <p>Komplikasi hipertensi sering terjadi salah satunya pada DM tipe 2. Dalam mencapai penurunan tekanan darah diperlukan terapi obat kombinasi dengan menggunakan ACEI-CCB dan ARB-CCB. Terapi obat kombinasi efektif dalam mengontrol tekanan darah, namun mampu membuat beban biaya pengobatan meningkat. Tujuan penelitian ini memiliki tujuan yakni mencari tahu gambaran obat kombinasi ACEI-CCB dan ARB-CCB pada pasien hipertensi dengan DM tipe 2, dalam rangka mengetahui keefektifan biaya, serta untuk mengetahui rencana perbaikan masalah <em>cost-effectiveness</em> pada lingkup rumah sakit. Penelitian berjenis observasional dengan pengambilan datanya dilakukan dengan cara retrospektif. Biaya yang dianalisis yaitu mencakup biaya terapi obat, biaya penunjang, biaya obat tambahan, dan biaya laboratorium, kemudian melakukan rencana perbaikan untuk <em>cost-effectivenes</em> dengan menggunakan metode analisis SWOT. Didapatkan sampel penelitian ini sebanyak 90 pasien, pengguna kelompok terapi ACEI-CCB sebanyak 38 pasien dan kelompok terapi ARB-CCB sebanyak 52 pasien. Hasil penelitian analisis rata-rata biaya pengobatan kombinasi antihipertensi pasien komplikasi DM Tipe 2 didapatkan pada kombinasi ACEI-CCB sebesar Rp. 635.663, sedangkan pada kombinasi ARB-CCB sebesar Rp. 570.314. Biaya penggunaan obat kombinasi yang paling efektif adalah kombinasi ACEI-CCB dengan nilai efektivitas 44,74% dan dengan nilai ACER sebesar Rp. 14.209 dan ICER yaitu Rp. 7.970,96. Hasil analisis SWOT dengan matriks IE ini berada pada sel I sehingga dapat diindikasikan rumah sakit yang peneliti jadikan lokasi penelitian ada pada posisi <em>grow and build</em> atau tumbuh dan membangun, sehingga strategi yang dapat diterapkan yaitu meliputi penetrasi, pengembangan dan integrase.</p> Yulinda Pristi Dwi Hapysari Ika Purwidyaningrum Samuel Budi Harsono Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-30 2024-06-30 10 1 77 88 10.35311/jmpi.v10i1.477 Sintesis Heksapeptida Linear Prolin-Leusin-Lisin-Leusin-Fenilalanin-Fenilalanin (PLKLFF) dan Aktivitas Antimikrobanya http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/478 <p>Resistensi terhadap antibiotik konvensional memiliki tingkat kejadian yang cukup tinggi. Dibutuhkan pengembangan antibiotik baru salah satunya golongan senyawa peptida yang merupakan kandidat yang potensial sebagai agen antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis peptida baru dan mengevaluasi aktivitas antimikrobanya. Peptida antimikroba dapat didesain menggunakan <em>machine learning</em> iAMPpred dengan menganalisis nilai tertinggi probabilitas antibakteri dan antijamur. Peptida disintesis secara kimia di laboratorium menggunakan metode sintesis peptida fase padat dan diuji aktivitas antimikrobanya dengan menggunakan metode dilusi untuk menghitung nilai <em>Minimum Inhibitory concentration</em> (MIC). Hasil penelitian menunjukkan desain heksapeptida linear Prolin-Leusin-Lisin-Leusin-Fenilalanin-Fenilalanin (PLKLFF) memiliki nilai probabilitas tertinggi dengan nilai probabilitas antibakteri 0,87 dan probabilitas antijamur 0,91. Heksapeptida linear ini berhasil disintesis menggunakan metode sintesis peptida fase padat dengan rendemen sebesar 93,32%. Keberhasilan sintesis dikonfirmasi menggunakan spektrofotometer infra merah dan spektroskopi massa. Senyawa heksapeptida linear PLKLFF memiliki aktivitas antijamur/fungistatik sedang terhadap jamur <em>C. albicans</em> ATCC 10231 dengan nilai MIC 312,5 µg/mL dan tidak aktif terhadap bakteri <em>E. coli</em> ATCC 11229 dan <em>S. aureus</em> ATCC 6538.</p> Agung Rahmadani Indriana Tasya Regina Purwita Sari Agusto Jeremia Giawa Wirhanuddin Gymnastiyar Kama Tasawa Hanggara Arifian Laode Rijai Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-30 2024-06-30 10 1 89 97 10.35311/jmpi.v10i1.478 Uji Kualitas Hidup Pasien Post Vaksinasi Covid-19 Dengan Pendekatan SF 36 Dan SF 12 http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/482 <p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Pesantnya penyebaran COVID-19 dan bahaya yang akan muncul jika tidak segera ditangani maka salah satu cara yang sangat mungkin untuk mencegah penyebaran virus ini adalah dengan mengembangkan vaksin. </span><span style="vertical-align: inherit;">Namun, vaksinasi COVID-19 menimbulkan beberapa efek samping jangka panjang dan jangka pendek. </span><span style="vertical-align: inherit;">Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran sosiodemografi pada pasien pasca vaksinasi COVID-19, gambaran kualitas hidup dengan pendekatan SF 36 dan SF-12, serta membandingkan keduanya. </span><span style="vertical-align: inherit;">Penelitian ini merupakan desain penelitian deskriptif non eksperimental dengan rancangan cross-sectional. </span><span style="vertical-align: inherit;">Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta. </span><span style="vertical-align: inherit;">Penelitian dekstriptif menggambarkan kualitas hidup masyarakat pasca vaksinasi COVID-19 yang terjadi di Puskesmas Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta. </span><span style="vertical-align: inherit;">Karakteristik responden penelitian didominasi pasien laki-laki sejumlah 46 pasien (51,69%) dengan kategori umur 17-24 tahun (Remaja Akhir) 42 pasien (47,19%), pendidikan terakhir SMA 47 pasien (52,81 %), status pernikahan belum menikah 51 pasien (57,30%), status pekerjaan pegawai swasta 30 pasien (33,71%), tingkat penghasilan lainnya di luar rentang UMR (1,9 juta) – 3,5 juta sebanyak 40 pasien (44,94% ) dengan mendapatkan vaksin </span></span><em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">booster</span></span></em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"> pada bulan Februari 2023 77 pasien (86,52%). </span><span style="vertical-align: inherit;">Kualitas hidup pasien pasca vaksinasi </span></span><em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">booster</span></span></em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"> COVID-19 dengan kuesioner SF-36 diperoleh hasil kategori baik sebanyak 62 pasien (69,66%). </span><span style="vertical-align: inherit;">Kualitas hidup pasien pasca vaksinasi </span></span><em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">booster</span></span></em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"> COVID-19 dengan kuesioner SF-12 diperoleh hasil kategori baik sebanyak 67 pasien (72,28%). </span><span style="vertical-align: inherit;">Tidak ada perbedaan hasil antara Kuesioner SF-36 dan SF-12 karena hasil dari pengukuran kualitas hidup pasien pasca vaksinasi </span></span><em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">booster</span></span></em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"> COVID-19 masuk kategori baik dengan nilai Mann Whitney sig. </span><span style="vertical-align: inherit;">0,671 &gt; 0,05.</span></span></p> joverly endey Gunawan Pamudji Widodo Lucia Vita Inandha Dewi Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-23 2024-06-23 10 1 98 110 10.35311/jmpi.v10i1.482 Standarisasi dan Uji Aktivitas Antikolesterol Ekstrak Etanol Daun Labu Kuning (Cucurbita moschata Duch.) pada Mencit (Mus musculus) http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/486 <p>Kolesterol merupakan salah satu golongan lemak yang terdapat dalam tubuh. Namun, ketika kadarnya di atas normal, maka dapat meningkatkan resiko terkena penyakit jantung koroner, aterosklorosis, pankreatitis, DM, gangguan tiroid, penyakit hepar dan penyakit ginjal, sehingga diperlukan alternatif pengobatannya, di samping obat sintetis saat ini yang memiliki efek samping yang tidak sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan standarisasi dan mengetahui aktivitas antikolesterol ekstrak etanol daun labu kuning (EELK) pada mencit jantan (<em>Mus musculus </em>Linn.) yang diinduksi <em>high fat diet</em> (HFD) dan propiltiouurasil. Standarisasi ekstrak meliputi parameter spesifik dan non-spesifik. Sedangkan pengujian aktivitas antikolesterol dilakukan dengan mengelompokkan mencit sebanyak 25 ekor ke dalam 5 kelompok, yang teridiri atas kelompok kontrol negatif (Na.CMC 0,5%), kelompok kontrol positif (Simvastatin), kelompok EEKL dosis 50 mg/kg BB, 100 mg/kg BB, dan 200 mg/kg BB. Analisis data uji aktivitas menggunakan metode <em>One way Analysis of Variance </em>(<em>ANOVA</em>) dan dilanjutkan dengan uji <em>LSD</em>. Dari hasil identifikasi metabolit sekunder, EEKL mengandung flavonoid, tanin, saponin dan triterpenoid. EEKL juga memenuhi standar parameter mutu ekstrak. Pada pengujian aktivitas, EEKL pada semua dosis menunjukkann aktivitas sebagai antikolesterol dengan rata-rata penurunan berturut-turut yaitu sebesar 114 mg/dL, 108 mg/dL dan 103 mg/dL, berbeda bermakna (p&lt;0,05) dengan kelompok kontrol negatif, dan hampir serupa dengan kelompok kontrol positif. Dapat disimpulkan bahwa EEKL dapat digunakan sebagai obat antikolesterol dengan standarisasi mutu ekstrak yang telah ditetapkan.</p> Rifaatul Mahmudah Himaniarwati Himaniarwati Shintia Agrifa Ali Imran Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-23 2024-06-23 10 1 111 121 10.35311/jmpi.v10i1.486 Formulasi Glowing Acne Cream Ekstrak Daun Nipah (Nypa fruticans) Sebagai Produk Untuk Mencegah Pertumbuhan Jerawat Dan Memperbaiki Skin Barrier http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/488 <p><em>One of the skin problems that often occurs among teenagers today is acne. Acne treatment generally uses antibiotics which can have side effects in the form of irritation or resistance if used long term. Therefore, another alternative is needed in treating acne, namely using natural ingredients which are expected to minimize the side effects of using antibiotics. A natural ingredient that is efficacious as an acne medicine is nipah leaves (Nypa fruticans) which contain flavonoid compounds which function as antibacterial agents. The aim of this research is to determine the physical properties test and at what concentration the glowing acne cream preparation of nipah leaf extract (Nypa fruticans) is effective against Propionibacterium acnes bacteria. The research results showed that the organoleptic test, homogeneity test, pH test, spreadability test, stickiness test, cream type test, viscosity test had fulfilled the preparation evaluation requirements. In the irritation test for all formulas all respondents had negative results and in the hedonic test for F1 color was preferred, aroma and shape were preferred by respondents in F2. Meanwhile, in the antibacterial activity test for the very strong category, it was found in F1 with an inhibitory zone diameter of 20.16mm and for the results of statistical analysis using one way ANOVA, the value P=0.000 was obtained</em></p> Fadya Adillah Murni Mursyid Chitra Astari Andi Fikrah Rahmah Nur Hikmah Muthmainnah Nikma Fadila Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-23 2024-06-23 10 1 122 133 10.35311/jmpi.v10i1.488 Potensi Aktivitas Antimikroba Serbuk Effervescent Daun Saga (Abrus precatorius L) Terhadap Jamur Candida albicans http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/489 <p><em>Medicinal plants are plants with medicinal properties that can relieve pain, increase the body's resistance and kill disease germs. Saga leaves (Abrus precatorius L.) contain flavonoids, saponins and alkaloids which can function as antifungals. </em><em>Flavonoids</em><em> is a compound that has an antifungal effect so it can play a role in the healing process of canker sores caused by the fungus Candida albicans. The aim of this research is to determine innovation, antifungal activity and physical evaluation test results of saga leaf extract effervescent powder (Abrus precatorius L). Testing for the activity of the Candida albicans fungus was carried out by the agar diffusion method using disc paper. Evaluation of effervescent powder preparations includes organoleptic observations including shape, color, odor and taste. Apart from that, a flow rate test, pH test and dissolution time test were carried out. The research results showed that all preparations met the requirements based on the literature with the organoleptic test results being in powder form, green in color, and had a sweet and sour taste which did not change during the test. The pH test results for F1 were 6.25, F2 6.5 and F3 7. The flow speed test for F1 was 1.20 seconds, F2 1.24 seconds and F3 1.33 seconds. Test flow time for F1 2.31 minutes, F2 2.43 minutes and F3 2.27 minutes. Meanwhile, the antifungal test showed the diameter of the inhibition zone for the Candida albicans fungus. F1 of 17.16 mm is included in the strong category, F2 of 13.83 mm is included in the strong category and F3 10.66 mm is included in the strong category.</em></p> Mila Karmila Syamsinar Idham Nadifa Syalsabila Ervianingsih Ervianingsih Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-23 2024-06-23 10 1 134 143 10.35311/jmpi.v10i1.489 Formulasi dan Uji Aktivitas Antibakteri Deodoran Spray Alami Kombinasi Ekstrak Daun Senggani (Melastoma malabathricum L.) dan Daun Bidara (Ziziphus mauritiana L.) http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/490 <p>Daun senggani (<em>Melastoma malabathricum </em>L.) dan daun bidara (<em>Ziziphus mauritiana</em> L.) memiliki aktivitas antibakteri terhadap <em>Staphylococcus aureus</em>, salah satu bakteri yang menjadi penyebab bau badan. Sehingga dapat digunakan sebagai bahan aktif dalam deodoran <em>spray</em>. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri deodoran <em>spray</em> kombinasi ekstrak daun senggani dan daun bidara serta mengetahui perbandingan kombinasi yang menghasilkan zona hambat paling baik terhadap <em>Staphylococcus aureus</em>. Dalam penelitian ini, 4 formula deodoran <em>spray</em> dibuat dengan konsentrasi ekstrak daun senggani sebesar 20% dan ekstrak daun bidara sebesar 40%, dengan variasi perbandingan konsentrasi F1 (1:1), F2 (2:1), dan F3 (1:2), serta F0 sebagai basis tanpa ekstrak. Kualitas fisik diuji melalui parameter organoleptis, pH, kejernihan, dan iritasi. Data hasil organoleptis, pH, kejernihan, dan iritasi dianalisis secara deskriptif. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram, dan analisis statistik dilakukan dengan <em>One Way Anova</em> dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 4 formula deodoran <em>spray</em> tetap stabil selama masa penyimpanan berdasarkan uji kualitas fisik secara organoleptis, pH, kejernihan, dan iritasi. Berdasarkan uji aktivitas antibakteri didapatkan hasil formula F1 (1:1) menunjukkan zona hambat rata-rata sebesar 20,41 mm, F2 (2:1) sebesar 25,83 mm, dan F3 (1:2) sebesar 34,25 mm. Formula 3 menunjukkan hasil uji dengan zona hambat paling besar.</p> Hijra Nur Hamka Hijra Izal Zahran Sri Rahayu Amri Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-23 2024-06-23 10 1 144 157 10.35311/jmpi.v10i1.490 Physical Stability and Antihyperpigmentation Activity of Berenuk (Crescentia cujete Linn) Leaves Ethanol Extract in Cream with Variations of Cremophor RH40 as Surfactant http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/492 <p>Indonesia has high exposure to sunlight which can cause skin problems such as hyperpigmentation. Treatment of hyperpigmentation with hydroquinone can cause side effects. Therefore, it is necessary to develop antihyperpigmentation products from natural ingredients to minimize these side effects. Berenuk leaves (<em>Crescentia cujete</em> Linn) have antioxidant activity with an IC50 value of 80.21 µg/ml in ethanol extract. This antioxidant compound can be used to treat hyperpigmentation problems. In its use, Berenuk Leaf Ethanol Extract (BLEE) is formulated in a cream dosage form. Cremophor RH40 is a type of nonionic surfactant that can affect the physical stability of cream. This study aims to determine the effect of Cremophor RH40 on the physical stability of cream preparations and their antihyperpigmentation activity. Cream preparations were made with varying concentrations of Cremophor RH40 5% (F1), 10% (F2), 15% (F3). Physical stability evaluation was tested using the cycling test method. Data were analyzed statistically with paired samples t-test. Analysis of antihyperpigmentation test data in the form of the amount of melanin in all test groups was analyzed for differences using Kruskal Wallis and continued with the Mann-Whitney test. BLEE cream’s physical stability test result show that the most stable formula is formula 1 because it is stable up to the 5th cycle. in contrast, formula 2 only goes up to the 3rd cycle, and formula 3 in the first cycle has experienced 2-phase separation. BLEE cream (F1) has antihyperpigmentation activity because it has an average melanin intensity less than the negative and positive controls.</p> Malinda Prihantini Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-23 2024-06-23 10 1 158 168 10.35311/jmpi.v10i1.492 Formulasi dan Uji Stabilitas Fisik Sediaan Lip Balm Ekstrak Etanol Buah Coppeng (Syzigium cumini) Sebagai Antioksidan http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/493 <p><strong>ABTRACT</strong></p> <p><em>Lips are a sensitive part of the face, unlike other skin which has protection, lips do not have protection. When the air is too hot or too cold, lips become dry, chapped, and painful. Therefore, you need an alternative to care for your lips, namely by using lip balm or lip moisturizer made from natural ingredients. A natural ingredient that is rich in antioxidants is coppeng fruit (Syzigium cumini). Anthocyanin compounds, phenolic acids, flavonoids and tannins of coppeng fruit (Syzigium cumini) are active compounds that function as antioxidants. Therefore, lip balm is made from coppeng fruit as an antioxidant to treat lip problems. The aim of this research is to determine the physical properties and at what concentration the coppeng fruit extract (Syzigium cumini) lip balm preparation functions as an antioxidant agent, whether F1, F2 or F3. The antioxidant activity test was carried out using the DPPH method. The results of the research showed that in the organoleptic test F0, F1, F2 and F3 met the requirements, namely semi-solid dosage form, the color of F1 was light purple, F2, F3 was dark purple and had a distinctive vanilla aroma. All preparations showed homogeneous results. The average pH test of the preparation was 5.25, the average adhesion test was 5.76/second, the irritation test on F0, F1, F2 and F3 did not irritate all respondents and the most preferred hedonic test was F1. In the antioxidant activity test, the IC50 value for F1 was 86.63989 µ/ml in the strong category, F2 was 49.3719 in the µ/ml category and F3 was 4.603502 in the very strong category.</em></p> <p><strong><em>Key words:</em></strong><em> lip balm preparation, coppeng fruit, antioxidant agent</em></p> nikma fadila Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-23 2024-06-23 10 1 169 180 10.35311/jmpi.v10i1.493 Formulasi Yogurt Sari Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) Dan Pengaruhnya Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Mencit (Mus musculus) http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/494 <p>Indonesia is a country that ranks 5th out of 10 countries with the highest number of diabetics in the world. One of the plants that can be used as an antidiabetic is the fruit of belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.). This study aims to determine the physical quality of wuluh star fruit juice yogurt and determine at what concentration wuluh star fruit juice yogurt can affect blood sugar levels of mice (Mus musculus). Mice as test animals were induced glucose and compared its effectiveness with acarbose. In this study, 5 treatment groups were used, namely giving yogurt without juice (negative control), acarbose (positive control), 0.35 ml star fruit juice yogurt, 0.50 ml star fruit juice yogurt, and 0.65 ml star fruit juice yogurt. Blood glucose measurement was done for 3 days. The results showed that star fruit juice can be formulated in the form of yogurt, and meet the standards of good physical stability, namely organoleptic test, pH, and viscosity. In the antidiabetic test, the results showed that all concentrations could affect the blood sugar levels of mice, with a decrease of 90 mg/dl at a concentration of 0.35 ml, a decrease of 92 mg/dl at a concentration of 0.50 ml, and a decrease of 100 mg/dL at a concentration of 0.65 ml. It was concluded that the most effective concentration to affect the blood sugar levels of mice was a concentration of 0.65 ml with a decrease of 100 mg/dl.</p> <p>&nbsp;</p> Rahmayanti Rahmayanti Murni Mursyid Chitra Astari Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-23 2024-06-23 10 1 181 190 10.35311/jmpi.v10i1.494 Aktivitas Antibakteri Sediaan Sabun Cair Ekstrak Daun Waru (Hibiscus tiliaceus L) Terhadap Staphylococcus aureus http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/495 <p>Skin infectious diseases in humans are a very frequent type of disease, in the human population there are about 30% colonized by Staphylococcus aureus. The skin is the main defense against bacteria if the skin is no longer protected, it will be very easily infected with bacteria, fungi, viruses, protozoa and many other small groups such as Rickettsia, Mycoplasma and Chlamydia.waru plants (Hibiscus tiliaceus L) contain saponins, flavanoids, polyphenols and triterpenoid compounds. The purpose of the study was to determine the physical quality of the waru leaf extract liquid soap formula and to determine which waru leaf extract liquid soap formula has the best inhibition zone against Staphylococcus aureus bacteria. This type of research is an experimental method. The physical quality test of liquid soap showed that the liquid soap was stable. Testing antibacterial activity using the disc diffusion method, the results obtained by the clear zone in F1 show an average value of 25.75, F2 shows an average value of 19.4, and in F3 shows 30.4. From this study, good results were obtained on the physical quality of waru leaf extract liquid soap preparations in all formulas. Of the three best formulas, F3 and provides the greatest antibacterial effect with an average inhibition zone of 30.4 with a very strong category.</p> <p><strong>Keywords</strong> : Antibacterial, Waru leaf, Liquid soap, <em>Staphylococcus aureus</em></p> Rahma Irawanda Anugrah Umar Chitra Astari Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-30 2024-06-30 10 1 191 200 10.35311/jmpi.v10i2.495 Formulation, Evaluation And Antibactery Activity Test Of Gastroretentive Mukoadhesive Granul Matrix Earthworm Extract (Lumbricus rubellus) http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/503 <p><strong>Background:</strong> Earthworm extract (<em>Lumbricus rubellus</em>) has antimicrobial activity because it produces high levels of the lumbricine compound but is easily denatured in the stomach so that its solubility and biological activity change. Therefore its Application &nbsp;can &nbsp;be developed&nbsp; in the form&nbsp; of&nbsp; gastrorentetif mucoadhesive preparation. <strong>Objectives:</strong> The purpose of this study was to optimize and evaluate the antibacterial activity of gastroretentive mucoadhesive preparation matrix of earthworm extract (<em>Lumbricus rubellus</em>). <strong>Material and </strong><strong>Methods:</strong> The matrix utilized a preparatory technique of applying wet granulation mucoadhesive polymers such as chitosan, HPMC, and sodium CMC with concentrations determined based on simple lattice design resulting in 7 granule formulas. The granule formulas obtained were then evaluated including flow time and dwell angle tests, particle size distribution tests, compressibility tests, dissolution tests, and antibacterial activity tests. <strong>Results:</strong> The results showed that the flow &nbsp;rate on the F3 granule&nbsp; formulation&nbsp; met the requirements of flow rate &nbsp;&gt;10 g/s, a consequence of measuring the angle of repose in the F1-F5 formula had good flowability which was below 30<sup>o</sup>, in contrast to F6 and F7 which had an angle of repose of 30-40<sup>o</sup> favorable to flowability. The F1-F7 formula was mostly preserved in mesh number 20 sieve with a size of 426-850 ?m, according to the results of particle size distribution utilizing the multistage sieve method, the compressibility index of the F1-F7 granule formula was 10% and the measurement results at the 30 minute showed that the average dissolution of the F1-F3 granules was 97.77%, 97.77%, and 101.22% respectively while the F4-F7 granule formulas did not show slow drug release because at the 30th minute the drug released ranged and the antibacterial activity test of Formula 1-Formula 7 granules is respectively 6 mm, 5.5 mm, 8 mm, 3.5 mm, 4.7 mm, 2.1 mm and 3.3 mm. <strong>Conclusions: </strong>The results of the evaluation of the characteristics of earthworm extract mucoadhesive gastroretentive granule preparation demonstrated that the preparation met the requirements for granule preparation and exhibited antibacterial properties. Among the seven formulas tested, formula 3 had the highest efficacy of antibacterial activity.</p> Magfirah Magfirah Syafika Alaydrus Joni Tandi Indah Kurnia Utami Niluh Puspita Dewi Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-30 2024-06-30 10 1 201 208 10.35311/jmpi.v10i1.503 Kajian Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Stroke Di RSUD DR. Rasidin Padang Periode April-Desember 2021 http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/508 <p>Terapi antihipertensi merupakan salah satu terapi preventif yang diterima pasien stroke terutama pasien stroke iskemik. Terapi antihipertensi yang tidak tepat pada pasien stroke, dapat menyebabkan perburukan kondisi pasien. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji ketepatan penggunaan obat antihipertensi pada pasien stroke di RSUD Dr. Rasidin Padang periode tahun 2021, yang meliputi, tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat, tepat dosis,dan tepat rute pemberian obat. Jenis penelitian ini adalah deskriptif observasional dengan pengambilan data secara retrospektif dari data rekam medis pasien. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah pasien rawat jalan yang didiagnosa stroke disertai hipertensi dengan atau tanpa komplikasi penyakit lain yang mendapatkan terapi antihipertensi. &nbsp;Ketepatan penggunaan obat antihipertensi dilakukan secara deskriptif, dengan cara membandingkan data yang didapat dengan rujukan yang digunakan, meliputi JNC VIII, <em>Guideline Stroke</em> yang dikeluarkan oleh PERDOSSI tahun 2011 serta Formularium Rumah Sakit RSUD Dr. Rasidin Padang. &nbsp;Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketepatan indikasi dan pasien sebanyak 60 pasien atau 100%, ketepatan penggunaan obat adalah sebanyak 57 pasien atau 95%, ketepatan penggunaan dosis adalah 100% serta ketepatan rute pemberian obat adalah sebanyak 60 pasien atau 100%. Jenis ketidaktepatan yang ditemukan adalah pemilihan kombinasi antihipertensi yang tidak tepat yaitu penggunaan kombinasi obat dari golongan yang sama. Simpulan penelitian ini adalah perlunya evaluasi penggunaan obat oleh apoteker untuk meningkatkan ketepatan penggunaan obat di RSUD Dr. Rasidin Padang.</p> <p>&nbsp;</p> Lola Azyenela Okta Fera Dedi Nofiandi Nur Fauziah Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-30 2024-06-30 10 1 209 217 10.35311/jmpi.v10i1.508 Mechanism Of Alpha Mangosteen As An Inhibitor Of Matrixmetalloproteinase-1 In Skin Cancer By In-Silico Study http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/505 <p>?-mangostin (?-MG) is a metabolite of xanthones isolated from fruit of&nbsp;<em>Garcinia mangostana</em>&nbsp;Linn pericarps. Skin cancer is one of the most common malignancies affecting many people. The development of skin cancer is mainly due to intermittent or long-term exposure to ultraviolet (UV) radiation resulting in reduced cell-mediated immune response, production of reactive oxygen species (ROS), and DNA changes. Increased levels of ROS can induce the production of matrix metalloproteinases (MMPs). ?-MG showing potential as an anti-metastatic agent with reduced the expression of MMP-1. This study aims to determine the affinity and stability profiles of ?-MG as anti-skin cancer by applying the In-Silico method. Molecular simulation of ?-MG was successfully docked to the MMP-1. ?-MG showed stable results after 100 ns molecular dynamics simulation based on the root mean square deviation (RMSD) and the root mean squared fluctuation (RMSF). The binding energies of the xanthone derivatives were calculated using the MM/PBSA method.</p> Adryan Fristiohady Arfan Arfan Rathapon Asasutjarit Lidya Agriningsih Haruna La Ode Muhammad Julian Purnama Idin Sahidin Fadhliyah Malik Rezky Marwah Kirana Laode Kardin Loly Subhiaty Idrus Muhammad Hajrul Malaka Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-30 2024-06-30 10 1 218 226 10.35311/jmpi.v10i1.505 Characteristics of Four Variants of Kombucha Tea as Candidate of Functional Health Drink http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/519 <p>Daun teh diketahui memiliki kandungan senyawa&nbsp; fenolik tinggi yang dapat menetralkan radikal bebas penyebab berbagai penyakit degeneratif. Proses fermentasi infusa daun teh dengan SCOBY (<em>Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast</em>) akan menghasilkan minuman kombucha dengan aktivitas antioksidan yang lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk membuat dan mengevaluasi minuman teh kombucha. Metode penelitian menggunakan desain eksperimental laboratorium. Minuman kombucha disiapkan dari 4 varian teh berbeda yaitu teh hitam, teh hijau, teh putih dan teh oolong. Masing-masing infusa teh ditambahkan sukrosa dan difermentasi selama 14 hari dengan kultur SCOBY. Kombucha dievaluasi karakteristiknya meliputi organoleptic, aktivitas antioksidan, uji kandungan total senyawa fenolik, total asam, total gula, dan nilai pH. Hasil penelitian menunjukkan bahwavarian teh yang digunakan mempengaruhi karakteristik kombucha yang dihasilkan. Kombucha teh hitam memiliki aktivitas antioksidan paling tinggi dengan nilai&nbsp; persentase penghambatan radikal sebesar 82.38 ± 0.08%.Kadar fenolat total dari teh kombucha berada pada rentang 0,040 – 0,082%. Proses fermentasi menghasilkan asam organik dan mengurangi kandungan gula dalam kombucha. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kombucha memiliki aktivitas menangkal radikal bebas sehingga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai minuman fungsional kesehatan<em>.</em></p> Nooryza Martihandini Imat Rochimat Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-30 2024-06-30 10 1 227 237 10.35311/jmpi.v10i1.519 Identifikasi Potentially Inappropriate Medication Pasien Geriatri Dengan Beers Criteria 2023 Dan STOPP Criteria Version 3 http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/517 <p>Pasien geriatri biasanya memiliki beberapa penyakit kronis dengan peresepan obat secara polifarmasi yang beresiko terjadinya <em>Potentially Inappropriate Medication</em> dan menyebabkan <em>Adverse Drug Events</em> (ADEs) pada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kejadian <em>Potentially Inappropriate Medication</em> dengan menggunakan <em>Beers </em>dan <em>STOPP Criteria </em>serta menganalisis hubungan antara faktor risiko PIM dengan kejadian PIM. Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif observasional secara cross-sectional. Populasi yang digunakan pada penelitian ini adalah pasien geriatri. Pengambilan data menggunakan teknik simple random sampling dengan kriteria inklusi yaitu pasien yang berusia 65 tahun keatas dengan data rekam medik lengkap, dengan kriteria eksklusi yaitu pasien yang meninggal atau dirujuk ke rumah sakit lain selama periode tahun 2023. Sebanyak 373 sampel masuk dalam&nbsp; kriteria inklusi pada penelitian ini. Hasil penelitian ini didapatkan sebanyak 12,06% kejadian PIM di rawat jalan dengan obat paling tinggi yaitu antihistamin generasi pertama (19,58%), <em>benzodiazepine</em> (15,38%), dan antipsikotik (9,09%). Sedangkan kejadian PIM di rawat inap sebesar 4,48% dengan obat yang paling tinggi yaitu kortikosteroid (20,59%), dan NSAID (11,79%). Berdasarkan hasil penelitian, diketahui terdapat korelasi yang sangat lemah antara jumlah penyakit dan jumlah obat terhadap resiko kejadian PIM.</p> I Wayan Rama Wijaya Putra Anak Agung Ngurah Putra Riana Prasetya Pande Made Desy Ratnasari Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-30 2024-06-30 10 1 238 249 10.35311/jmpi.v10i1.517 Pengaruh Suplementasi Teh Krokot (Portulaca oleraceae L.) Terhadap Penurunan Kadar Sitokin Tikus Rheumatoid Artritis http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/514 <p>Tumor Necrosis Factor Alpha (TNF-?) dan Interleukin-1 (IL-1) merupakan dua sitokini nflamasi utama yang umumnya bekerja secara sinergis untuk memperkuat responi nflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi teh Krokot (Portulaca oleracea L.) pada kadar Interleukin-1 (IL-1) tikus dengan Rheumatoida rthritis. Meskipun pada umumnya masyarakat membuat obat tradisional dalamb entuk ramuan herbal, namun kami ingin memberikan pilihan inovasi baru dengan air panas seperti teh. Metode dalam penelitian kami adalah eksperimental dengan melakukan pengukuran kadar sitokin pada serum darah tikus yang dikondisikan mengalami Rheumatoid arthritis menggunakan metode CIA. Rheumatoid faktor dalam serum pasien biasanya ditemukan melalui ekspresi dua sitokin, yaitu TNF-? dan IL-1. Data menunjukkan bahwa pemberian infus teh Krokot 7,5g/L dalam menurunkan kadar TNF-? sebesar 41,0% dan IL-1 sebesar 58,9% serta tidak berbeda nyata dengan Methylprednisolone. Kondisi autoimun yang dikenal sebagai Rheumatoid arthritis</p> <p>ditandai dengan peradangan sendi terus-menerus yang dapat membahayakan jaringan</p> <p>sendi. Hal ini terlihat dari peningkatan IL-1 dan TNF-? yang terjadi setelah perlakuan</p> <p>CIA. Pemberian tek krokot menunjukkan adanya penurunan mendekati Methylprednisolon. Hasil penelitian menunjukkan teh Krokot mampu menurunkank adar TNF-? dan IL-1 pada tikus Rheumatoid arthritis dibandingkan dengan kelompok</p> <p>kontrol.</p> Rizqi Nur Azizah Andi Maulana Kamri Ira Asmaliani Astuti Karisa Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-30 2024-06-30 10 1 250 258 10.35311/jmpi.v10i1.514 Uji Efektivitas Salep Ekstrak Biji Kopi Robusta (Coffea canephora) Terhadap Penyembuhan Luka Sayat Pada Kulit Punggung Kelinci http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/511 <p>Kopi robusta (Coffea canephora) ialah salah satu jenis kopi yang bayak dibudidayakan di<br />Indonesia serta mempunyai posisi menonjol sebagai salah satu komoditas unggulan.<br />Biji kopi diketahui mengandung sejumlah besar komponen antioksidan seperti<br />flavonoid, alkaloid, saponin, serta polifenol. Senyawa ini mempunyai sifat anti<br />inflamasi yang terbukti efektif dalam pengobatan berbagai jenis luka. Riset ini<br />bermaksud menilai efektivitas salep yang mengandung ekstrak biji kopi robusta pada<br />konsentrasi yang bervariasi untuk tujuan penyembuhan luka pada luka sayat. Jenis riset<br />ini ialah eksperimental. Formulasi salep dibuat menggunakan ekstrak biji kopi Robusta.<br />Riset ini memanfaatkan tiga hewan uji serta lima kelompok perlakuan yang meliputi<br />salep dengan kandungan ekstrak biji kopi Robusta 20%, 30%, serta 40%, kontrol positif,<br />serta kontrol negatif. Semua kelinci diberikan luka sepanjang 2 cm serta kedalaman 0,1<br />cm. Salep yang diuji dioleskan dua kali sehari pada luka selama dua minggu. Seluruh<br />data kuantitatif diuji secara statistic menggunakan ANOVA (Analysis Of Varian).<br />Temuan riset memperlihatkan pada hari ke-8 dan ke-9, luka pada kontrol positif dan<br />konsentrasi 40% sudah menutup dan tidak terdapat keropeng. Hasil uji statistik<br />memperlihatkan salep ekstrak biji kopi robusta berpengaruh terhadap parameter<br />panjang luka pada kelinci yaitu sebesar 0,003 (p?0,05). Berlandaskan temuan riset,<br />disimpulkan bahwa formulasi salep ekstrak biji kopi Robusta menciptakan sediaan<br />yang memenuhi kriteria serta konsentrasi yang ditentukan yakni signifikasi untuk<br />konsentrasi 20% terhadap kontrol negatif sebesar 0.041, nilai signifikasi konsentrasi 30%<br />terhadap kontrol negatif sebesar 0.039 dan nilai signifikasi konsentrasi 40% terhadap<br />kontrol negatif sebesar 0.001 memberikan efektivitas dalam mempercepat proses<br />penyembuhan luka sayatan pada kelinci.</p> Anis Fitria Yuliani Galih Samodra Desy Nawangsari Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-30 2024-06-30 10 1 259 267 10.35311/jmpi.v10i1.511 Identifikasi Metabolit Bioaktif pada Asam Jawa (Tamarindus indica L.) menggunakan Komputasi Dinamika Molekuler untuk Penargetan HER-2 Kanker Payudara http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/520 <p>The HER-2 (Human EGF Receptor-2) receptor is a receptor known to be strongly correlated with carcinogenesis and a worse prognosis in breast cancer patients. One of the native Indonesian plants that has been reported to inhibit breast cancer growth is tamarind (Tamarindus indica L.) which is known to contain various active metabolites. However, until now, the molecular activity of each of these metabolites has not been known. and one of the highly accurate simulation methods commonly used is molecular dynamics simulation. This study aims to understand the binding stability of active metabolites in tamarind computationally using molecular dynamics. The simulation begins with the preparation of 3D structures of ligands and receptors. The ligand of active metabolite from tamarind tree was obtained from KnapSack natural compound database, and the 3D structure of HER-2 receptor was obtained from PDB site with code 3PP0 and resolution of 2.25 Å. Furthermore, molecular tethering was performed using Autodock4 software. A high-performance computer was used for molecular dynamics simulation with Gromacs 2016 software for 100 nanoseconds (ns). Afterwards, molecular affinity analysis was performed, including RMSD (Root Mean Square Deviation) and RMSF (Root Mean Square Fluctuation). The analysis results showed that of the 6 compounds found in tamarind plants, the orientin compound showed the most favorable molecular Tethering activity with a value of -8.41 Kcal/mol. Although still higher than the natural ligand, the value is close to the value of the natural ligand with a difference of 1.8 Kcal/mol, which is -10.21 Kcal/mol. Furthermore, orientin showed very similar stability to the native ligand, as observed from the RMSD and RMSF analysis. In conclusion, the compound orientin found in tamarind has the potential to be a lead compound for inhibiting HER-2 in breast cancer.</p> Dwi Syah Fitra Ramadhan Ni Luh Astri Indraswari Supartina Hakim Rusli Rusli Nurisyah Nurisyah Asyhari Asikin Taufik Muhammad Fakih M Aksar Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-30 2024-06-30 10 1 268 279 10.35311/jmpi.v10i1.520 Evaluasi Morfologi Organ Pankreas Tikus Wistar Model Diabetes Melitus oleh Ekstrak Purifikasi Daun Galing (Cayratia trifolia L. Domin) Sebagai Antidiabetes http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/518 <p>Diabetes mellitus (DM) merupakan kelainan sistem endokrin ditandai dengan kadar glukosa darah melebihi normal akibat kekurangan hormon insulin yang disekresi sel beta pangkreas yang mengalami kerusakan, sehingga perbaikan sel beta pangkreas menjadi alternatif penting dalam terapi penderita DM. Tumbuhan galing (<em>Cayratia trifolia</em> L. Domin) dilaporkan terbukti menurunkan kadar glukosa darah pada hewan coba DM tipe 2, sehingga&nbsp; berpotensi dalam memperbaiki fungsi dan regenerasi sel beta pancreas pada penderita DM. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perbaikan morfologi organ pankreas &nbsp;tikus putih jantan galur wistar DM setelah diberi ekstrak purifikasi daun galing. Jenis penelitian ini adalah eksperimen dengan rancangan <em>post test with control group design</em>, sebanyak 20 ekor tikus wistar jantan dibagi dalam kelompok kontrol normal (non DM), kontrol negatif (DM+Na.CMC), kontrol positif (DM+glibenklamid 0,09 mg/gBB) dan perlakuan sampel (DM+ekstrak purifikasi daun galing 0,4 mg/g BB). Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian ekstrak terpurifikasi daun galing dosis 0,4 mg/g BB terbukti memiliki efek perbaikan morfologi dan regenerasi sel endokrin pulau langerhans organ pankreas tikus wistar yang mengalami DM, sehingga dapat disimpulkan bahwa tumbuhan galing berpotensi untuk dikembangkan sebagai antidiabetes oral untuk alternatif penaganan penyakit DM tipe 2.</p> Muhammad Ilyas Y Bambang Bambang Apriyanto Apriyanto Adriatman Rasak Asriullah Jabbar Nasrudin Nasrudin Wahyuni Wahyuni Fadhliyah Malik Halik Halik Sry Susanty Mubarak Mubarak Zulkifli Halid Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-30 2024-06-30 10 1 280 289 10.35311/jmpi.v10i1.518 Formulasi dan Penentuan Nilai SPF Lip Balm Ekstrak Kulit Buah Delima Hitam (Punica granatum L.) dengan Variasi Konsentrasi Basis Beeswax dan Carnauba Wax http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/516 <p>Bibir merupakan bagian pada wajah yang mempengaruhi persepsi estetis. Bibir merupakan bagian yang rentan terhadap kerusakan yang disebabkan oleh lingkungan seperti sinar matahari. Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan menggunakan <em>lip balm</em> yang mengandung tabir surya. Efektivitas sediaan tabir surya didasarkan pada nilai <em>Sun Protection Factor</em> (SPF) yang menunjukkan kemampuan produk tabir surya dalam melindungi kulit dari paparan sinar UV.&nbsp; Ekstrak kulit delima hitam dengan konsentrasi 0,5% telah teruji memiliki nilai SPF yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan formulasi sediaan <em>lip balm</em> ekstrak kulit delima hitam (<em>Punica granatum</em> L.) dengan basis <em>beeswax</em> dan <em>carnauba wax</em>. Kulit delima hitam dilakukan ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan etanol 96%. Sediaan <em>lip balm</em> dibuat dalam 4 formula dengan perbandingan basis <em>beeswax</em> dan <em>carnauba wax</em> yaitu F1(1%:10%), F2(3%:8%), F3(5%:6%), F4(7%:4%) Pengujian terhadap sediaan <em>lip balm</em> meliputi uji organoleptis, uji homogenitas, pengukuran pH, uji iritasi, uji daya lekat, uji daya sebar, uji kelembapan, uji kesukaan, uji daya oles, uji viskositas, dan uji SPF. Pengujian aktivitas tabir surya <em>lip balm</em> ekstrak kulit delima hitam dilakukan dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Berdasarkan uji fisik, nilai SPF, dan uji statistik, F4 dengan konsentrasi <em>beeswax</em> dan <em>carnauba wax</em> 7%:4% merupakan formula terbaik.</p> Nur Cholis Endriyatno Muhammad Walid Kamillia Nurani Alfaena Laila Aifa Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-30 2024-06-30 10 1 290 301 10.35311/jmpi.v10i1.516 Formulasi Sediaan Krim Ekstrak Daun Petai Cina (Leucaena leucocephala Lam) pada Proses Penyembuhan Luka Insisi terhadap Kelinci (Oryctolagus cuniculus http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/521 <p>Chinese petai leaves (<em>Leucaena leucocephala</em> Lam) have metabolite compounds that can heal incisional wounds, namely flavonoid and saponin compounds which are made in cream dosage form. An incisional wound is a wound caused by a sharp instrument cutting the skin and underlying tissue. The aim of this research was to determine the physical properties of the cream and the percentage of treatment of incisional wounds by petai cina leaf extract cream. The method used was an experimental method with 6 test treatment groups. Group 1 was positive control <em>(Povidone iodine ointment</em>), group 2 was negative control (cream base), group 3 was 4% concentration, group 4 was 8% concentration, group 5 was 16% concentration, and group 6 was without treatment. The extraction method is by remaceration using 70% ethanol solvent. The results of the research show that the physical properties in the organoleptic test have a distinctive odor, brown color with a semi-solid shape. The homogeneity test shows that the cream is homogeneous with a spreadability of 5.48 cm ± 0.2, a sticking force of 12.56 seconds ± 0.19, pH range of 5.8 ± 0.12, and viscosity of 1293 ± 0.04 which meets the range test the physical properties of the cream preparation. The incision wound healing test showed that concentrations of 8% and 16% could provide a fast wound healing effect for 10 days with a wound healing percentage of 100%. It can be concluded that the formulated cream meets the requirements and the cream can heal incisional wounds with a percentage of 100% for 10 days.</p> Ichi Aprilia Ningtyas Rani Prabandari Desy Nawangsari Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-07-05 2024-07-05 10 1 302 313 10.35311/jmpi.v10i1.521 Uji Aktivitas Antibakteri dan Antibiofilm Fraksi Ekstrak Daun Gamal (Gliricidia Sepium (Jacq Walp)) Terhadap Staphylococcus Aureus ATCC 25923 http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/484 <p>Daun gamal (<em>Gliricidia sepium</em> (Jacq Walp)) di dalamnya terkandung zat flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, dan terpenoid. Senyawa dalam daun gamal mempunyai sifat uang antibakteri. Tujuan dari penelitian ini yakni untuk mengetahui bagaimana peran ekstrak serta fraksi n-heksana, etil asetat, serta air terhadap aktivitas antibakteri dengan menghambat pembentukan dan degradasi biofilm. Metode maserasi digunakan untuk mengekstraksi daun gamal menggunakan pelarut etanol 96%. Ekstrak kental dilakukan fraksinasi dengan pelarut n-heksana, air, serta etil asetat. Uji aktivitas antibakteri dilaksanakan melalui metode dilusi dilanjutkan observasi pengaruh kerja melalui uji AAS kebocoran ion. Uji aktivitas antibiofilm menggunakan alat microplate serta pembacaannya dilaksanakan pada panjang gelombang 595 nm. Hasil penelitian bahwa fraksi etil asetat daun gamal teraktif terhadap bakteri <em>S. aureus</em>. Fraksi etil asetat daung gamal dapat merusak pada membran sel bakteri. Rata-rata persentase penghambatan pembentukan biofilm terhadap <em>S. aureus</em> terbesara di konsentrasi 50%, yaitu fraksi etil asetat sebanyak 40,69%, ekstrak 37,51%, fraksi n-heksana 28,93% dan fraksi air 30,20%, sedangkan rata-rata persentase degradasi biofilm terlihat yang tertinggi adalah fraksi etil asetat dengan konsentrasi 50% yaitu sebesar 37,27%, ekstrak 34,55%, fraksi air 31,77%, fraksi n-heksan nilai 30,05%. Kontrol positif (Tetrasiklin) memiliki aktivitas dengan nilai 51,66 %.</p> Herman Herman Titik Sunarni Opstaria Saptarini Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-06-30 2024-06-30 10 1 314 327 10.35311/jmpi.v10i1.484 Analisis Fitokimia dan Karakterisasi Masker Gel Peel-Off Ekstrak Etanol Daun Murbei (Morus alba L.) http://jurnal-pharmaconmw.com/jmpi/index.php/jmpi/article/view/528 <p>Daun <em>Morus alba</em> L, yang dikenal sebagai murbei, memiliki efektivitas untuk mengobati jerawat. Komponen aktif dalam daun murbei, seperti tanin, saponin, dan flavonoid, memiliki fungsi antibakteri. Dalam studi ini, ekstrak etanol dari daun murbei diolah sebagai masker <em>gel peel-off</em>. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengeksplorasi bagaimana berbagai tingkat konsentrasi ekstrak mempengaruhi karakteristik fisik dari masker. Ekstrak didapatkan dengan maserasi menggunakan etanol 70% sebagai pelarut, diikuti dengan skrining fitokimia pada ekstrak tersebut. Konsentrasi ekstrak yang digunakan adalah 3%, 6%, dan 9%. Uji yang dilakukan pada formulasi masker <em>gel peel-off </em>diantaranya pemeriksaan homogenitas, organoleptis, pengujian daya sebar, pengukuran pH, serta uji waktu pengeringan dan viskositas. Hasil skrining fitokimia menunjukkan keberadaan polifenol, saponin, tannin, alkaloid, dan flavonoid dalam ekstrak. Dengan konsentrasi yang bervariasi, ekstrak etanol daun murbei berhasil diintegrasikan ke dalam formulasi masker <em>gel peel-off</em>. Evaluasi sifat fisik masker menunjukkan formula memenuhi standar kualitas yang ditetapkan, termasuk dalam hal penampilan fisik, nilai pH, homogenitas, viskositas, daya sebar, dan waktu pengeringan. Ditemukan bahwa perbedaan konsentrasi ekstrak memberikan dampak pada karakteristik fisik masker <em>gel peel-off.</em></p> Dwi Larasati Luthfi Septianti Artika Putri Edhita Putri Daryanti Arviani Arviani Najmah Najmah Copyright (c) 2024 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2024-07-12 2024-07-12 10 1 328 337 10.35311/jmpi.v10i1.528